in

Materi Keanekaragaman Hayati Biologi

Materi Keanekaragaman Hayati Biologi

Apabila kegiatan manusia seperti tersebut di atas tidak segera
diakhiri, manusia sendirilah yang akan menderita kerugian, jika tindakan
penyelamatan keanekaragaman hayati tidak dilaksanakan maka
spesies yang hidup hari ini akan menuju kepunahan. Para ilmuwan
juga menyatakan bahwa rusaknya hutan hujan tropis menyebabkan
hilangnya beberapa tumbuhan yang bermanfaat, karena fungsinya
sebagai bank gen atau apotek hidup hilang akibat kepunahan
tumbuhan yang bersangkutan.


Di negara agraris yang mulai berkembang, usaha peningkatan
produksi pertanian yang secara tidak sadar akan menurunkan
keanekaragaman hayati terus dikembangkan, yaitu bercocok tanam
sistem monokultur, artinya bercocok tanam dengan lahan yang tetap
dan tanamannya satu jenis saja. Dipandang dari keanekaragaman
hayati, sistem monokultur tersebut sangat merugikan. Sistem
Semenjak meledaknya jumlah penduduk serta berkembangnya
industri, eksploitasi terhadap keanekaragaman hayati (biodiversitas)
semakin meningkat. Setiap tahunnya jutaan hektar hutan alam
menghilang karena berubah fungsi untuk berbagai kepentingan
manusia. Penggundulan dan pembakaran hutan, reklamasi pantai
dan rawa, pengembangan industri yang tidak dilengkapi pengolahan
limbah, serta penggunaan bahan kimia, seperti pupuk dan pestisida
secara berlebihan, merupakan kegiatan manusia yang secara tidak
sadar akan menghancurkan keanekaragaman hayati.

monokultur dapat menurunkan tingkat keanekaragaman hayati
karena hanya mengembangkan satu jenis tanaman saja. Hal ini
membuat tanaman lain semakin langka. Unsur-unsur tertentu yang
dibutuhkan tanaman tersebut semakin lama juga akan semakin
menipis sedangkan unsur-unsur lainnya tersedia cukup banyak.
Oleh sebab itu, sistem monokultur dapat mengundang hama dan
penyakit.


Usaha penciptaan tanaman varietas revolusi hijau di Amerika,
gandum di Meksiko, padi di Asia menjadi penyebab kerusakan
keanekaragaman hayati di daerah atau negara tersebut. Karena
semakin lama akan menghilangkan organisme awal yang
merupakan sumber penciptaan keturunan (varietas) tersebut.
Untunglah, di hutan belantara Asia masih tersimpan jenis padi liaryang selama ini lepas dari perhatian, yaitu spesies Oryza nivana.
Berkat ketekunan para ilmuwan, dihasilkan varietas unggul tahan
wereng.


Dalam bidang pertanian, kehutanan, perikanan, dan
peternakan, produksi selalu didorong ke arah pemusnahan
keanekaragaman hayati. Jadi, produksi yang didasarkan kepada
keseragaman menjadi ancaman utama konservasi keanekaragaman hayati dan keberlanjutan produksi itu sendiri.


Keanekaragaman hanya dapat dilestarikan jika keanekaragaman
dijadikan logika produksi. Jika produksi selalu ditempuh dengan
keseragaman dan homogenisasi maka keanekaragaman akan
terus terancam keberadaannya.


Dari sekian banyak organisme yang menghuni bumi, tidak ada
sepasang pun yang benar-benar sama untuk segala hal. Kenyataan
tersebut menunjukkan kepada kita, bahwa di alam raya dijumpai
keanekaragaman makhluk hidup atau disebut juga keanekaragaman
hayati. Keanekaragaman hayati (biodiversitas) adalah keanekaragaman organisme yang menunjukkan keseluruhan atau totalitas variasi gen, jenis, dan ekosistem pada suatu daerah. Keseluruhan gen, jenis dan ekosistem merupakan dasar kehidupan di bumi.


Mengingat pentingnya keanekaragaman hayati bagi kehidupan maka
keanekaragaman hayati perlu dipelajari dan dilestarikan. Tingginya
tingkat keanekaragaman hayati di permukaan bumi mendorong
ilmuwan mencari cara terbaik untuk mempelajarinya, yaitu dengan
klasifikasi.


A. Tingkat Keanekaragaman Hayati



Keanekaragaman hayati melingkupi berbagai perbedaan atau
variasi bentuk, penampilan, jumlah, dan sifat-sifat yang terlihat pada
berbagai tingkatan, baik tingkatan gen, tingkatan spesies maupun
tingkatan ekosistem. Berdasarkan hal tersebut, para pakar
membedakan keanekaragaman hayati menjadi tiga tingkatan, yaitu
keanekaragaman gen, keanekaragaman jenis dan keanekaragaman
ekosistem.Keanekaragaman gen


Gen atau plasma nuftah adalah substansi kimia yang menentukan
sifat keturunan yang terdapat di dalam lokus kromosom. Setiap
individu makhluk hidup mempunyai kromosom yang tersusun atas
benang-benang pembawa sifat keturunan yang terdapat di dalam inti
sel. Sehingga seluruh organisme yang ada di permukaan bumi ini
mempunyai kerangka dasar komponen sifat menurun yang sama.
Kerangka dasar tersebut tersusun atas ribuan sampai jutaan faktor
menurun yang mengatur tata cara penurunan sifat organisme.
Walaupun kerangka dasar gen seluruh organisme sama, namun
komposisi atau susunan, dan jumlah faktor dalam kerangka bisa
berbeda-beda. Perbedaan jumlah dan susunan faktor tersebut akan
menyebabkan terjadinya keanekaragaman gen.
Di samping itu, setiap individu memiliki banyak gen, bila terjadi
perkawinan atau persilangan antar individu yang karakternya berbeda
akan menghasilkan keturunan yang semakin banyak variasinya.
Karena pada saat persilangan akan terjadi penggabungan gen-gen
individu melalui sel kelamin. Hal inilah yang menyebabkan
keanekaragaman gen semakin tinggi. Contoh keanekaragaman
tingkat gen ini adalah tanaman bunga mawar putih dengan bunga
mawar merah yang memiliki perbedaan, yaitu berbeda dari segi warna
bunga.
Dalam perkembangannya, faktor penentu tidak hanya terdapat
pada gen saja, melainkan ada juga faktor lain yang berperan
mempengaruhi keanekaragaman hayati ini, yaitu lingkungan. Sifat
yang muncul pada setiap individu merupakan interaksi antara gen
dengan lingkungan. Dua individu yang memiliki struktur dan urutan
gen yang sama, belum tentu memiliki bentuk yang sama pula karena
faktor lingkungan mempengaruhi penampakan (fenotipe) atau bentuk.
Misalnya, orang yang hidup di daerah pegunungan dengan orang yang
hidup di daerah pantai memiliki perbedaan dalam hal jumlah
eritrositnya. Jumlah eritrosit orang yang hidup di daerah pegunungan
lebih banyak dibanding yang hidup di pantai disebabkan adaptasi
terhadap kandungan oksigen di lingkungannya. Di daerah pegunungan

Keanekaragaman jenis


Spesies atau jenis memiliki pengertian, individu yang mempunyai
persamaan secara morfologis, anatomis, fisiologis dan mampu saling
kawin dengan sesamanya (inter hibridisasi) yang menghasilkan
keturunan yang fertil (subur) untuk melanjutkan generasinya.
Keanekaragaman jenis menunjukkan seluruh variasi yang terdapat
pada makhluk hidup antar jenis. Perbedaan antar spesies organisme
dalam satu keluarga lebih mencolok sehingga lebih mudah diamati
daripada perbedaan antar individu dalam satu spesies.
Dalam keluarga kacang-kacangan kita kenal kacang tanah,
kacang buncis, kacang hijau, kacang kapri, dan lain-lain. Di antara
jenis kacang-kacangan tersebut kita dapat dengan mudah
membedakannya karena di antara mereka ditemukan ciri khas yang
sama. Akan tetapi, ukuran tubuh atau batang, kebiasaan hidup, bentuk
buah dan biji, serta rasanya berbeda. Contoh lainnya terlihat
keanekaragaman jenis pada pohon kelapa, pohon pinang dan juga
pada pohon palem.

Keanekaragaman ekosistem


Ekosistem dapat diartikan sebagai hubungan atau interaksi
timbal balik antara makhluk hidup yang satu dengan makhluk
hidup lainnya dan juga antara makhluk hidup dengan
lingkungannya. Setiap makhluk hidup hanya akan tumbuh dan
berkembang pada lingkungan yang sesuai. Pada suatu
lingkungan tidak hanya dihuni oleh satu jenis makhluk hidup saja,
tetapi juga akan dihuni oleh jenis makhluk hidup lain yang sesuai.
Akibatnya, pada suatu lingkungan akan terdapat berbagai
makhluk hidup berlainan jenis yang hidup berdampingan secara
damai. Mereka seolah-olah menyatu dengan lingkungan tersebut.
Pada lingkungan yang sesuai inilah setiap makhluk hidup akan
dibentuk oleh lingkungan. Sebaliknya, makhluk hidup yang
terbentuk oleh lingkungan akan membentuk lingkungan tersebut.
Jadi, antara makhluk hidup dengan lingkungannya akan terjadi
interaksi yang dinamis.


