Kodifikasi Weda Dan Materi Kodifikasi Weda

Kodifikasi Weda

A. Pengertian Kodifikasi Weda
Kodifikasai Weda adalah proses pengumpulan berbagai mantram veda menjadi buku-buku.
Kodifikasai Weda dimulai saat ilmu menulis dikenal ± 800 SM
B. Sistem Kodifikasi Weda
1. Didasarkan usia ayat termasuk tempat geografis diturunkan ayat- ayat Veda.
2. Didasarkan system pengelompokan isi, fungsi dan guna mantram.
3. Didasarkan atas resensi menurut system keluarga/kelompok Geneologi.
C. Pengelompokan Weda

Weda (SanskertaवेदVid, “ilmupengetahuan“) adalah kitab suciagama HinduWedamerupakan kumpulan sastra-sastra kuno dari zaman India Kuno yang jumlahnya sangat banyak dan luas. Dalam ajaran Hindu, Weda termasuk dalam golongan Sruti (secara harfiah berarti “yang didengar”), karena umat Hindu percaya bahwa isi Weda merupakan kumpulan wahyu dari Brahman (Tuhan). Weda diyakini sebagai sastra tertua dalam peradaban manusia yang masih ada hingga saat ini. Pada masa awal turunnya wahyu, Weda diturunkan/diajarkan dengan sistem lisan — pengajaran dari mulut ke mulut, yang mana pada masa itu tulisan belum ditemukan — dari guru ke siswa. Setelah tulisan ditemukan, para Resi menuangkan ajaran-ajaran Weda ke dalam bentuk tulisan.[1] Kodifikasi Weda bersifat apaurusheya, karena berasal dari wahyu, tidak dikarang oleh manusia, dan abadi.[2] Maharesi Byasa, menyusun kembali Weda dan membagi Weda menjadi empat bagian utama, yaitu: RegwedaYajurwedaSamaweda dan Atharwaweda. Semua itu disusun pada masa awal Kaliyuga 

Kodifikasi Weda
A. WEDA SRUTI DAN WEDA SMRTI




Berdasarkan sistim pertimbangan materi dan luas ruang lingkup isinya, jumlah jenis buku

Weda itu banyak. Weda itu mencakup berbagai aspek kehidupan yang menyangkut manusia.

Maha Rsi Manu membagijenis isi Weda itu kedalam dua kelompok besar yang disebut.

1. Weda Sruti

2. Weda Smrti




'Pembagian dalam dua jenis ini dipakai selanjutnya untuk menamakan semua jenis buku

yang dikelompokkan sebagai kitab Weda baik secara tradisional maupun secara institusional

ilmiah' Kelompok Weda Sruti isinya hanya memuat wahyu sedangkan kelompok smrti isinya

adalah sebagai ingatan kembaliterhadap Sruti. Jadi Smrti merupakan, buku pedoman yang isinya

tidak bertentangan dengan Sruti. Bila dibandingkan dengan ilmu politik Sruti adala merupakan

UUD nya Hindu sedangkan Smrti adalah UU. Pokok dan UU. Pelaksanaannya adalah Nibandha.

Kedua-duanya merupakan sumber Hukqm yang mengikat yang harus diterima. Oleh karena itu

"Bhagawan Manu" menegaskan dalam kitabnya "Manawa Dharmasastra" ll 10. sebagai berikut:




Srutistu Wedo Wiineyo dharmacastram tu wai Smrtih. te sartwarhawam imamsyo tabhyam

dharmohi nirba bhau.




Artinya

Sesungguhnya Sruti (wahyu) adalah Weda demikian pula Smrti itu adatah Dharmasastra.

keduanya harus tidak boleh diragukan dalam hal apapun juga karena keduanya adatah kitab

suci yang menjadi umber dari agama Hindu, (Dharma).(Manawa Dharma Sasfra. lt. 10)







KODIFIKASI WEDA




1. Weda Sruti




Kata Sruti sesungguhnya berasal dari bahasa Sanskerta, dari akar kata Crt. yang berarti

mendengar langsung. JadiWeda Sruti adalah Kelompok Weda yang ditulis oleh para Maha Rsi

melalui pendengaran langsung dariwahyu lda Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan.

Kelompok Weda Sruti menurut Bhagawan Manu merupakan Weda yang sebenarnya ada

weda orisinal. Menurut sifat isinya weda ini dibagi atas tiga bagian yaitu:

1) Bagian Mantra

2) Bagian Brahmana (Karma Kanda)

3) Bagian Upanisad/ Arnyaka (Jnana Kanda)







Bagian mantra terdiri dari empat himpunan (samhita) yang disebut catur wedasamhita, yaitu:

1) Rg. Weda atau Rg. Wedasamhita

2) Sama Weda atau Samawedasamhita

3) Yayur Weda atau yayunirredasamhita

4) Atharwa Weda atau Athanvawedasamhita




Dari keempat kelompok weda itu, tiga kelompok pertama sering disebut-sebut

sebagai mantra yang berdiri sendiri. Karena itu disebut rrayi weda atau ,,iri weda,,

Pengenalan catur weda hanya karena kenyataan weda ini secara sistimatik telah

dikelompokan atas empat weda. Pembagian empat kelompok isi weda itu yaitu:




1. Rg weda samhita; merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran-alaran

    umum daram bentuk pujaan (Rc atau Rca's) Arc = memuja (Arc v Rc)

2. sama weda samhita; merupakan kumpuran mantra-mantra memuat ajaran umum

    mengenai laguJagu pujaan, atau saman




3. Yayur weda samhita; merupakan kumpuran mantra-mantra yang memuat ajaran

     umum mengenai pokok-pokok yajna (yajus, pluralnya yajumsi). Jenis weda ini ada

     dua macam yaitu:




     a'   Yajur weda hitam (Kresna yajunueda) yang terdiri atas beberapa resensi antara

           lain: Taitiriya samhita dan Maitrayanisamhita.




     b'  Yajur weda putih (sukla yajurweda), yang juga disebut Maitraneyi samhita.