Perbedaan kondisi komponen abiotik (tidak hidup) pada suatu
daerah menyebabkan jenis makhluk hidup (biotik) yang dapat
beradaptasi dengan lingkungan tersebut berbeda-beda. Akibatnya,
permukaan bumi dengan variasi kondisi komponen abiotik yang tinggi
akan menghasilkan keanekaragaman ekosistem. Ada ekosistem
hutan hujan tropis, hutan gugur, padang rumput, padang lumut, gurun
pasir, sawah, ladang, air tawar, air payau, laut, dan lain-lain. Komponen
biotik dan abiotik di berbagai daerah bervariasi baik mengenai kualitas
komponen tersebut maupun kuantitasnya. Hal inilah yang
menyebabkan terbentuknya keanekaragaman ekosistem di muka
bumi ini. Antar komponen ekosistem hidup berdampingan tanpa saling
mengganggu, dan apabila terjadi kepunahan atau gangguan terhadap
salah satu anggotanya maka akan mengganggu kelangsungan hidup
organisme lainnya. Suatu perubahan yang terjadi pada komponenkomponen ekosistem ini akan berpengaruh terhadap keseimbangan
(homeostatis) ekosistem tersebut.


Sebagai suatu sistem, di dalam setiap ekosistem akan terjadi
proses yang saling terkait. Misalnya, pengambilan makanan,
perpindahan energi atau energetika, daur zat atau materi, dan
produktivitas atau hasil keseluruhan ekosistem. Contoh
keanekaragaman hayati tingkat ekosistem adalah pohon kelapa
banyak tumbuh di daerah pantai, pohon aren tumbuh di pegunungan,
sedangkan pohon palem dan pinang tumbuh dengan baik di daerah
dataran rendah.
Keanekaragaman
hayati melingkupi
berbagai
perbedaan atau
variasi bentuk,
penampilan,
jumlah, dan sifatsifat yang terlihat
pada berbagai
tingkatan, baik
tingkatan gen,
tingkatan spesies
maupun
tingkatan
ekosistem.
Ingatlah

Keanekaragaman hayati Indonesia berdasarkan
karakteristik wilayahnya
Secara Astronomis, Indonesia terletak pada 60
LU – 110
LS dan
950
BT – 1410
BT. Artinya, Indonesia terletak di daerah iklim tropis
karena terdapat di antara 23½0
LU dan 23½0
LS, ciri-ciri daerah tropis
antara lain memiliki temperatur udara cukup tinggi, yaitu 26 0
C – 28 0
C,
curah hujan pun cukup tinggi, yaitu 700 – 7.000 mm/tahun dan tanahnya
subur karena proses pelapukan batuan cukup cepat. Untuk kekayaan
hewan, Indonesia memiliki jumlah keragaman yang tinggi dibandingkan
negara-negara lain.
Hewan mamalia menduduki peringkat pertama di dunia hampir
mencapai 515 jenis, 125 jenis diantaranya endemik, artinya tidak
diketemukan di daerah lain. Peringkat kedua diduduki oleh kupu-kupu
meliputi 151 jenis. Reptil menduduki peringkat tiga dunia, lebih dari
600 jenis. Sedangkan, burung menduduki peringkat keempat yang
mencapai 1519 jenis dan 420 jenis bersifat endemik. Peringkat kelima
diduduki oleh amfibi meliputi hampir 270 jenis.
Macam-macam tumbuhan khas dan endemik di Indonesia
antara lain sebagai berikut.
a. Kayu ramin (Gonystylus bancanus) terdapat di pulau Sumatera,
Kalimantan dan Maluku.
b. Kayu besi (Euziderozylon zwageri) terdapat di Jambi, Pulau
Sumatra.
c. (Rafflesia arnoldii) terdapat di pulau Jawa, Sumatera dan
Kalimantan.
d. Matoa (Pometia pinnata) terdapat di daerah Papua.
e. Meranti (Shorea sp), Keruwing (Dipterocarpus sp) dan Rotan
(Liana sp) banyak terdapat di hutan Pulau Kalimantan.
f. Durian (Durio zibethinus), Mangga (Mangifera indica), Sukun
(Arthocarpus communis) banyak terdapat di hutan pulau Jawa,
Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.
g. Kayu Cendana banyak tumbuh di Nusa Tenggara.
h. Sawo kecik (Manilkara kauki) terdapat di pulau Jawa.
i. Kepuh (Sterculia foetida) terdapat di Pulau Jawa.
Macam-macam hewan khas dan endemik di Indonesia antara
lain sebagai berikut.
a. Badak bercula satu (Rhinoceros sondaicus) berada di Ujung Kulon.
b. Komodo (Varanus komodoensis) di Pulau Komodo.
c. Burung Maleo (Macrocephalon maleo) di Pulau Sulawesi.
B. Keanekaragaman Hayati Indonesia
Keanekaragaman Hayati
2 1
d. Tapir (Tapirus indicus) ada di Pulau Sumatera.
e. Orang utan (Pongo pygmaeus) di pulau Sumatera dan
Kalimantan.
f. Cendrawasih (Paradisaea minor) dan Kasuari (Casuarius
casuarius) di Papua.
g. Macan Kumbang (Panthera pardus) dan Harimau Sumatera
(Panthera tigris sumatrae) ada di Pulau Jawa dan Sumatera.
h. Penyu Hijau (Chelonia mydas) ada di pulau Jawa, Bali dan
Sulawesi.
i. Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) ada di pulau Bali.
j. Gajah (Elephas maximus) terdapat di Sumatra dan Kalimantan.

Keanekaragaman hayati Indonesia berdasarkan
ekosistem perairannya
Macam-macam lingkungan perairan (akuatik) akan membentuk
ekosistem antara lain, ekosistem air tawar dan ekosistem air laut.
a. Ekosistem air tawar
Mempunyai ciri-ciri salinitas atau kadar garam rendah, variasi
suhu rendah, penetrasi atau paparan cahaya matahari kurang, adanya
aliran air (ekosistem sungai), dan dipengaruhi oleh iklim serta cuaca.
Gambar 2.6
Gambar beberapa tipe ekosistem (searah jarum jam) yaitu taiga, padang rumput, hutan
tropis, dan padang pasir.
Sumber : Mocrosoft Encarta 2006
padang rumput
taiga padang pasir
hutan tropis
Keanekaragaman Hayati
2 5
Berdasarkan intensitas cahaya yang diterima maka habitat
ekosistem air tawar dapat dibagi menjadi 3 zona, yaitu sebagai berikut.
1) Litoral adalah daerah dengan intensitas cahaya matahari yang
mencapai dasar.
2) Limnetik adalah daerah terbuka yang intensitas cahaya
mataharinya dapat mencapai dasar.
3) Profundal adalah daerah dasar yang dalam sehingga cahaya
matahari tidak dapat mencapainya.
Organisme yang hidup di daerah
ekosistem air tawar memiliki karakteristik
tertentu, seperti tumbuhan rendah bersel satu
mempunyai dinding sel yang kuat, sedang
tumbuhan tingkat tinggi mempunyai akar sulur
untuk melekat pada bagian dasar perairan,
misalkan teratai, kangkung, ganggang biru
dan ganggang hijau. Sedangkan, karakteristik
hewannya memiliki ciri-ciri mengeluarkan air
berlebih, garam diabsorpsi (diserap) melalui
insang secara aktif dan sedikit minum, air
masuk dalam tubuh secara osmosis.
b. Ekosistem air laut
Adanya hempasan gelombang air laut maka di daerah pasang
surut yang merupakan perbatasan darat dan laut terbentuk gundukan
pasir, dan jika menuju ke darat terdapat hutan pantai yang terbagi
menjadi beberapa wilayah, yaitu sebagai berikut.
1) Formasi pescaprae, didominasi tumbuhan Vigna, Spinifex litorus,
Ipomoea pescaprae, Pandanus tectorius.
2) Formasi baringtonia, tumbuhan yang khas, misalkan Hibiscus
tilliaceus, Terminalia catapa, Erythrina sp.
3) Hutan bakau, tumbuhan yang khas adalah Rhizopora (bakau),
dan Acanthus.
Ciri-ciri lingkungan ekosistem air laut adalah sebagai berikut.
1) Salinitas tinggi terutama di daerah tropis, sedangkan di daerah
dingin cukup rendah.
2) Ekosistem laut tidak dipengaruhi oleh iklim dan cuaca.
3) Arus laut yang selalu berputar timbul karena perbedaan
temperatur dan perputaran bumi.
4) Di daerah tropis, seperti di Indonesia, air permukaan laut
mempunyai suhu lebih tinggi dengan suhu air di bagian bawahnya
sehingga air permukaan tidak dapat bercampur dengan air di
lapisan bawah. Batas antara lapisan tersebut dinamakan batas
termoklin.
Gambar 2.7
Gambar yang menunjukkan pembagian daerah
ekosistem air tawar berdasarkan intensitas
cahaya yang diterima
Zona litorial
Zona limnetik
Zona profundal
Diadaptasi dari Eugene P. odum,1993
Biologi Kelas X untuk Siswa SMA – MA
2 6
Secara fisik habitat air laut terbagi atas 4 zona, sebagai berikut.
1) Litoral, yaitu yang berbatasan dengan darat.
2) Netrik, yaitu kedalaman sampai 200 meter.
3) Batial, yaitu kedalaman 200 meter hingga 2000 meter.
4) Abisal, yaitu kedalaman 2000 meter lebih.
Organisme yang hidup di
daerah ekosistem air laut memiliki
karakteristik tertentu, seperti hewan
dan tumbuhan tingkat rendah
memiliki tekanan osmosis sel kirakira sama dengan tekanan osmosis air laut maka itu adaptasinya
tidak terlalu sulit. Sedangkan, hewan
bersel banyak, misalnya ikan, cara
adaptasi yang dilakukan dengan
cara melakukan banyak minum,
sedikit mengeluarkan urin, pengeluaran air dilakukan secara osmosis, sedangkan garam mineral
dikeluarkan secara aktif melalui
insang.
Untuk mendapatkan manfaat sebesar-besarnya dari
keanekaragaman hayati secara berkelanjutan, manusia
harus terus mempelajari keanekaragaman hayati. Manfaat
yang diperoleh dalam mempelajari keanekaragaman hayati,
antara lain:

mengetahui manfaat setiap jenis organisme;

mengetahui adanya saling ketergantungan di antara
organisme satu dengan lainnya;

memahami ciri-ciri dan sifat setiap organisme;

memahami adanya hubungan kekerabatan antar
organisme;

memahami manfaat keanekaragaman hayati dalam
mendukung kelangsungan hidup manusia.
Hingga saat ini berbagai bentuk keanekaragaman hayati terus
diselidiki. Di daerah hutan hujan tropis, seperti sebagian besar hutan
di Indonesia, diperkirakan terdapat jutaan spesies yang belum
teridentifikasi. Orang semakin menyadari bahwa manfaat
Gambar 2.8
Pembagian daerah ekosistem air
laut (tidak menurut skala)
Zona litorial
Zona netrik 200 m
Zona batial 200-2000 m
Zona abisal > 2000 m
Fito plankton
Zoo plankton
Diadaptasi dari Eugene P. odum,1993
C. Nilai-Nilai Keanekaragaman Hayati
Khas Indonesia
Setiap tahun, orang di
seluruh dunia
menghabiskan sekitar
200 juta ton kertas
yang dibuat dari serat
kayu. Bisa kalian
bayangkan berapa
banyak pohon yang
ditebang untuk
keperluan itu.
Info Biologi
Keanekaragaman Hayati
2 7
keanekaragaman hayati bagi peningkatan kesejahteraan manusia
sangat besar. Ada beberapa nilai manfaat keanekaragaman hayati
bagi manusia, diantaranya adalah nilai biologi, nilai pendidikan, nilai
estetika dan budaya, nilai ekologi, serta nilai religius.

Nilai biologi
Kebutuhan pangan, sandang, obat-obatan, bahan bangunan, dan
oksigen hampir 100 % berkat jasa keanekaragaman hayati. Seluruh
penduduk dunia, kebutuhan makanannya bergantung kepada
tumbuhan dan hewan yang langsung diambil dari alam. Di Asia dan
Amerika Latin, menggunakan semua bagian dari pohon palem, seperti
memakan buahnya, menggunakan batang dan daunnya untuk bahan
bangunan, alat penyapu lantai, bahan bakar, memeras minyaknya
untuk memasak, obat-obatan, serta untuk penerangan. Para ilmuwan
dunia percaya bahwa sekitar 80.000 spesies tumbuhan dapat
dimakan. Namun, hanya sekitar 30 spesies saja yang mampu
menyediakan 90 % kebutuhan gizi manusia. Sebenarnya alam masih
menyimpan banyak keanekaragaman hayati yang belum tersentuh
atau tergali oleh tangan manusia, bahkan kemungkinan besar masih
banyak spesies-spesies yang sebenarnya jauh lebih berpotensi untuk
menghasilkan bahan kebutuhan manusia namun belum diketahui.
Banyak industri yang memerlukan bahan baku dari keanekaragaman hayati hewan dan tumbuhan. Industri benang memerlukan
beberapa jenis tumbuhan dan hewan. Tumbuhan ada yang diambil
batangnya, umbi, buah, bunga, daun, daging, susu, telur, dan lainlain. Industri kertas memerlukan jutaan ton batang tumbuhan, begitu
pula industri obat-obatan dan kosmetik memerlukan berbagai jenis
hewan dan tumbuhan yang memiliki khasiat tertentu.

Nilai pendidikan
Di dalam tubuh makhluk hidup tersimpan sumber gen yang
secara alami telah sesuai dengan alamnya. Oleh sebab itu, lestarinya
keanekaragaman hayati merupakan syarat mutlak untuk tetap
menjaga tersedianya plasma nuftah atau sumber gen. Ini berarti
memberi peluang untuk mengembangkan penelitian demi pemulihan
keanekaragaman hayati yang belakangan ini cenderung mengalami
penyusutan.

Nilai estetika dan budaya
Keanekaragaman hayati juga memberikan pemandangan alam
yang indah. Tidak mengherankan apabila para wisatawan
mancanegara senang berkunjung ke kawasan hutan alam, sungai,
Biologi Kelas X untuk Siswa SMA – MA
2 8
arung jeram, dan laut yang masih alami. Tidak sedikit
keanekaragaman hewan mempunyai bentuk fisik yang
bagus atau perilaku yang lucu, menjadi incaran koleksi
manusia. Hewan-hewan yang memiliki sifat tersebut dapat
mendatangkan hiburan bagi manusia.

Nilai ekologi
Keberadaan keanekaragaman hayati pada suatu
daerah sangat berperan besar untuk menjaga proses
ekosistem, seperti daur zat, dan aliran energi. Di samping
itu, keberadaan keanekaragaman hayati, khususnya
keanekaragaman tumbuhan, mempunyai peran besar dalam
menjaga tanah dari erosi dan terjaganya proses fotosintesis.
Dalam skala luas, keanekaragaman tumbuhan menjaga
daerah aliran sungai serta stabilitas iklim.

Nilai religius
Keanekaragaman hayati juga memiliki fungsi untuk
mengingatkan kita akan kebesaran Tuhan yang telah
menciptakan alam raya ini dengan keindahan yang tiada tara.
Manusia merupakan salah satu komponen yang dapat
memengaruhi ekosistem. Manusia dapat melakukan kegiatan yang
dapat meningkatkan produksi komponen biotik ekosistem, tetapi
sebaliknya ulah manusia juga dapat mengganggu keseimbangan
ekosistem. Berikut ini adalah kegiatan-kegiatan manusia yang dapat
menurunkan keanekaragaman hayati.

Pembukaan hutan
Pembukaan hutan, seperti untuk lahan pertanian, perumahan,
pertambangan dan industri yang disebabkan pertambahan populasi
manusia akan berakibat terhadap keseimbangan ekosistem hutan.
Terjadinya penggundulan hutan akan mengakibatkan banjir. Kegiatan
pembukaan hutan akan menghilangkan beribu-ribu spesies asli yang
ada di hutan karena habitatnya telah rusak. Contohnya, semakin
langkanya jalak putih bali karena habitatnya tergusur, dan menurunnya
populasi harimau jawa akibat habitatnya menyempit.
Setiap tanah yang
terletak di permukaan
menjadi sasaran bagi
erosi yang ganas jika
tidak tertutupi oleh
tumbuhan hijau.
Tanah di daerah
tropis yang ditumbuhi
hutan rimba sangat
rapuh, jika hutannya
habis maka tanahnya
akan menjadi sasaran
kekeringan dan erosi.
Info Biologi
D. Pengaruh Kegiatan Manusia
terhadap Biodiversitas
Keanekaragaman Hayati
2 9

Eksploitasi sumber daya alam hayati yang
berlebihan
Pertambahan populasi manusia yang sangat cepat
mengakibatkan pengambilan sumber daya alam hayati oleh manusia
dapat melebihi batas regenerasi dan reproduksi dari organisme
tersebut. Kenyataan semacam itu menyebabkan kepunahan pada
berbagai jenis makhluk hidup, sehingga menurunkan keanekaragaman hayati. Contohnya perburuan orangutan untuk membuat
obat, gading gajah untuk dikoleksi, perburuan beruang dan ular atau
buaya untuk pembuatan tas maupun jaket kulit.

Pencemaran lingkungan
Peningkatan jumlah pemukiman dan industri akan
membawa konsekuensi terciptanya limbah yang akan
mencemari lingkungan baik air, tanah atau udara.
Pencemaran merupakan perubahan lingkungan akibat ulah
manusia. Perubahan lingkungan ini akan memberikan tekanan
terhadap makhluk hidup yang akan sangat membahayakan
kelangsungan biodiversitas atau keanekaragaman hayati di
permukaan bumi. Contohnya semakin langkanya jenis-jenis
ikan air tawar yang ada di sungai Ciliwung akibat pencemaran
limbah industri, matinya ribuan ikan laut di Pantai Teluk
Jakarta akibat pencemaran limbah industri.