4.  Athanua weda samhita; merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran

     yang bersifat magis (Atharwan).




Kitab Rg' weda merupakan kumpulan dari ayat-ayat tertentu. Kitab ini dikumpulkan

dalam berbagaijenis resensi, seperti resensi sakala, Baskala, Aswalayana, sankhyayana,

dan Madukeya' Darilima macam resensiiniyang masih t"rp"iihrrr;,atli;nsisakata,

sedangkan resensi-resensi lainnya banyak yang tidak sempurna lagi karena mantra-

mantranya hilang.




Di dalam mempejari ajaran_ajaran

berpedoman pada resensi Sakala untuk

Weda itu.




Hindu itu dewasa ini para sarjana umumnya

mengetahui ajaran yang terdapat di dalam Rg.




Berdasarkan resensi itu, Rg. weda samhita terdiri atas 1017 hymna atau lL2gmantra

termasuk bagian mantra walakhitanya. Atau disebut pula terdiri atas 105g0,12 stanza atau

153826 kata-kata atau 432000 suku kata.




Rg' weda terbagi atas 10 Mandala yang tidak sama panjangnya. Disamping pembagian

atau 10 Mandara, Rg. weda dibagi pura atas g bagian yang disebut ,,Astaka,, Mandala

2 - 8 merupakan himpunan ayat-ayat dari keluarga-keluarga Maha Rsi tunggal, sedangkan

mandala 1 , 9 dan 10 merupakan himpunan ayat-ayat dari banyak maha Rsi.




Samaweda terdiri atas mantra-mantra yang berasal dari Rg. Weda. Menurut penelitian

Samaweda terdiri atas 1810 mantra, atau kadang-kadang ada yang mengatakan 1875.

Samaweda terbagi atas dua bagian yaitu.

1)" Bagian Arcika terdiri atas mantra-mantra pujaan yang bersumber pada Rg. Weda

2)., Bagian Uttararcika, yaitu himpunan mantra-mantra yang bersifat tambahan. Kitab ini

terdiri atas beberapa buku nyanyian pujaan (gana). Dari kitab-kitab yang ada yang

masih dapat kita jumpai antara lain:




Ranayaniya, Kautama dan Jaiminiya (Talawakara). Walaupun demikian di dalam

usaha penulisan kembali kitab Samaweda itu telah diusahakan sedemikian rupa

supaya tidak banyak yang hilang.




Yajur Weda terdiri atas mantra-mantra yang sebagian besar berasal dari Rg. Weda.

ditambah dengan beberapa mintra tambahan baru. Tambahan ini umumnya berbentuk

prosa. Menurut Bhagawan Patanjali, kitab ini terdiri atas 101 resensi yang sebagian besar

sudah lenyap. Kitab ini terbagi atas dua aliran, yaitu:




1) Yajur Weda hitam (krsna Yajur Weda). Kitab ini terdiri atas 4 resensi yaitu:

a. Katakhassamhita

b. Mapisthalakathasamhita

c. Maitrayamisamhita

d. Taithiriyasamhita (Terdiri atas dua aliran yaitu Apastamba dan Hiranyakesin)

2), Yajur Weda putih (Sukla yajurweda, juga dikenal Wajasaneyi samhita). Kitab ini terdiri

atas dua resensi yaitu:

a. Kanwa, dan

b. Madhayandina




Antara kedua resensi itu hanya terdapat sedikit perbedaan Yayur Weda putih ini

terdiri atas 1975 mantra yang isinya umumnya menguraikan berbagai jenis yajna besar

seperti: Wajapeya, Rajasuya, Asmawedha, Sarmawedha dan berbagaijenis yajna lainnya.

Bagian terakhir dari Weda ini memuat ayat-ayat yang kemudian dijadikan lsopanisad.




Perbedaan pokok antara Yajur Weda Putih dengan Yajur Weda hitam hanya sedikit

saja. Yajur Weda putih terdiri atas mantra-mantra dan doa-doa yang harus diucapkan

pendeta di dalam upacara, sedangkan mantra-mantra didalam Yajunrueda hitam terdapat

pula mantra-mantra yang menguraikan arti Yajna. Bagian terakhir ini merupakan bagian

tertua dari Yayur Weda itu. Didalam Weda ini kita jumpai pula pokok-pokok upacara

"Darsapurnamasa" yaitu: upacara yang harus dilakukan pada saat-saat bulan purnama

dan bulan gelap, disamping berbagai jenis upacara-upacara besar yang penting artinya

dilakukan setiap harinya.




Atharwa Weda yang disebut atharurawedangira, merupakan kumpulan-kumpulan

mantra-mantra yang juga banyak berasal dari Rj. Weda. Kitab ini memiliki 5987 mantra

(puisi dan prosa). Kitab ini terpelihara dalam dua resensiyaitu:

a.. Resensi Saunaka. Resensi ini paling terkenal dan terbagi atas 21 buku

b. Resensi Paipplada




ad.2. Bagian Brahmana (Karma Kanda)




Bagian kedua yang terpenting dari kitab Sruti ini adalah bagian yang disebut

"Brahmana" atau "Karma Kanda", Himpunan buku-buku ini disebut Brahmana. Tiaptiap

mantra (Rg. Weda, Sama Weda, Yajur Weda dan Atharura Weda) memiliki Brahmana.