Budidaya monokultur dan dampak negatif
rekayasa genetik
Sistem pertanian monokultur yang bertujuan untuk meningkatkan
produktivitas pangan, berpengaruh negatif terhadap jenis-jenis
tumbuhan yang kurang bersifat unggul karena menjadi kurang
dibudidayakan sehingga hilang dari lingkungan dan pada akhirnya
menjadi punah. Selain itu, pemanfaatan bibit unggul yang tahan hama
dan penyakit hasil rekayasa genetika juga dapat menyebabkan erosi
plasma nuftah bagi tanaman yang tidak tahan terhadap hama dan
penyakit.
Adanya eksploitasi hutan tropis menjadi lahan pertanian dan
penggundulan hutan, berdampak besar pada proses hilangnya
sumber daya alam hayati. Indonesia memiliki daftar terpanjang jenis
Info Biologi
Akibat penebangan
kayu tanpa diiringi
konservasi lahan,
sekitar 700.000
hektar areal hutan di
pulau Jawa dalam
kondisi kritis. Jika
dibiarkan, dalam 10
tahun akan gundul
dan bencana longsor
serta banjir semakin
dahsyat.
E. Pelestarian Keanekaragaman Hayati
di Indonesia
Biologi Kelas X untuk Siswa SMA – MA
3 0
tumbuhan dan hewan yang terancam kepunahan. Sudah tercatat
paling tidak, ada 126 jenis burung, 63 jenis hewan mamalia, dan 21
jenis hewan melata yang dinyatakan terancam punah. Populasi kayu
ramin menipis, kayu gaharu, dan kayu cendana terancam punah.
Dengan menurunnya keanekaragaman hayati, manusia perlu
melakukan upaya dan aktivitas yang dapat melestarikan dan
mengembangkan keanekaragaman hayati. Ada dua cara pelestarian
keanekaragaman hayati di Indonesia, yaitu pelestarian In situ dan Ek situ.

Pelestarian In situ, yaitu suatu upaya pelestarian sumber daya
alam hayati di habitat atau tempat aslinya. Hal ini dilakukan
dengan pertimbangan karakteristik tumbuhan atau hewan tertentu
sangat membahayakan kelestariannya apabila dipindahkan ke
tempat lainnya. Contohnya sebagai berikut.
a. Suaka margasatwa untuk komodo di Taman Nasional
Komodo, Pulau Komodo.
b. Suaka margasatwa untuk badak bercula satu di Taman
Nasional Ujung Kulon, Jawa Barat.
c. Pelestarian bunga Rafflesia di Taman Nasional Bengkulu.
d. Pelestarian terumbu karang di Bunaken.

Pelestarian ek situ, yaitu suatu upaya pelestarian yang dilakukan
dengan memindahkan ke tempat lain yang lebih cocok bagi
perkembangan kehidupannya. Contohnya sebagai berikut.
a. Kebun Raya dan Kebun Koleksi untuk menyeleksi berbagai
tumbuhan langka dalam rangka melestarikan plasma nuftah.
b. Penangkaran jalak bali di kebun binatang Wonokromo.
Salah satu cara untuk ikut melestarikan keanekaragaman hayati
secara nyata dan untuk pemenuhan kebutuhan dapur dan tanaman
obat maka kita dapat membuat kebun tanaman obat, baik di sekolah
ataupun di rumah kita sendiri. Dengan menggalakkan kebun tanaman
obat ini, diharapkan tidak akan terjadi kelangkaan tanaman obat akibat
kecenderungan mengkonsumsi obat-obatan kimia dan meninggalkan
fungsi tanaman obat-obatan tradisional bagi kesehatan kita.
Klasifikasi merupakan suatu cara untuk mengelompokkan
makhluk hidup. Dalam pengelompokkan makhluk hidup diperlukan
aturan, yaitu dasar yang digunakan untuk pengelompokkan, seperti
persamaan dan perbedaan ciri-ciri serta sifat makhluk hidup, yang
meliputi ciri morfologis, anatomis, biokimia, dan reproduksinya.
Pengelompokan makhluk hidup yang sudah menggunakan aturan
tertentu ini disebut sistematika.
F. Kebun Tanaman Obat Keluarga
Keanekaragaman Hayati
3 1
Makhluk hidup yang mempunyai ciri dan sifat yang sama
dimasukkan ke dalam satu kelompok, dan bila dalam
persamaan ditemukan perbedaan ciri dan sifat, maka
dipisahkan lagi ke dalam kelompok lain yang lebih kecil,
sehingga dalam kegiatan klasifikasi akan diperoleh
kelompok-kelompok makhluk hidup dengan jenjang yang
berbeda. Pengelompokkan hasil klasifikasi pada tingkattingkat yang berbeda atau pada takson yang berbeda
disebut taksonomi. Semakin tinggi jenjangnya semakin
banyak anggotanya, tetapi persamaan sifat yang dimiliki
anggotanya semakin sedikit.

Tujuan dan manfaat klasifikasi
Klasifikasi dapat berfungsi sebagai alat untuk
mempelajari keanekaragaman hayati.
Tujuan dari klasifikasi adalah sebagai berikut.
a. menyederhanakan objek studi agar mudah dipelajari;
b. mendeskripsikan ciri-ciri makhluk hidup untuk
membedakan tiap-tiap jenis;
G. Klasifikasi Makhluk Hidup
Buatlah kelompok dengan anggota maksimal 5 orang.

Dengan bimbingan guru, buatlah kebun tanaman obat di
lingkungan sekolahmu.

Bawalah enam atau lebih jenis tanaman obat, misalkan
jahe, kencur, temulawak, kunci, temu ireng, sirih ataupun
yang lainnya. Sediakan juga pupuk dan cangkul.

Carilah literatur mengenai manfaat dari masing-masing
tanaman obat yang kalian bawa.

Tanamlah tanaman obat yang telah dibawa tersebut pada
lahan yang tersedia, jika tidak ada lahan maka gunakan
pot untuk tempat penanaman. Berikan pupuk agar tanaman
tersebut tumbuh dengan subur.

Berikan identitas pada tanaman yang telah ditanam tersebut
dengan menggunakan nama ilmiah dan bahasa Indonesia.

Bersama-sama kelompokmu, rawatlah tanaman yang telah
ditanam tersebut. Buatlah jadwal piket untuk keperluan itu.
Info Biologi
Aristoteles (384-322
SM), adalah seorang
filsuf dan ilmuwan
yang lahir dari rahim
seorang istri ahli fisika
kerajaan. Di umur 17
tahun dia menjadi
murid di Akademi milik
Plato. Dia tinggal
selama 20 tahun,
sebagai murid dan
guru. Dari dialah asal
mula ilmu zoologi dan
sistem klasifikasi
makhluk hidup.
· Membuat
kebun tanaman
obat dengan
prosedur
penanaman
dan perawatan
yang benar.
· Mengetahui
nama ilmiah
berbagai
tanaman obat
dan
manfaatnya
dari literatur
yang sesuai.
Kompetensi
sains
Aktivitas Sains Tugas lapangan
Tujuan: mengenal jenis-jenis tanaman yang bermanfaat sebagai obat.
Biologi Kelas X untuk Siswa SMA – MA
3 2
c. mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan persamaan ciricirinya;
d. mengetahui hubungan kekerabatan dan sejarah evolusinya.
Adanya klasifikasi makhluk hidup mempunyai manfaat sangat
besar yang langsung dapat dirasakan manusia, yaitu sebagai berikut:
a. Pengklasifikasian melalui pengelompokkan dapat memudahkan
dalam mempelajari organisme yang beraneka ragam.
b. Klasifikasi dapat digunakan untuk melihat hubungan tingkat
kekerabatan antara organisme satu dengan lainnya.

Tahapan klasifikasi
Untuk mengklasifikasikan makhluk hidup harus melalui
serangkaian tahapan. Tahapan tersebut antara lain sebagai berikut.
a. Pengamatan sifat makhluk hidup
Pengamatan merupakan proses awal klasifikasi, yang dilakukan
dalam proses ini adalah melakukan identifikasi makhluk hidup satu
dengan makhluk hidup yang lainnya. Mengamati dan mengelompokkan berdasarkan tingkah laku, bentuk morfologi,
anatomi, dan fisiologi.
b. Pengelompokkan makhluk hidup
berdasarkan pada ciri yang diamati
Hasil pengamatan kemudian diteruskan ke
tingkat pengelompokkan makhluk hidup. Dasar
pengelompokkannya adalah ciri dan sifat atau
persamaan dan perbedaan makhluk hidup yang
diamati.
c. Pemberian nama makhluk hidup
Pemberian nama makhluk hidup merupakan
hal yang penting dalam klasifikasi. Ada berbagai
sistem penamaan makhluk hidup, antara lain
pemberian nama dengan sistem tata nama ganda
(binomial nomenclature). Dengan adanya nama
makhluk hidup maka ciri dan sifat makhluk hidup
akan lebih mudah dipahami.

Sistem klasifikasi
Berdasarkan kriteria yang digunakan, sistem klasifikasi makhluk
hidup dibedakan menjadi tiga, yaitu sistem buatan, sistem alami, dan
sistem filogenik.
Gambar 2.9
Aristoteles
Sumber : www.flu.cas.cz
Keanekaragaman Hayati
3 3
a. Sistem buatan
Sistem klasifikasi buatan mengutamakan tujuan praktis
dalam ikhtisar dunia makhluk hidup. Klasifikasi buatan
diperkenalkan oleh Carollus Linnaeus (1707-1778). Dasar
klasifikasi adalah ciri morfologi, alat reproduksi, habitat dan
penampakan makhluk hidup (bentuk dan ukurannya).
Misalnya, pada klasifikasi tumbuhan ada pohon, semak,
perdu, dan gulma. Berdasarkan tempat hidup, dapat
dikelompokkan hewan yang hidup di air dan hewan yang
hidup di darat. Berdasarkan kegunaannya, misalnya
makhluk hidup yang digunakan sebagai bahan pangan,
sandang, papan dan obat-obatan.
b. Sistem alami
Klasifikasi makhluk hidup yang menggunakan sistem
alami menghendaki terbentuknya takson yang alami.
Klasifikasi ini dikemukakan oleh Aristoteles pada tahun 350
SM. Klasifikasi ini didasarkan pada sistem alami, artinya
suatu pengelompokan yang didasarkan pada ciri morfologi/
bentuk tubuh alami, sehingga terbentuk takson-takson yang
alami, misalnya hewan berkaki empat, hewan bersirip,
hewan tidak berkaki, dan sebagainya. Pada tumbuhan
misalnya tumbuhan berdaun menyirip, tumbuhan berdaun
seperti pita, dan sebagainya.
c. Sistem filogenik
Sistem klasifikasi ini didasarkan pada jauh dekatnya
hubungan kekerabatan antara takson yang satu dan yang
lainnya sekaligus mencerminkan perkembangan makhluk
hidup (filogenik), diperkenalkan oleh Charles Darwin (1859).
Makin dekat hubungan kekerabatan maka makin banyak
persamaan morfologi dan anatomi antar takson. Semakin
sedikit persamaan maka makin besar perbedaannya,
berarti makin jauh hubungan kekerabatannya. Misalnya,
gorila lebih dekat kekerabatannya dengan orangutan
dibandingkan dengan manusia. Hal itu didasarkan pada
tes biokimia setelah ilmu pengetahuan berkembang
pesat, terutama ilmu pengetahuan tentang
kromosom, DNA, dan susunan protein organisme.

Advertisement

Takson dalam sistem klasifikasi
Makhluk hidup yang ada di bumi ini banyak sekali jumlahnya dan
selain itu sangat beraneka ragam pula jenisnya. Sejak manusia lahir
di bumi ini telah sadar akan adanya dua fenomena itu, dan semenjak
Info Biologi
Corolus Linnaeus,
seorang ilmuwan
Swedia lahir di kota
kecil bernama
Smaland. Ayahnya
seorang menteri yang
sangat menyukai
tanaman dan memiliki
kebun yang luas.
Corollus kecil
mendapat
pengetahuan botani
dari ayahnya.
Gambar 2.10
Charles Darwin
Sumber : Microsoft Encarta 2006
Biologi Kelas X untuk Siswa SMA – MA
3 4
Gambar 2.11
Corolus Linnaeus seorang ilmuwan
Swedia yang memperkenalkan sistem
klasifikasi buatan.
itu pula manusia telah berusaha untuk memahami kedua gejala itu
dan mengungkapkan makna yang terkandung di dalamnya.
Kesadaran dan usaha itulah yang akhirnya melahirkan cabang ilmu
hayat yang sekarang disebut ilmu taksonomi. Bergantung pada
makhluk hidup yang akan dipelajari. Kita menamakan taksonomi
hewan bila yang dijadikan objek studi adalah hewan, dan taksonomi
tumbuhan bila yang dijadikan objek studi adalah tumbuhan.
Dalam bukunya yang berjudul Handbuch Der
Systematischer Botanik, Wettstein mengemukakan, bahwa
tugas taksonomi tumbuhan adalah “Pengenalan (Identifikasi)
jenis, baik yang ada di masa sekarang ataupun yang hidup
pada masa perkembangan bumi yang telah silam, dan upaya
untuk menggolongkan (mengklasifikasikan) ke dalam satu
sistem yang di satu pihak sesuai dengan kemajuan ilmu
pengetahuan dengan memberikan gambaran hubungan
kekerabatan dalam sejarah perkembangan antara tumbuhan
satu dan yang lainnya, serta di lain pihak dapat memenuhi
kebutuhan yang praktis berupa ikhtisar ringkas dunia
tumbuhan”.
Betapapun panjangnya rumusan yang
diberikan, namun tetap menjelaskan apa yang
dimaksud dengan taksonomi tumbuhan. Akan
tetapi, bila diperhatikan dengan saksama,
sebenarnya unsur utama yang menjadi lingkup
taksonomi tumbuhan adalah pengenalan
(identifikasi) yang di dalamnya tercakup pemberian
nama (klasifikasi).
Kata taksonomi sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu
taxis (susunan, penyusunan, penataan) atau taxon (setiap
unit yang digunakan dalam klasifikasi objek biologi) dan nomos (hukum). Istilah taksonomi diperkenalkan oleh seorang
ahli taksonomi tumbuhan berkebangsaan Prancis pada tahun
1813, untuk teori klasifikasi tumbuhan, sehingga tidak
mengherankan bila ada ahli biologi yang memberikan
interpretasi taksonomi sebagai teori dan praktek tentang
pengklasifikasian makhluk hidup.
Pada waktu sekarang, kegiatan klasifikasi ini dirasakan
sebagai sesuatu yang imperatif, yang tidak boleh tidak harus
dilakukan dalam bidang ilmu manapun, apabila bidang ilmu
yang bersangkutan menghadapi objek studi seperti yang
dihadapi taksonomi tumbuhan. Itulah sebabnya kita mengenal
pula taksonomi hewan, dan bila dalam kimia organik kita
Sumber : Microsoft Encarta 2006
Charles Darwin (1809-
1882) adalah ilmuwn
Inggris yang lahir di
Shrewsbury,
Shropshire Inggris
pada 12 Februari

Ia merupakan
anak ke-5 dari
keluarga Inggris yang
kaya dan ternama.
Pada umur 22 tahun
ia berlayar dengan
kapal HMS Beagle
untuk ekspedisi.
Sepulangnya dari
ekspedisi ia
mengemukakan teori
seleksi alamiah yang
menjadi landasan bagi
ilmu evolusi modern
Info Biologi
Keanekaragaman Hayati
3 5
harus mempelajari bahan-bahan organik yang demikian besar pula
jumlah, macam dan ragamnya, penanganannya pun dengan
menggunakan pengklasifikasian bahan-bahan organik itu.
Klasifikasi yang bertujuan untuk menyederhanakan objek studi
itu pada hakekatnya tidak lain adalah mencari keseragaman dari
keanekaragaman. Betapapun besar keanekaragaman yang
diperlihatkan oleh suatu populasi, pastilah dapat ditemukan diantara
warga populasi itu kesamaan ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu, entah
berapa besar atau banyaknya kesamaan-kesamaan itu. Kesamaan
atau keseragaman itulah yang dijadikan dasar dalam mengadakan
klasifikasi. Jelas, bahwa dengan demikian warga suatu unit atau
takson mempunyai sejumlah kesamaan-kesamaan sifat. Takson
yang warganya menunjukkan kesamaan sifat yang banyak tentulah
takson yang lebih kecil daripada suatu takson yang warganya
menunjukkan kesamaan yang lebih sedikit. Dengan demikian dari
keseluruhan tumbuhan yang ada di bumi ini dapat kita susun taksontakson besar dan kecil, yang dapat ditata menurut suatu hierarki,
misalnya berturut-turut dari yang paling besar ke yang paling kecil
atau sebaliknya.
Bila suatu tumbuhan tunggal disebut sebagai analog, seperti yang
diterapkan pada manusia sebagai suatu individu (individuum) dan
seluruh tumbuhan yang ada di bumi ini disebut sebagai dunia atau
kerajaan (regnum) tumbuhan, selanjutnya individu serta istilah dunia
(regnum) kita gunakan untuk menyebut berturut-turut takson yang
paling kecil sampai yang paling besar. Sesuai dengan kesepakatan
internasional, berturut-turut dari yang besar ke yang kecil dapat kita
tuliskan sebagai berikut.
Gambar 2.12
Klasifikasi hewan
Sumber : Microsoft Encarta 2006
Leluhur
Protozoa
Leluhur
Planuloid
Leluhur Aselomata
(cacing pipih) Leluhur Selomata
Spons
Coelaenterata
Platyhelminthes
Mollusca
Annelida
Arachnida
Crustasea
Insecta
Echinodermata
Pisces
Amphibia
Reptilia
Aves
Mamalia
Arthropoda
Cordata
Vertebrata
Biologi Kelas X untuk Siswa SMA – MA
3 6
Jika kita mengambil takson atau kelompok utamanya saja maka
tiap kingdom/regnum dibagi menjadi golongan yang lebih kecil, yaitu
Divisio untuk tumbuhan, sedangkan Phyllum untuk hewan. Tiap divisi
atau filum dibagi lagi dalam classis. Tiap classis dibagi lagi menjadi
ordo, ordo dibagi menjadi beberapa familia dan familia dibagi menjadi
genus, genus dibagi menjadi spesies atau jenis.
Contoh klasifikasi pada manusia dari takson Kingdom sampai
dengan Species dapat ditunjukkan pada tabel berikut ini.
Dunia = Regnum
Anak dunia = Subregnum
Divisi = Divisio
Anak divisi = Subdivisio
Kelas = Classis
Anak kelas = Subclassis
Bangsa = Ordo
Anak bangsa = Subordo
Suku = Familia
Anak suku = Subfamilia
Rumpun = Tribus
Anak rumpun = Subtribus
Marga = Genus
Anak marga = Subgenus
Seksi = Sectio
Anak seksi = Subsectio
Seri = Series
Anak seri = Subseries
Jenis = Species
Anak jenis = Subspecies
Varietas = Varietas
Anak Varietas = Subvarietas
Bentuk = Forma
Anak bentuk = Subforma
Individu = Individuum
Takson
Domain
Kingdom
Phyllum
Classis
Ordo
Familia
Genus
Species
Nama Indonesia
Domain
Dunia/kerajaan
Filum
Kelas
Bangsa
Suku
Marga
Jenis/spesies
Klasifikasi manusia
Eukariota
Animalia
Chordata
Mammalia
Primata
Homonidae
Homo
Homo sapiens
Kingdom animalia meliputi semua jenis hewan. Filum
chordata, meliputi hewan yang bertulang belakang, kelas mamalia
meliputi hewan bertulang belakang yang mempunyai rambut dan
kelenjar susu. Ordo primata meliputi mamalia yang mempunyai
anggota tubuh berupa tangan untuk menggenggam dan kaki untuk
berjalan. Famili hominidae meliputi kera, manusia primitif dan
Keanekaragaman Hayati
3 7
manusia modern. Genus homo meliputi hanya manusia primitif
dan manusia modern, sedangkan untuk spesies sapiens hanya
untuk manusia modern.
Sejak tahun 1978 sistem klasifikasi mengenal tingkatan
takson baru yang terletak di atas Kingdom atau Regnum, yaitu
tingkatan Domain. Makhluk hidup dikelompokkan menjadi 3
domain, yaitu Archaea (Eubacteria), Bacteria dan Eukarya. Sistem
klasifikasi tiga Domain didasarkan atas urutan basa dalam RNA,
sistem ini memberi penekanan lebih pada pemisahan evolusioner
awal antara bakteri dan arkhae dengan cara menggunakan suatu
takson superkingdom yang disebut dengan Domain. Sistem ini
menekankan keanekaragaman biologis diantara protista.
Domain Archaea (Eubacteria) terdiri atas satu kingdom
Archaea dengan 2 filum, memiliki ciri-ciri dalam garis evolusi yang
lebih dekat dengan Eukariota. Domain bacteria tersusun atas
satu Kingdom bacteria dengan 23 filum. Domain eukarya terdiri
atas semua kingdom organisme eukariota, yang terdiri atas
empat kingdom, yaitu Animalia, Plantae, Fungi, dan Protista.