Brahmana berarti doa. Jadi kitab Brahmana adalah kitab yang berisi himpunan doa-doa

yang dipergunakan untuk keperluan upacara ya1na.Kadang-kadang Brahmana diartikan

penjelasan yang menjelaskan arti kata ucapan mantra.

Kitab Rg. Weda memiliki dua jenis buku' Brahmana yaitu : Aitareya Brahmana dan

Kausitaki Brahmana (Sankyana Brahmana). Kitab Brahmana yang pertama terdiri atas 40

Bab, dan yang kedua terdiri atas 30 Bab.




Kitab Samaweda memiliki kitab Tandnya Brahmana yang juga sering dikenal dengan

nama "Pancawimsa ". Kitab ini memuat legenda (ceritera-ceritera kuno) yang dikaitkan

dengan upacara Yajna. Disamping itu ada pula "Sadwimsa Brahmana" Kitab ini terbagi atas

25 buku dimana bagian terakhir yang terkenal adalah kitab "Adhuta Brahmana" merupakan

jenis "Wedangga" yang memuat mengenai ramalan-ramalan dan penjelasan mengenai

berbagai mujijat.




Kitab Yajunveda memiliki beberapa kitab "Brahaman" Yajur weda hitam (krsna Yajur

Weda) memiliki Taittiriya Brahmana.




Yajur Weda putih (Sukla Yajurweda) memiliki Satapatha Brahmana. Nama ini disebut

demikian karena kitab ini terdiri atas 100 adhyana. Bagian terakhir dari kitab ini merupakan

sumber bagian kitab "Brhadaranyakapanisad". Di dalam kitab Brahmana ini mula-mula kita

jumpai ceritra Sakuntala, Pururawa, Unr,rrasi dan ceritra-ceritra tentang ikan.




Atharu,ra Weda ini memiliki kitab "Gopatha Brahmana"




 .3. Bagian Upanisad/Aranyaka




Aranyaka atau Upanisad adalah himpunan mantra-mantra yang membahas berbagai

aspek teori mengenai ke Tuhanan. Himpunan ini merupakan bagian teori mengenai ke

Tuhanan. Himpunan ini merupakan bagian Jnana Kanda dari pada Weda Sruti.




Sebagaimana halnya dengan tiaptiap mantra memiliki kitab Brahmana. Demikian

pula tiap-tiap mantra memiliki kitab-kitab Aranyaka atau Upanisad. Kelompok kitab-kitab ini

disebut rahasya Jnana karena isinya membahas hal-hal yang bersifat rahasia.




Di dalam penelitian berbagai naskah kitab suci Hindu Dr. G. Sriniwasa Murti didalam

introdusi kitab saiwa Upanisad mengemukakan bahwa tiaptiap caka (cabang ilmu)Weda

merupakan satu upanisad. Dari catatan yang ada:

1. Rg. Weda terdiri dari 21 sakha

2. Sama Weda terdiri atas 1000 sakha

3. Yajur Weda terdiri atas 109 sakha, dan

4. Athanva Weda terdiri atas 50 sakha




Berdasarkan jumlah sakha itu, yaitu 1180 sakha, maka jumlah upanisad seyogyanya

ada banyak 1180 buah buku tetapi berdasarkan catatan Muktikopanisad, jumlah upanisad

yang disebut secara tegas adalah sebanyak 108 buah buku. Adapun perincian dari pada

kitab-kitab Upanisad itu adalah sebagai berikut:




1. Upanisad yang tergolong jenis Rg. Weda yaitu antara lain:

Aitareya, Kausitaki, Nada-bindu, Atmaprabedha, Ninvana, Mudgala, Aksamalika, Tripura,

Saubhagya, dan Bahwrca lJpanisad, yang semuanya berjumlah sepuluh Upanisad.




2. Upanisad yang tergolong jenis Sama Weda yaitu antara lain:

Kena, Chandogya, Aruni, Maitrayani, Maitreyi, Wajrasucika, Yogacudamani, Wasudewa,

Mahat, Sanyasa, Awyaka, Kondika, Sawitri, Rudrasajabala, Darsana dan Jabali.

Semuanya berjumlah enambelas Upanisad.




3. Upanisad yang tergolong jenis Yajunrrreda, yaitu antara lain:

a. Untuk jenis Yajur Weda Hitam, terdiri atas

    Kathawali, Taittriyaka, Brahma, Kaiwalya, Swetaswastara, Garbha, Narayana,

    Amrtabindu, Asartanada, Katagnirudra, Kausika, Sarurrasara, Sukharahasya,

    Tejebindu, Sakanda, Sariraka, Yogasikha, Ekaksara, Aksi, Awad huta, Pranagni kotra,

    Wahara, Kalisandarana, dan Saraswatirahasya, semuanya berjumlah tigapuluh dua

    Upanisad.




b. Untuk jenis Yajur Weda putih, terdiri dari :

    lsawasya, Brhadaranyaka, Jabala, Hamsa, Prramahamsa, Subata, Matrika,

    Niralambha, Trisikhibrahmana, Mandala brahmana, Adwanyataraka,

    Pinggalabhiksu, Turiyatita, Adhyatma, Tarasara, Yajnawalkya, Satyayani dan

    Muktika. Semuanya berjumlah sembilan belas Upanisad.




4. Upanisad yang tergolong jenis Athanrua Weda, yaitu antara lain:

    Prana, Munduka, Mandukya, Athanruasira, Athanrua sikha, Brhajjabala, Nrsimhatapini,

    Naradapariwrajaka, sita, sarabha, Mahanarayana, Ramarahasya, Ramatapini,

    Sandilya, Paramahamsapariwrajaka, Annapurna, surya, Atma, pasupata, parabrahma,

    Tripuratapini, Dewi, Bhawana, Brahma, Gamapati, Mahawakya, Gopalatapini, Krsna,

    Hayagriwa, Dattatreya, dan Garuda Upanisad.