Sistem tata nama ganda (binomial nomenclature)
Sebelum digunakan nama baku yang diakui dalam dunia ilmu
pengetahuan, makhluk hidup diberi nama sesuai dengan nama daerah
masing-masing, sehingga terjadi lebih dari satu nama untuk menyebut
satu makhluk hidup. Misalnya, mangga ada yang menyebut poah,
ada yang menyebut pauh, dan ada pula yang menyebut pelem. Nama
pisang, di daerah jawa tengah disebut dengan gedang, sedangkan di
daerah Sunda gedang berarti pepaya. Karena adanya perbedaan
penyebutan ini maka akan mengakibatkan salah pengertian sehingga
informasi tidak tersampaikan dengan tepat atau pun informasi tidak
dapat tersebar luas ke daerah-daerah lain atau pun negara lain.
Carollus Linnaeus seorang sarjana kedokteran dan ahli botani
dari Swedia berhasil membuat sistem klasifikasi makhluk hidup. Untuk
menyebut nama makhluk hidup, C. Linneaus menggunakan sistem
tata nama ganda, yang aturannya sebagai berikut.
a. Untuk menulis nama Species (jenis)
1) Terdiri dari dua kata, dalam bahasa latin.
2) Kata pertama menunjukkan nama genus dan kata kedua
merupakan penunjuk spesies.
3) Cara penulisan kata pertama diawali dengan huruf besar,
sedangkan nama penunjuk spesies dengan huruf kecil.
Klasifikasi
bertujuan untuk
menyederhanakan
objek studi yang
pada
hakekatnya tidak
lain adalah
mencari
keseragaman
dari
keanekaragaman.
Ingatlah
Biologi Kelas X untuk Siswa SMA – MA
3 8
4) Apabila ditulis dengan cetak tegak maka harus digarisbawahi
secara terpisah antarkata, sedangkan jika ditulis dengan
cetak miring maka tidak digarisbawahi. Contohnya: nama
jenis tumbuhan Oryza sativa atau dapat juga ditulis Oryza
sativa (padi) dan Zea mays dapat juga ditulis Zea mays
(jagung).
5) Apabila nama spesies tumbuhan terdiri lebih dari dua kata
maka kata kedua dan seterusnya harus disatukan atau ditulis
dengan tanda penghubung. Misalnya, nama bunga sepatu,
yaitu Hibiscus rosasinensis ditulis Hibiscus rosa-sinensis.
Sedangkan jenis hewan yang terdiri atas tiga suku kata
seperti Felis manuculata domestica (kucing jinak) tidak
dirangkai dengan tanda penghubung. Penulisan untuk
varietas ditulis seperti berikut ini yaitu, Hibiscus sabdarifa
varalba (rosella varietas putih).
6) Apabila nama jenis tersebut untuk mengenang jasa orang
yang menemukannya maka nama penemu dapat
dicantumkan pada kata kedua dengan menambah huruf (i)
di belakangnya. Contohnya antara lain tanaman pinus yang
diketemukan oleh Merkus, nama tanaman tersebut menjadi
Pinus merkusii.
b. Untuk menulis Genus (marga)
Nama genus tumbuhan maupun hewan terdiri atas satu kata
tunggal yang dapat diambil dari kata apa saja, dapat dari nama hewan,
tumbuhan, zat kandungan dan sebagainya yang merupakan
karakteristik organisme tersebut. Huruf pertamanya ditulis dengan
huruf besar, contoh genus pada tumbuhan, yaitu Solanum (terungterungan), genus pada hewan, misalkan Canis (anjing), Felis (kucing).
c. Untuk menulis nama Familia (suku)
Nama familia diambil dari nama genus organisme bersangkutan
ditambah akhiran -aceae untuk organisme tumbuhan, sedangkan
untuk hewan diberi akhiran -idea. Contoh nama familia untuk terungterungan adalah Solanaceae, sedangkan contoh untuk familia anjing
adalah Canidae.
d. Untuk menulis nama Ordo (bangsa)
Nama ordo diambil dari nama genus ditambah akhiran ales,
contoh ordo Zingiberales berasal dari genus Zingiber + akhiran ales.
e. Untuk menulis nama Classis (kelas)
Nama classis diambil dari nama genus ditambah dengan akhiran
-nae, contoh untuk genus Equisetum maka classisnya menjadi
Equisetinae. Ataupun juga dapat diambil dari ciri khas organisme
tersebut, misal Chlorophyta (ganggang hijau), Mycotina (jamur).
Betapa pun
besar
keanekaragaman
yang
diperlihatkan
oleh suatu
populasi, pasti
dapat ditemukan
persamaan ciriciri
Ingatlah
Keanekaragaman Hayati
3 9

Klasifikasi alternatif
Dengan kemajuan tekhnologi dan perkembangan ilmu
pengetahuan, para ahli mengembangkan beberapa sistem klasifikasi
makhluk hidup. Para ahli membagi makhluk hidup menjadi beberapa
sistem kingdom, yaitu sebagai berikut.
a. Sistem dua kingdom
Sistem ini membagi makhluk hidup menjadi dua dunia, yaitu dunia
hewan dan dunia tumbuhan. Dasar klasifikasi ini adalah ciri dan sifat
tumbuhan yang mempunyai dinding sel keras seperti selulosa dan hewan
yang mempunyai sifat dapat bergerak aktif, dan berpindah tempat.
b. Sistem tiga kingdom
Sistem ini mengelompokkan organisme menjadi tiga dunia, yaitu
Plantae, Animalia dan Fungi. Sistem ini didasarkan pada cara
memperoleh nutrisi. Plantae (tumbuhan) merupakan organisme yang
dapat melakukan fotosintesis sehingga dapat memenuhi kebutuhan
makan diri sendiri maka disebut organisme autotrop. Animalia sebagai
fagotrop, yaitu organisme heterotrop yang menelan makanan
berbentuk padat dan menggunakan senyawa organik sebagai sumber
energinya. Fungi merupakan organisme heterotrofik dan saprofitik
yang memperoleh nutrisi dari organisme yang telah mati. Bila fungi
mengambil nutrisi dengan cara mengambil dari organisme hidup lain
maka disebut parasitik.
c. Sistem empat kingdom
Sistem ini mengelompokkan organisme menjadi empat dunia,
yaitu Plantae, Animalia, Fungi, dan Prokariotik. Prokariotik adalah
organisme yang mempunyai inti, tetapi intinya tidak memiliki membran
inti.
d. Sistem lima kingdom
R.H. Whittaker mengelompokkan organisme menjadi lima dunia
berdasarkan tingkat organisme, kondisi inti sel, dan nutrisinya. Kelima
dunia tersebut adalah sebagai berikut.
1) Kingdom Monera
Monera meliputi makhluk hidup yang sangat sederhana.
Termasuk ke dalam kingdom ini adalah bakteri dan alga biru
(Cyanophyta). Monera bersifat prokariotik, sel-selnya mempunyai
nukleus atau inti sel yang tidak bermembran. Sel-selnya
membelah secara sederhana, yaitu dengan amitosis.
Kromosomnya tunggal dan berbentuk melingkar. Klorofil
tersebar dan tidak terlindung oleh membran.
Biologi Kelas X untuk Siswa SMA – MA
4 0
2) Kingdom Protista
Termasuk ke dalam kingdom ini adalah organisme yang bersel
tunggal bersifat eukariotik. Eukariotik berarti inti sel-selnya telah
bermembran, meliputi protozoa dan alga. Sistem klasifikasi ini
dirintis oleh Ernst Haeckel (1834-1919)
3) Kingdom Mycota
Kingdom ini meliputi makhluk hidup yang tidak mempunyai
klorofil, sehingga tidak dapat mensintesa makanan sendiri atau
bersifat heterotrop, ada yang bersifat parasit, ada juga yang
bersifat saprofit. Termasuk di dalamnya adalah berbagai jamur,
seperti jamur merang, jamur kuping dan jamur oncom.
4) Kingdom Plantae
Kingdom ini meliputi makhluk hidup yang mampu melakukan
fotosintesis, yaitu makhluk hidup yang mempunyai klorofil,
sehingga dapat hidup tanpa mengambil energi dari organisme
lain. Makhluk itu disebut organisme autotrop. Termasuk di
dalamnya adalah Bryophyta, Pteridophyta, dan Spermatophyta.
5) Kingdom Animalia
Kingdom ini meliputi makhluk hidup eukariotik bersel banyak,
bersifat heterotrop, meliputi Porifera, Platyhelminthes, Hydrozoa,
Nematoda, Rotifera, Annelida, Molusca, Arthropoda, Echinodermata dan Chordata.
Porifera Hydrozoa
Bakteri
(E. Coli)
Alga biru
(Cyanophyta)
Protozoa
(Amoeba) Alga
(Phaeophyta)
SISTEM LIMA KINGDOM
MONERA PROTOZOA ANIMALIA MYCOTA PLANTAE
Ascomycota Basidiomycota Zygomycota
Bryophyta Pteridophyta Spermatophyta
Arthropoda
Gambar 2.13
Sistem klasifikasi makhluk hidup dengan sistem lima Kingdom
Platyhelmithes Nematoda Rotifera Anelida Molusca Echinodermata Chordata
Chytridiomycota
Sumber : Micosoft Encarta 2006
Keanekaragaman Hayati
4 1
e. Sistem enam kingdom
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mendorong
ilmuwan untuk selalu mengembangkan hasil penelitian termasuk
pengelompokan makhluk hidup menjadi enam kingdom. Sistem
pengelompokan enam kingdom adalah Archaea (Eubacteria),
Bacteria, Protista, Fungi, Plantae, dan Animalia. Kingdom Archea dan
Bacteria mempunyai ciri-ciri antara lain, prokariotik, bahan genetik
(DNA) tidak berstruktur dalam bentuk nukleus, DNA terdapat pada
nuclear area (nukleoid), tidak mempunyai organel (organel tidak
bermembran), umumnya lebih kecil dari sel eukariotik, kecuali bakteri
Epulofosculum fishelsoni (650m = 0,65mm) dan Thiomargarrita
namimbiensis (800m = 0,80 mm).

Klasifikasi tumbuhan
Dunia tumbuhan dikelompokkan menjadi Thallophyta, Bryophyta,
Pteridophyta dan Spermatophyta. Berikut akan dijelaskan masingmasing kelompok tumbuhan tersebut dari yang paling rendah
tingkatannya (Thallophyta) sampai dengan tumbuhan yang paling
tinggi tingkatannya (Spermatophyta). Dilihat dari ciri-ciri karakteristik
morfologi, dunia tumbuhan dikelompokkan sebagai berikut.
a. Thallophyta
Thallophyta merupakan tumbuhan yang paling sederhana
tingkatannya dibandingkan dengan kelompok tumbuhan yang lain.
Thallophyta adalah tumbuhan bertalus, artinya tumbuhan tersebut
belum memiliki organ tubuh yang jelas, seperti akar, batang, dan daun.
Untuk melestarikan kehidupannya, tumbuhan ini mempunyai tubuh
yang sederhana tetapi memiliki fungsi yang sama dengan organ tubuh
tanaman pada umumnya.
b. Fungi (jamur)
Berdasarkan struktur tubuhnya, jamur
digolongkan ke dalam tumbuhan tingkat
rendah (Thallophyta), tetapi jika dilihat dari ada
tidaknya klorofil maka jamur dikelompokkan
tersendiri, tidak dijadikan satu kelompok
dengan tumbuhan yang lain. Jamur tidak
mempunyai klorofil maka tidak dapat
mensintesa sendiri makanan yang diperlukan.
Mereka mengambil dari sisa-sisa organisme
dan mencernanya dengan cara enzimatis.
Karena suhu dan kelembaban yang tinggi
maka di Indonesia ditemukan banyak sekali
jamur dari berbagai jenis.
Gambar 2.14
Berbagai jenis jamur
Sumber : Microsoft Encarta 2006
jelly fungus
jamur sarang
burung jamur
agaricales
Biologi Kelas X untuk Siswa SMA – MA
4 2
Jamur dikelompokkan menjadi beberapa golongan, yaitu.
1) Oomycotina (contoh: Pithium sp, Phytophora sp),
2) Zygomycotina (contoh Rhizopus oryzae, Rhizopus nigricans),
3) Ascomycotina (contoh: Saccharomyces crevice, Penicillium
notatum),
4) Basidiomycotina (contoh: Volvariella volvacea, Puccinia
graminis),
5) Deuteromycotina (contoh Chladosporium sp, Curvularia sp).
c. Lumut kerak (Lichenes)
Lumut kerak merupakan simbiosis
antara alga hijau (Cyanophyta) dengan jamur
dari kelompok Ascomycotina atau Basidiomycotina. Di Indonesia lumut kerak
tersebar luas lebih dari 1.000 jenis yang
diketahui dari sekitar 2.500 jenis yang ada.
Biasanya tanaman simbiosis ini hidup
menempel pada kulit batang tanaman, dan
dapat hidup di tempat lembap, karena alga
memerlukan air untuk fotosintesis.
d. Tumbuhan lumut (Bryophyta)
Tumbuhan lumut susunan tubuhnya lebih kompleks dibanding
dengan Thallophyta. Dalam daur hidupnya terdapat pergantian
keturunan (metagenesis) antara turunan vegetatif dengan turunan
generatif. Gametofit lebih menonjol dibanding sporofit. Gametofit
merupakan turunan vegetatif yang melekat pada substrat dengan
menggunakan rizoid. Sporofit merupakan turunan vegetatif berupa
badan penghasil spora (sporangium). Sporofit itu tumbuh pada
gametosit bersifat parasit. Habitatnya di daratan yang lembab, ada
pula yang hidup sebagai epifit. Tubuhnya tidak memiliki berkas
pembuluh (vaskular seperti pembuluh xilem dan floem). Berdasarkan
struktur tubuhnya dibedakan atas lumut hati (Hepaticae) dan lumut
daun (Musci).
e. Tumbuhan paku-pakuan (Pteridophyta)
Tumbuhan paku-pakuan sudah memiliki akar, batang dan
daun, sehingga tingkatannya lebih tinggi dibanding tumbuhan lumut.
Pada batang sudah terdapat jaringan pengangkut xilem dan floem
yang teratur. Seperti halnya lumut, tanaman ini dalam reproduksinya
mengalami metagenesis, turunan gametofit dan sporofitnya
bergantian. Sporofit yang bersifat autotrop merupakan tumbuhan
yang sempurna, sehingga mempunyai usia yang relatif panjang
dibandingkan dengan gametofitnya. Generasi gametofitnya berupa
protalium, merupakan tumbuhan yang tidak sempurna walaupun
Gambar 2.15
Lichenes
Sumber : Microsoft Encarta 2006
Keanekaragaman Hayati
4 3
bersifat autotrop. Oleh karena itu, usianya
relatif pendek. Ciri morfologis yang tampak
adalah ujung daun yang masih muda terlihat
menggulung. Embrionya berkutub dua (bipolar), sedangkan tumbuhan dewasanya
berkutub satu (monopolar).
Tumbuhan paku-pakuan dapat tumbuh
dengan baik pada lingkungan yang lembap
dan ada beberapa jenis paku-pakuan yang
dapat hidup di dalam air.
f. Spermatophyta
Dilihat dari struktur tubuhnya, anggota
Spermatophyta merupakan tumbuhan tingkat
tinggi. Organ tubuhnya lengkap dan
sempurna, sudah terlihat adanya perbedaan
antara akar, batang dan daun yang jelas atau
sering disebut dengan tumbuhan berkormus
(Kormophyta). Sporofit merupakan tanaman
yang utama, sedangkan gametofitnya
merupakan bagian tanaman yang nantinya
akan mereduksi. Tumbuhan yang menjadi
anggota Spermatophyta menggunakan biji
sebagai alat reproduksi, melalui fertilisasi
antara spermatozoid yang dibentuk dalam
kepala sari dengan ovum dalam kandung
lembaga. Hasil fertilisasi akan disimpan
dalam biji yang dilindungi oleh kulit biji dan
akan disuplai nutrisi dari endosperm
(cadangan makanan).
Berdasarkan kondisi bijinya, Spermatophyta digolongkan menjadi
tumbuhan berbiji terbuka (Gymnospermae) dan tumbuhan berbiji
tertutup (Angiospermae)
1) Gymnospermae
Ciri morfologi tumbuhan ini adalah berakar tunggang, daun sempit,
tebal dan kaku, biji terdapat dalam daun buah (makrosporofil) dan
serbuk sari terdapat dalam bagian yang lain (mikrosporofil), daun
buah penghasil dan badan penghasil serbuk sari terpisah dan masingmasing disebut dengan strobillus.
Ciri-ciri anatominya memiliki akar dan batang yang berkambium,
akar mempunyai kaliptra, batang tua dan batang muda tidak
mempunyai floeterma atau sarung tepung, yaitu endodermis yang
Gambar 2.16
Berbagai jenis tumbuhan
paku-pakuan
Sumber : Microsoft Encarta 2006
Sumber : Microsoft Encarta 2006
Gambar 2.17
Berbagai jenis tumbuhan
spermatophyta
pakis haji
tanaman paku
paku sarang burung
bunga mawar
anggrek bulan
vinca
Biologi Kelas X untuk Siswa SMA – MA
4 4
mengandung zat tepung. Pembuahan tunggal dan selang waktu
antara penyerbukan dengan pembuahan relatif lama. Berkas
pembuluh angkut belum berfungsi secara sempurna berupa trakeid.
Yang termasuk golongan ini adalah Cycas rumphii (pakis haji),
Ginko opsida (ginko).
2) Angiospermae
Tanaman angiospermae mempunyai ciri-ciri morfologi sebagai
berikut mempunyai bunga yang sesungguhnya, bentuk daun pipih
dan lebar dengan susunan daun yang bervariasi, bakal biji tidak
tampak terlindung dalam daun buah atau putik, terjadi pembuahan
ganda, pembentukan embrio dan endosperm berlangsung dalam
waktu yang hampir bersamaan.
Angiospermae dibedakan menjadi dua kelas berdasarkan keping
biji (kotiledon), adalah sebagai berikut.
a) Monokotiledon, yaitu tumbuhan yang mempunyai keping biji
tunggal. Contohnya kelapa (Cocos nucifera), melinjo (Gnetum
gnemon).
b) Dikotiledon, yaitu tumbuhan yang mempunyai keping biji dua.
Contohnya petai (Parkia speciosa), cabe rawit (Capsicum
frustescens).
Tabel perbedaan morfologi dan anatomi monokotiledon dengan
dikotiledon.
Pembeda
Kotiledon
Sistem perakaran
Kambium
Tulang daun
Jumlah bagian bunga
Keadaan biji setelah
berkecambah
Kaliptra
Monokotiledon
Satu buah
Serabut
Tidak berkambium
Sejajar/melengkung
Kelipatan tiga
Tetap utuh
Punya kaliptrogen
Dikotiledon
Dua buah
Tunggang
Berkambium
Menyirip/menjari
Kelipatan empat/lima
Terbelah dua
Tidak punya kaliptrogen