Semuanya berjumlah tiga puluh satu upanisad.

Dengan memperhatikan deretan nama-nama kelompok Mantra, Brahmana, dan Upanisad

diatas' jelas bahwa kitab sruti meliputijumlah yang cukup banyak. Untuk mendalami dharma,

semua buku-buku itu adalah merupakan sumber utama dan kedudukannya mulak perlu di hayati.




2. Weda Smrti




smerti  merupakan kitab suci agama Hindu, sesudah veda cruti. Kitab smrti memuat

tentang ajaran hukum agama Hindu, yang juga disebut Dharma atau Dharma Sastra. Dharma

berartr hukum dan sastra berarti ilmu.




Dharma sastra berarti ilmu hukum agama Hindu. Kata smrti berasal dari bahasa

sansekerta dari kata smrta (neuter) berarti: ingatan, menjadi kata smrti (feminime) berarti:

ingatan. kenangan, tradisi yang berwenang.




Kitab smrti adalah kitab suci veda yang ditulis berdasarkan ingatan oleh para Maharesi

dari wahyu sang Hyang widhi / Tuhan Yang Maha Esa. Kitab smrti adalah kitab Veda juga,

karena fungsi dan kedudukannya dipersamakan dengan kitab veda cruti.




Keterangan tentang hal tersebut di atas, kita temukan dalam beberapa kitab agama

Hindu antara lain:




a. Kitab Menawa Dharma Sastra Bab il.10 menyebutkan sebagai berikut:




Crutistu Wedo Wijneyo

dharmacastram tu wai smrlih

te sa rwarthes wa m i m a n sye

ta bhyam d h a rmoh i n i rbabh a u




artinya:




Yang dimaksud dengan cruti ialah weda dan dengan smrti adatah Dharma sasfra,

kedua macam pustaka suci ini tidak boleh diragu-ragukan kebenarannya mengenai

apapun juga karena dari keduanya itu hukum ini.




b. Kitab Sarasamuscya 37, menyebutkan sebagai berikut:




Crutiwedah samakhyato

dharmacastram tu wai smftih,

te sarwatheswam imamsye

tabhyam dharmo winir bhrtah




Nyang ujarekena sakareng, Cruti ngaranya

Dharma Sasfra Smfti ngaranira, Sang Hyang




Sang Hyang Catur Weda, Sang Hyang

Cruti lawan Sang Hyang Smrti sira juga

pramanakena, tutakena waramawarah nira, ring asing prayaiona, iawat mangkana

paripurna alem Sang Hyang Dharma Prawrtti




Artinya:

yang akan dibicarakan sekarang Cruti namanya catur weda, Dharmasastra smrti. Cruti

dan smrti, keduanya supaya dijadikan jalan, supaya dituruti ajarannya untuk setiap

usaha, selama demikian halnya, maka sempurnalah dalam berbuat dharma.




c. Kitab Bhagavad Gita XVl. 23, menyebutkan:




yah sastravidhim utsriiYa

vartate kamakaratah

na sa siddhim avaPnoti

na sukham na Param gatim




Artinya:




Tetapi ia yang tidak

dorongan keinginan

teftinggi.




^"n)ror*ati ajaran-aiaran kitabsuci sasfra dan berbuat atas

belaka tak mencapai kesempurnaan, kebahagiaan dan tuiuan




Berdasarkan ketiga uraian di atas, dengan jelas dapat kita pahami bahwa Smrt

merupakan kitab suci agama Hindu.

Smrti adalah kitab suci Weda yang ditulis berdasarkan ingatan oleh para Maharesr

bersumberkan pada Veda Cruti. Dengan demikian isi kitab-kitab Smrti tidak boleh bertentangan

dengan Weda Cruti.




Kitab Smrti adalah merupakan kitab pendukung dan penjelasan dari kitab Weda Cruti.

yang ditulis oleh banyak Maharesi. oleh karena itu pergunakanlah kitab-kitab sastra sebagat

petunjuk untuk menentukan tentang segala sesuatu yang harus kita kerjakan dan untuk dapat

mengetahui apa yang patut kita kerjakan.




Beberapa kitab suci agama Hindu yang termasuk kitab Smrti, antara lain : Mananra

Dharma Sastra, Sarasamuccaya, Clokantara, Tattwa Suksma, Bharatayudhya, Yoga Sura

Ramayana, Niti sastra, cilakrama, Manu Smrti, Yajna Pawitra dan Brahmanda Purana'

Kitab-kitab suci yang tergolong jenis kitab Smrti itu banyak jumlahnya, dan penulisnyapun

banyak pula. Hal semacam ini disebabkan oleh munculnya berbagai macam kebutuham

masyarakat (umat Hindu) yang diisyaratkan oleh Veda dalam mencapai keadilan, keamanam'

kesejahteraan dan kebahagiaan hidup.




Untuk dapat mengamalkan Veda secara benar di dalam upaya mewujudkan tujuan hidup

secara rohani dan jasmani, jenis kitab-kitab Smrti perlu dipergunakan sebagai pedoman hidup

(dipedomani).

Berdasarkan kebiasaan yang telah berjalan, jenis kitab-kitab Smrti dikelompokkan

menjadidua (2) kelompok besar, yang terdiridari:

a. Kelompok Vedangga

b. Kelompok Upaveda




a. Jenis atau kelompok Vedangga




Kata Vedangga, terdiri dari kata : Veda dan Angga (bahasa Sansekerta). Veda berarti

ilmu pengetahuan suci dan angga berarti bagian, anggota, badan, sumber, dasar.