Determinasi atau identifikasi
Selain mengadakan klasifikasi, tugas utama taksonomi lainnya
yang penting ialah pengenalan atau identifikasi. Melakukan identifikasi
tumbuhan berarti mengungkapkan atau menetapkan identifikasi (“jati
Keanekaragaman Hayati
4 5
diri”) suatu tumbuhan, yang dalam hal ini tidak lain adalah menentukan
namanya yang benar dan tempatnya yang tepat dalam sistem
klasifikasi. Untuk istilah identifikasi sering juga digunakan istilah
determinasi yang diambil dari bahasa Belanda, yaitu determinatie yang
artinya penentuan.
Siapapun yang menghadapi benda yang tidak ia kenal, pertamatama yang ditanyakan tentulah ” Benda apakah ini ?” Demikian pula
setiap orang yang tidak peduli apakah ia seorang pakar ilmu tumbuhan
ataukah ia orang awam, menghadapi suatu tumbuhan yang tidak ia
kenal, pasti yang pertama-tama ia tanyakan adalah “Tumbuhan
apakah ini gerangan?” Itu berarti yang ingin ia ketahui terlebih dahulu
adalah identitas tumbuhan itu, yang berarti pula bahwa yang pertamatama dilakukan oleh siapapun yang tidak atau belum mengenal
tumbuhan yang ia hadapi adalah berusaha mengenal atau melakukan
identifikasi tumbuhan tadi.
Dari tumbuhan dan hewan yang ada di bumi ini, yang beraneka
ragam dan besar jumlahnya itu, tentu ada yang telah kita kenal dan
ada pula yang belum kita kenal. Yang kita kenal mungkin juga dikenal
orang lain tetapi mungkin juga tidak. Sebaliknya pun dapat terjadi,
tumbuhan yang tidak kita kenal itu belum dikenal juga oleh siapapun,
maka belum dikenal pula oleh dunia ilmu pengetahuan.
Untuk menentukan nama jenis atau kelompok organisme yang
diteliti, digunakan cara identifikasi dengan menyamakan ciri-ciri yang
ada dengan ciri-ciri yang tercantum dalam kunci determinasi. Kunci
determinasi berisi sejumlah keterangan yang digunakan untuk
menentukan kelompok atau jenis organisme berdasarkan ciri yang
dimilikinya. Untuk menentukan nama kelompok famili, genus, dan
spesies dapat dilakukan dengan cara mencocokkan objek tersebut
dengan ciri-ciri yang tertulis dalam kunci determinasi tersebut.
Tahapan yang dilakukan dalam menggunakan kunci determinasi
untuk menentukan nama suatu kelompok makhluk hidup adalah
sebagai berikut.
a. Mengambil objek yang lengkap, jika tumbuhan maka bagian yang
diambil harus selengkap mungkin, mulai dari akar, batang, daun,
bunga, dan buah serta biji.
b. Mengamati objek, jika perlu gunakan lup untuk memperbesar
objek.
c. Mencocokkan hasil pengamatan dengan kunci determinasi yang
memuat ciri-ciri objek tersebut.
d. Menentukan nama atau kelompok objek dan menuliskan rumus
determinasinya.
Biologi Kelas X untuk Siswa SMA – MA
4 6
Untuk melakukan pencandraan seperti pada urutan kedua di
atas, kita memerlukan daftar ciri-ciri yang dipergunakan untuk
melakukan pengamatan tersebut, daftar ciri-ciri itu disebut dengan
kunci determinasi atau kunci dikotomi. Disebut dikotomi karena daftar
tersebut terdiri atas dua pernyataan yang berlawanan.
Untuk membuat kunci dikotomis dapat dilakukan melalui
langkah-langkah berikut ini.
a. Kelompokkan seluruh organisme yang akan diamati.
b. Gunakan ciri-ciri umum yang ada pada organisme tersebut,
sehingga akan dihasilkan dua kelompok organisme yang berbeda
ciri-ciri umumnya.
c. Gunakanlah ciri-ciri atau struktur yang lebih khusus, sehingga
dua kelompok tersebut masing-masing terbagi lagi menjadi dua
kelompok yang lebih kecil lagi.
d. Kegiatan pengelompokkan dilanjutkan sampai dihasilkan kelompok
yang tidak dapat dibagi-bagi lagi ke dalam kelompok yang lebih
kecil, sehingga akan ditemukan nama dari organisme tersebut.
“Contoh kunci dikotomi/determinasi sederhana adalah sebagai
berikut.”

a. Tumbuhan dengan ciri batangnya termasuk dalam batang tidak sejati atau
tidak memiliki alat tubuh yang menyerupai batang … lumut hati
b. Tumbuhan dengan batang sejati atau memiliki alat tubuh yang menyerupai
batang ….2

a. Pada batang tidak diketemukan pembuluh … Lumut daun
b. Pada batang terdapat jaringan pembuluh ….3

a. Tumbuhan tidak berbunga ….4
b. Tumbuhan berbunga atau memiliki organ yang berfungsi seperti
bunga ….4

a. Pada daun terdapat bintik kuning atau coklat, jika ditekan akan keluar
serbuk kecil … Tumbuhan paku
b. Pada daun tidak diketemukan adanya bintik kuning atau coklat ….5

a. Tumbuhan tidak dengan bunga sejati, pada ujung ranting atau ketiak daun
terdapat badan berbentuk kerucut yang menghasilkan bakal biji …
Gymnospermae
b. Tumbuhan dengan bunga sejati dan tidak mempunyai organ berbentuk
kerucut pada ujung atau ketiak daunnya ….6

a. Berakar serabut ….7
b. Berakar tunggang ….8

a. Batang berongga … Padi
b. Batang tidak berongga … Jagung

a. Bunga berbentuk kupu-kupu … Kacang
b. Bunga berbentuk terompet …. Terung

Advertisement

Written by Ningsih

hidup adalah yadnya dan tidak ada yadnya yang sia-sia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mengenal Biologi Sebagai Ilmu

Materi Biologi Prokariota dan Eukariota