Vedangga berarti batang tubuh dari Veda. Untuk dapat mempelajari, memahami,

dan mendalami Veda dengan baik, kita hendaknya terlebih dahulu mendalamiVedangga.

vedangga sebagai kitab smrti, terdiri dari beberapa kitab, antara lain :




1) Siksa (Phonetika) .




Siksa adalah kitab Vedangga yang isinya menguraikan tentang petunjuk-

petunjuk tata cara mengucapkan mantra yang tepat sesuai dengan tinggi-rendahnya

tekanan suara.

Untuk dapat mengucapkan mantra (Weda Cruti) dengan baik, fungsi kitab

siksa ini adalah sangat penting. Dalam hubungannya dengan mempelajari mantra

(Weda Cruti) kitab-kitab siksa, juga disebut dengan nama pratisakhya.

Adapun kitab-kitab pratisakhya yang masih sampai saat ini adalah :

a) Rg. Veda Pratisakhya

b) Taittiriya Pratisakhya Sutra

c) Wajasaneyi Pratisakhya Sutra

d) Sama Pratisakhya

e) Athanva Weda pratisakhya Sutra




2) Wyakarana (Tata Bahasa)




Kitab Wyakarana isinya menguraikan tentang tata bahasa, untuk dapat

menghayati Veda dengan benar, kecil kemungkinannya dapat diketahui, tanpa

mengerti dan mengetahui tata bahasanya. Oleh karenanya kitab Wyakarana ini

memiliki fungsi yang sangat penting di dalam kita mempejari Veda.




Para Maharesi yang mendalami tentang tata bahasa (Veda) adalah : Maharesi

Sakatayana, Begawan panini, Maharesi patanjali, dan Begawan yaska.




Di antara orang suci tersebut di atas, yang terkenal adalah Begawan panini.

Beliau menulis Kitab Asta Dhyayi dan patanjali Bhasa.

Begawan Panini adalah orang suciyang pertama kali mengenalkan kata bahasa

Sanskerta populer (bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat) dan bahasa Daiwak

yaitu bahasa para Dewa-Dewa.




Chanda (Lagu)




Chanda adalah cabang Veda yang secara khusus membicarakan tentang aspek

ikatan bahasa dalam Veda yang disebut lagu. Dalam mempelajari Veda kita perlu

mendalami kitab Chanda, karena bersumberkan pada pendalaman kitab Chanda

semua ayat-ayat Veda dapat dipelajari secara turun temurun. Hal ini kita dapat

persamakan dengan berbagai macam nyanyian yang dapat dinyanyikan dan mudah

diingat.




Dari berbagai macam kitab-kitab Chanda, yang masih terdapat utuh sampai

sekarang ada dua buah buku, yaitu : Midana Sutra dan Chanda Sutra. Kedua kitab ini

dihimpun oleh Begawan Pinggala.




Nirukta




Kitab-kitab Nirukta berisikan tentang penafsiran otentik yang berhubungan

dengan kata-kata yang terdapat dalam Veda.




Kitab Nirukta ditulis oleh Begawan Yaska pada tahun t 800 SM.




Kitab Nirukta hasil karya Begawan Yaska, isinya menguraikan tentang tiga

macam sesuatu hal, yaitu :

a) Memuat kata-kata yang memiliki arti sama atau Naighantuka Kanda.

b) Memuat kata-kata yang memiliki arti ganda atau disebut Naighama Kanda.

c) Memuat tentang nama-nama paru Dewa yang ada di angkasa, bumi dan sorga

atau disebut Daiwatganda.




Jyotisa (Antronomi)

Kitab Jyotisa, isinya yang terutama adalah menguraikan tentang peredaran

tata surya, bulan dan badan angkasa lainnya yang dipandang dan dianggap memiliki

pengaruh dalam pelaksanaan yadnya.




Kitab Jyotisa adalah kitab pendukung Veda, yang menguraikan tentang pokok-

pokok pengetahuan dalam bidang astronomi.




Melalui pengetahuan yang terdapat dalam kitab Jyotisa juga kita dapat

memahami, bahwa bagaimana Veda mengajarkan kepada umatnya untuk dapat

berhubungan secara harmonis dengan alam dan lingkungannya berdasarkan yadnya.

Di antara kitab Jyotisa, yang terdapat masih sampai sekarang adalah kitab

Jyotisa Wedangga. Kitab ini memiliki hubungan dengan kitab Veda Cruti, Rg. Veda,

dan Yajur Veda.







6) Kalpa







Kitab Ka

lpa adalah jenis kitab Smrti (Vedangga) yang isinya berhubungan

dengan kitab Brahmana dan kitab-kitab mantra.







Kitab Kalpa initerdiri dari beberapa bidang kitab antara lain :







a) Bidang Srauta

b) Bidang Grhya

c) Bidang Dharma

d) Bidang Suliwa




Dari ke-4 (empat) bidang kitab Kalpa tersebut di atas, kebanyakan di antaranya

isinya berhubungan dengan kitab-kitab Brahmana. Dan hanya sebagian kecil yang

berhubungan dengan kitab-kitab Mantra.




a) Kitab Srauta .

Kitab Srauta atau juga disebut Srauta Sutra, isinya memuat berbagai macam

ajaran mengenaitata cara melakukan yadnya. Tata cara melakukan yadnya yang

dimaksud antara lain tata cara upacara yadnya, penebusan dosa, dan lain-lain

serta tata cara upacara yadnya yang berhubungan dengan upacara keagamaan,

baik dalam tingkatan upacara besar, upacara kecil, dan upa€ra harian (tiaptiap

hari).




b) Kitab Grhya




Kitab Grhya juga disebut dengan nama Grhya Sutra. Kitab Grhya Sutra,

isinya menguraikan tentang berbagaiajaran mengenaiaturan pelaksanaan yadnya

yang mesti dilaksanakan oleh orang-orang / masyarakat (umat Hindu) yang telah

hidup berumah tangga.




Berhubungan dengan kitab Srauta dan Grhya Sutra (Kalpa) terdapat kitab

Sradha Kalpa dan Pitri Medha Sutra.




Kedua kitab tersebut di atas (Sradha Kalpa dan Pitri Medha Sutra) isinya

menguraikan tentang pokok-pokok ajaran yang berhubungan dengan tata cara

upacara untuk anrvah orang-orang yang telah meninggal dunia.




Di samping itu pula terdpat kitab : Prayas Cita Sutra sebagai pendukung dari

Kitab Waitana Sutra (Atharwa Weda).




c) Kitab Dharma Sutra




Kitab Dharma Sutra, isinya menguraikan tentang berbagai macam aspek

mengenai peraturan hidup bermasyarakat dan bernegara.




Kitab Dharma Sutra juga disebut Dharma Sastra. Kitab Dharma Sutra

dipandang sebagai kitab yang sangat penting di antara kitab-kitab jenis Kalpa.

Karena dipandang sangat penting, maka terdapatlah kesan bahwa Veda Smrti itu

adalah Dharma Sastra.




Di antara orang suciyang disebutkan sebagai penulis kitab Dharma Sastra

adalah Bhagawan Manu, Bhagawan Apastamba, Bhagawan Bhaudhayana,

Bhagawan Harita, Bhagawan Wisnu, Bhagawan Wasistha, Bhagawan Waikanasa,

Bhagawan Sankha Likhita, Bhagawan Yajnawalkya dan Bhagawan Parasara.

Dari nama-nama para orang suci penulis Dharma Sastra tersebut di atas,

yang paling terkenal adalah Bhagawan Manu. Karya sastra beliau di bidang

Manawa Dharma Sastra ditulis oleh Bhagawan Bhrgu. Ajaran yang termuat dalam

kitab Manawa Dharma Sastra yang ditulis oleh Bhagawan Bhrgu menyebar di

seluruh pelosok dunia, seperti di lndia, di campa, di Kamboja, di rhailand dan

sampai di Indonesia.




Agama Hindu mengajarkan kepada umatnya, bahwa dalam hidup dan

kehidupan kita ini, dilalui oleh empat zaman atau juga disebut Catur Yuga.

Bhagawan Sankha likhita', bahwa masing-masing juga dariCaturYuga mempunyai

Dharma Sastranya tersendiri, seperti :




(1) Pada masa Satya lKrtha Yuga berlaku kitab Manawa Dharma Sastra karya

sastra dari Bhagawan Manu.

(2) Pada masa Trita Yuga berlaku kitab Dharma sastra yang ditulis oleh Bhagawan

Yajnawalkhya.

(3) Pada masa Dwapara Yuga berlaku kitab Dharma Sastra buah karya Bhagawan

Sankha Likhita.




(4) Pasa masa Kaliyuga dipergunakanlah Dharma Sastra yang ditulis oleh

Bhagawan Parasara.




Di antara keempat kitab Dharma Sastra tersebut, yang diterapkan untuk

masing-masing bagian Catur Yuga adalah memiliki sifat saling mengisi atau

melengkapidi antara satu dengan yang lainnya.




d) Kitab Suliwa Sutra




Kitab Suliwa Sutra adalah merupakan bagian terakhir dari kitab-kitab Kalpa"




Kitab Sutiwa Sutra ini, isinya memuat tentang petunjuk dan peraturan-

peraturan mengenaitata cara membuat dan mendirikan tempat suci untuk beribadat

(Pura, Candi), bangunan-bangunan lainnya yang berhubungan dengan arsitektur.




Kitab Sulwa Sutra memiliki beberapa bentuk buku, antara lain : Kitab Silpa

sastra, Kitab Kautuma, Kitab Mayatama, Kitab wastu widya, Kitab Manasara.

Kitab Wisnu Dharmotara Purana, dan sebagainya.

b. Jenis atau Kelompok tJpaweda




Kitab-kitab Upaweda merupakan kitab kelompok kedua dari Veda Smrti,

setelah kitab-kitab Vedangga. Kata upaweda berasal dari bahasa Sanskerta, yang terdiri

dari dua kata, yaitu : kata upa dan veda. Kata "upa" dapat diartikan ,,dekat,, dan kata

"veda" berarti "pengetahuan suci (kitab suci),,.




Upaweda berarti dekat dengan Veda (Pengetahuan suci). Upaweda juga

diartikan Veda tambahan.




Kitab Upaweda memiliki fungsi sama pentingnya dengan kitab-kitab Smrtti

yang lainnya.




Kitab upaweda terdiri dari beberapa cabang ilmu, antara lain :

1) ltihasa

Kitab ltihasa dikerompokkan daram kitatrkitab upaweda.

Kata ltihasa terdiri dari tiga suku kata, yakni ,'lti-ha-sa,,yang artinya

"sesungguhnya kejadian itu begitulah nyatanya.

Nama ltihasa pada mulanya diberikan oleh penulis kitab Mahabharata pada bagian

Adiparwa yaitu Bhagawan Wiyasa.




Itihasa adalah sebuah epos yang menceritakan sejarah perkembangan raja-raja dan

kerajaan Hindu di masa lampau. ltihasa adalah karya sastra yang bersifat spiritual,

di mana ceritanya penuh filsafat, roman, kewiraan dan mitologi.

Kitab ltihasa terdiri dari kitab Ramayana (terdiri dari 7 kanda) dan Mahabharata

(terdiri dari 18 parwa).




Purana




Kitab Purana adalah bagian dari kitab-kitab Upaweda.




Kitab Purana berisikan berbagai macam cerita dan keterangan kebiasaan-kebiasaan

yang berlaku pada zaman dahulu kala (kuno).

Artha Sastra




Kitab Artha Sastra ini berisikan tentang pokok-pokok pemikiran bidang ilmu potitik.

Artha Sastra sebagai bagian dari kitab Upaweda, ditulis oleh Bhagawan Brhaspati.

Jejak beliau di dalam tulis-menulis kitab-kitab "Artha Sastra" diikuti oleh Maharesi

Kautilya (Canakhya).




Di samping Maharesi Kautilya yang mengikuti Bhagawan Brhaspati dalam menulis

kitab-kitab Artha sastra, ada juga Bhagawan yang rainnya, seperti : Bhagawan Usana

dan Bhagawan Parasara, Danding, wisnugupta, Bharadwaja, dan wisalaksa.

Kitab-kitab yang tergolong kitab Artha Sastra yang lainnya adalah Niti Sastra atau

Rajadharma (Dandaniti). Jenis kitab Artha Sastra yang diubah di lndonesia adalah

jenis Usana dan Niti Sastra, serta Sukraniti.




4) Ayur Weda

Kitab Ayur Weda kelompok kitab Upaweda, yang isinya menguraikan tentang

bidang ilmu kedokteran atau kesehatan baik rohani maupun jasmani.

Adapun nama kitab yang termasuk kelompok kitab Ayur weda adalah kitab Caraka

Samhita, Susruta Samhita, Kasyapa Samhita, Astanggahrdaya, Yogasara dan Kama

Sutra.




Berdasarkan materi yang terdapat dalam kitab Ayur Weda maka isi kitab Ayur

Weda meliputi delapan bidang ajaran umum, yaitu :

a) Salya yaitu ajaran mengenai ilmu bedah

b) Salkya adalah ajaran mengenai ilmu penyakit

c) Kayakitsa yaitu ajaran mengenai ilmu obat-obatan

d) Bhuta Widya yaitu ajaran mengenai ilmu psikoteraphy

e) Kaumara Bhrtya yaitu ajaran mengenai pendidikan anak-anak, dan merupakan

dasar bagi ilmu jiwa anak-anak.

0 Agada Tantra yaitu ilmu toxikologi

g) Rasayama Tantra yaitu ilmu mujizat, dan

h) Wajikarana Tantra yaitu ilmu jiwa remaja




Kitab Caraka Samhita merupakan baginn dari kitab Ayur Weda. Kitab tersebut

memuat delapan bidang ajaran, antara lain :




a) Sutrathana

b) Nidanasthana




c) Wimanasthana

d) Sarithana

e) lndiyasthana

0 Cikitasasthana




g) Kalpasthnana




h) Siddistana




isinya menguraikan tentang ilmu pengobatan

isinya memuat tentang berbagai penyakit yang bersifat

umum




isinya menguraikan tentang ilmu pathologi

isinya menguraikan tentang ilmu anatomi dan embriology

isinya menguraikan tentang materia diagnosa dan prognosa

isinya menguraikan tentang ajaran khusus mengenai

pokok-pokok ilmu therapy

isinya menguraikan tentang ajaran di bidang theraphy

secara umum




isinya juga menguraikan tentang pokok-pokok di bidang

therapy secara umum.




Berdasarkan catatan yang ada kitab Kalpasthana dan Kitab Siddhistana telah

diterjerahkan ke dalam bahasa Arab dan Persia pada tahun 800 Masehi.




Kitab Susruta Samhita ditulis oleh Bhagawan Susanta. Kitab ini isinya menguraikan

tentang pentingnya aiaran umum di bidang ilmu bedah. Di samping itu pula kitab

Susruta Samhita mencatatkan berbagai macam alat-alat yang dapat dipergunakan

dalam pembedahan.




Kitab Yogasara dan Yogasastra ditulis oleh Bhagawan Nagarjuna. Kedua kitab ini

rsinya menguraikan tentang pokok-pokok ilmu yoga yang berhubungan dengan

sistem anatomi dalam pembinaan kesehatan, baik jasmani maupun rohani.




Kitab Kama Sutra ditulis oleh Bhagawan Watsyayana pada abad ke-10 Masehi.

Kitab Kama Sutra berhubungan dengan kitab Wajik aranaTantra. lsinya menguraikan

tentang ajaran ilmu jiwa remaja.




Gandhanva Weda




Kitab Gandharwa weda merupakan bagran dari kitab-kitab Upaweda.




Gandharwa Weda sebagai kitab Siprti, juga memiliki beberapa bagian kitab-kitab

lagi, seperti: Natya sastra. kitab Natya wedagama, Dewa Dasa Sahasri, Rasarnawa,

Rasaratnasamucaya, dan yang lainnya.




Kitab Gandharwa Weda, isinya menguraikan tentang berbagai aspek cabang ilmu

seni.




Kama Sastra




Kitab Kama Sastra adalah termasuk kitab suci agama Hindu pada bagian

Smrti (Upaweda). Kama Sastra sebagai bagian dari jenis kitab Upaweda isinya

menguraikan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan asmara, seni

atau rasa indah.




Di dalam upaya untuk mewujudkan salah satu tujuan hidup, umat beragama

dipandang perlu untuk membangkitkan rasa indah tersebut. Kebangkitan dari rasa

indah manusia terbentuk untuk berbakti kepada Sang Hyang Widhi/Tuhan yang

Maha Esa, hendaknya dipedomani oleh Kama Sastra. Karena dengan demikian

asmara dan rasa indah yang muncul itu tentu terarah/bernilai positif adanya.

Diantara kitab-kitab Kama Sastra yang terkenal adalah karya dari Bhagawan

Watsyayana.




7) Agama




Kitab agama itu baru ada setelah Agama Hindu ada dan berkembang di dunia.

Menurut Veda, agama Hindu boleh dan dapat dipelajari oleh seluruh umat manusia.

Hal ini termuat dalam kitab Yajur Veda sebagai berikut:




"Yaatkeram wacarn kalyanin awadoni janebhyah,

Brahma Rajanyabhyam cudraya caryaya ca siwaya caranayaca'




Artinya:




"Biar kunyatakan disini kitab suci ini kepada orang-orang banyak, kepada kaum

Brahmana, kaum Ksatrya, kaum Sudra, dan kaum Waisya dan bahkan kepada

orang-orangKu dan kepada mereka (orang-orang asing) sekalipun.

(Yajur Veda XVl, 18l"




Berdasarkan bunyi Cloka tersebut di atas dinyatakan bahwa kitab suci Veda (agama

Hindu) dapat dipelajari oleh siapa saja, tidak terkecuali. Namum menyadari akan

kekurang sempurnaan kita sebagai umatnya, maka tidak akan semuanya dapat

mempelajarinya dengan sempurna.




Disamping itu kita juga perlu menyadari bahwa, Veda sebagai sumber ajaran agama

Hindu mengandung ajaran yang sangat tinggi.




Bagi mereka yang belum dapat mempelajari Veda dapat belajar agama Hindu

berdasarkan kitab-kitab agama.




Kitab agama isinya memuat ajaran tentang keyakinan adanya Tuhan Yang Maha

Esa dan petunjuk-petunjuk untuk melaksanakan tata cara persembahyangan.




Dari uraian di atas dapatlah kita simpulkan bahwa jumlah kitab-kitab Smrti yang

dapat kita pergunakan sebagai petunjuk untuk menata kehidupan berhubungan

dengan Sang Hyang Widhi/ Tuhan Yang Maha Esa, banyak jenisnya. Hal ini sesuai

dengan ucapan kitab Smrti (Dharma Sastra) sebagai berikut:




"Wedo'khilo dharma mulam smrti cile ca tad widam

acaracca iwa sadhunam atmanasfusfir ceva ca"







Artinya:

Seluruh Weda merupakan sumber utama daripada dharma (agama Hindu)

kemudian barulah Smrti, disamping kebiasaan-kebiasaan yang baik dari orang-

orang yang menghayatiVeda (sila) dan kemudian tradisi-tradisi dari orang-orang

suci (acara) serta yang terakhir adalah rasa puas diri sendiri (atmanastusti)




(Manawa Dharma Sastra ll.6)




B. RANGKUMAN




Kitab suci adalah cara yang baik untuk memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran

Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa yang dianut oleh umat Hindu. Tuhan yang

Maha Esa/lda Sang Hyang Widhi Wasa mewahyukan ajaran-Nya melalui orang-orang Suci untuk

disebarkan pada kita semua. Ajaran beliau yang diwahyukan kepada Maha Rsi dituliskan pada

buku. yang disebut kitab suci Weda. Weda sebagai kitab suci umat beragama Hindu, berdasarkan

pengelompokannya ada yang disebut dengan nama Weda Qruti dan Weda Smrti.




lstilah Qrut berarti Wahyu. Weda Qruti adalah kitab Wahyu Tuhan. Semua ayat-ayat yang

terdapat didalamnya merupakan Wahyu dari Tuhan yang kemudian dihimpun dalam beberapa

buah buku menurut umurnya dan peruntukannya. Menurut sifat dan isinya weda Qruti dibedakan

atas kelompok mantra, kelompok Brahmana, kelompokAnanyaka dan Upanisad. Kelompok mantra

didasarkan atas pertimbangan fungsi dan kegunaannya di bagi menjadi empat, yang disebut Catur

Weda Samhrta yaitu Rg.Weda Samhita, Yajur Weda Samhita, Sama Weda Samhita dan Atharwa

Weda Samhita.







Smrti (Dharma Sastra), ltihasa, dan Purana adalah kitab-kitab Weda yang ditulis oleh para

Rsi berdasarkan ingatannya, bersumber dari wahyu lda Sang Hyang widhl wasa.







Smrti ltihasa dan Purana berrsikan berbagar macam ajaran yang berhubungan dengan

lda Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi beliau dan ciptaan-Nya, Ethika (sosial, budaya,

ekonomi, politik dan pertahanan/keamanan) selta upacara (ritual) agama.







Manusia adalah makhluk hidup yang diciptakan lda Sang Hyang Widhi Wasa. Sebagai insan

Tuhan, manusia memiliki beberapa kewajiban yang mestidilaksanakan dalam kehidupan ini. Sudah

menjadi kodratnya manusia untuk melaksanakan kewajiban hidupnya. Salah satu kewajiban hidup

manusia yang harus dikerjakan adalah menegakkan kebenaran. Kebenaran yang utama adalah

kebenaran yang ada pada lda sang Hyang widhi wasa. Kebenaran beliau dapat kita laksanakan

dengan jalan memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran agama.







Mari kita dalam sastra-sastra agama, yang terkandung dalam kitab suci Weda Qruti maupun

Smrti untuk dipergunakan didalam menuntun kehidupan kita sehari-hari, sehingga kita dapat

meningkatkan budi pekerti dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.





Ningsih

hidup adalah yadnya dan tidak ada yadnya yang sia-sia

View all posts by Ningsih →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares