in

Materi Tentang Yadnya

Materi Tentang Yadnya

Dalam tradisi agama Hindu meyakini bahwa alam semesta beserta isinya diciptakan oleh Tuhan. Segala keteraturan alam semesta beserta hukum-hukum alam (Rta) yang terdapat didalamnya, diyakini pula dikendalikan oleh-Nya. Dengan demikian, sudah sepantasnya kita berterimakasih dan berbakti kepada-Nya atas segala karunia pada alam semesta beserta isinya. Rasa terima kasih dan rasa bakti pada Tuhan umumnya diwujudkan dalam berbagai bentuk, baik dalam bentuk pikiran, perkataan maupun perbuatan. Bentuk bakti yang paling umum dilakukan dalam mendekatkan diri pada yang kuasa atas segala ini ialah dalam bentuk yadnya.

Pengertian Yadnya
Yadnya diperkirakan sudah dilaksanakan sejak jaman Weda. Hal ini sangat jelas terdapat dalam literatur-literatur Hindu seperti dalam Rg.Veda, Atharwa Weda, Upanisad, Bhagawadgita dan lontar-lontar seperti yang terdapat dalam lontar Wrhaspatitattwa, Agastyaparwa, dan sebagainya.
Dalam kitab suci Rg. Veda I.1.1 yang merupakan bagian dari kitab suci Weda yang tertua disebutkan:
Angim ile purohitam
Yajñasya devam Rtvijam,
Otàram ratnadhatamam.

Terjemahannya

Kami memuja Agni, Pendeta yang berada di depan,
yang dipuja dalam upacara korban, pendeta yang mengatur upacara korban
sesuai dengan musim dan pemuja yang mempersembahkan upacara korban
dan yang menguasai kekayaan yang terbaik dalam wujud permata-permata.

Secara etimologi, kata yadnya (yajña) adalah kata dalam bahasa Sansekerta, yang berasal dari urat kata kerja ‘yaj’ yang diartikan mempersembahkan atau berkorban. Dari kata yaj yang kemudian menjadi kata yajña yang berarti persembahan atau pengorbanan/korban suci.
Dalam Sanskrit – English Dictionary dan Webster Dictionary dijelaskan bahwa yadnya (yajña) artinya sacrifice (pengorbanan/upacara kurban), sedangkan sacrifice yang dimaksud ialah the act of offering the life of a person or animal, or some object, in propitiation of or homage to a deity. Upacara korban (sacrifice) yang dilaksanakan oleh manusia merupakan tindakan-tindakan atau prilaku berupa persembahan yang bertujuan untuk mendekatkan diri dengan penuh rasa hormat pada para dewa. Dengan melakukan upacara korban, tersirat ada sesuatu yang diharapkan atau dimohonkan kepada Tuhan yang cenderungnya berupa kesejahteraan hidup, sehingga dilaksanakannya persembahan yang umumnya berupa ritual keagamaan sebagai wujud bakti kepada-Nya.
Dengan demikian, yadnya yang pada mulanya berarti ritual kemudian dalam perkembangannya, setiap persembahan dan pengorbanan disebut dengan yadnya, karena tanpa pengorbanan tidak akan ada apapun di dunia ini. Oleh karena itu, apapun yang dikerjakan pasti akan ada pengorbanan, dan setiap pengorbanan akan digiring oleh Rta (kepatutan/tata tertib alam semesta).
Jadi, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan yadnya adalah segala bentuk persembahan dan pengorbanan yang tulus serta dari hati yang suci demi maksud-maksud yang mulia dan luhur. Salah satu yadnya yang umum dilaksanakan berupa persembahan yaitu dalam bentuk ritual, baik kepada Tuhan, manusia maupun pada lingkungannya (Tri Hita Karana), sedangkan dalam segala aktivitas kehidupan manusia, yadnya direalisasikan dalam bentuk pengorbanan baik berupa pikiran, perkataan maupun perbuatan (Tri Kaya Parisudha).Akhirnya, yadnya (sacrifice) bukan hanya ritual saja, akan tetapi setiap pengorbanan disebut dengan yadnya, sehingga ritual adalah salah satu bentuk pengorbanan (yadnya).

III. Materi Yadnya
Keharmonisan hidup merupakan dambaan setiap orang, sehingga orang akan selalu mengikuti serta mentaati Rta (tata tertib alam semesta) agar hidup harmoni itu terwujud. Dalam mencapai tujuan tersebut setiap orang akan melakukan pengorbanan, baik korban waktu, tenaga, perasaan, materi maupun yang lainnya. Semua bentuk pengorbanan itu merupakan realisasi dari ajaran yadnya. Hal ini mencerminkan bahwa materi yadnya sangat luas cakupannya. Adapun materi-materi yadnya itu, dapat dibedakan menjadi dua yaitu materi yadnya dalam ibadah berupa “persembahan” dan materi yadnya dalam hidup berupa “tindakan”.
A. Materi yadnya dalam ibadah cenderungnya dilakukan dengan ritual atau persembahan baik kepada Tuhan, manusia maupun lingkungannya. Ritual-ritual atau persembahan dalam bentuk ibadah ini dalam agama Hindu dilaksanakan dalam bentuk ritual yang terangkum dalam pelaksanaan Panca Yadnya. Jenis-jenis yadnya ini terdapat dalam kitab Manawadharmasastra, III, 70 sebagai berikut.
‘Adyapanam brahma yajnah
pitr yajnastu tarpanam
homo daivo balibhaurto
nryajno’tithi pujanam’

Terjemahannya:

Mengajar dan belajar adalah yadnya bagi brahmana
menghaturkan tarpana dan air suci adalah yadnya untuk leluhur
menghaturkan minyak dan susu adalah yadnya untuk para dewa, mempersembahkan bali adalah yadnya untuk bhuta, dan penerimaan tamu dengan ramah adalah yadnya untuk manusia.

Eksistensi yadnya dalam bentuk ritual dalam agama Hindu di Bali juga direalisasikan dalam bentuk panca yadnya, yang terdiri dari Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Rsi Yadnya, Manusa Yadnya dan Bhuta Yadnya.
1. Dewa Yadnya adalah persembahan kepada para dewa yang cenderungnya menghaturkan saji-sajian yang dipersembahkan dengan penuh ramah tamah. (friendly service) seperti persembahan yang dilakukan dalam setiap Hari Purnama, Tilem, Saraswati, Pagerwesi, Galungan Kuningan, pada setiap Tumpek dan hari-hari suci keagamaan lainnya.
2. Pitra Yadnya ialah persembahan kepada roh leluhur dan pelaksanaan upacara kematian (baik dalam penguburan maupun dalam pembakaran mayat).
3. Rsi Yadnya yaitu persembahan dan perhormatan kepada para pendeta atau para pinandita, sebagai ucapan terima kasih pada beliau yang telah membantu umat dalam pelaksanaan yadnya.
4. Manusa Yadnya adalah upacara penyucian yang ditujukan kepada manusia, mulai dari upacara pernikahan hingga ajal tiba.
5. Bhuta Yadnya yaitu upacara korban yang ditujukan pada para bhuta kala, agar dunia ini selalu dalam keadaan somya.
Demikianlah ritual dalam panca yadnya, yang sering kali dalam penyelenggaraannya dilaksanakan secara bersamaan, namun dari kelima yadnya tersebut terkadang ada yang menjadi ritual pokok.

B. Materi yadnya dalam hidup berupa tindakan. Manusia dalam hidupnya akan selalu berusaha beradaptasi dengan lingkungannya. Oleh karena manusia adalah homo-sapiens (mahluk cerdas) yang dapat berpikir dan bijaksana sehingga mereka akan dapat berpikir apa yang mesti dilakukan pada masa sekarang maupun masa depan demi kesejahteraan hidupnya. Manusia juga merupakan homo-longuens (manusia dapat berbicara) sehingga apa yang ada dalam pikirannya mampu dibahasakan baik secara lisan maupun tulisan. Homo faber yaitu kemampuan manusia dalam membuat alat-alat (berkarya) dan menggunakan hasil karyanya untuk bekerja, disamping itu pula manusia juga mahluk berteman dan hidup bermasyarakat (homo-socius) serta homo-religious yaitu mahluk meiliki keyakinan akan adanya kekuatan-kekuatan di balik kekuatan alam.
Kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh manusia ini, akan memberikan sumbangan yang sangat besar dalam segala tindakannya untuk tujuan-tujuan yang luhur dan mulia dalam hidupnya. Segala tindakan yang dilakukannya baik dalam bentuk pemikiran (homo-sapiens), perkataan (homo-longuens) maupun perbuatan (homo-faber) akan dapat menolong dirinya dalam mencapai tujuan hidupnya. Sehubungan dengan itu, dalam ajaran agama Hindu dikenal adanya ajaran Tri Kaya Parisudha yang realisasinya merupakan yadnya dalam tindakan. Seperti misalnya memberikan sumbangan pemikiran dalam pembangunan, pendidikan (manacika), memberikan bimbingan dalam mendidik (wacika), membantu orang yang memerlukan bantuan baik berupa tenaga maupun finansial (kayika), yang semua itu merupakan aplikasi riil yadnya dalam tindakan nyata.

IV. Tujuan Yadnya
Yadnya merupakan kewajiban bagi umat Hindu untuk melaksanakannya. Hal ini didasari oleh keyakinan bahwa alam semesta beserta isinya diciptakan melalui yadnya dan ada ajaran tri åna yang mengajarkan bahwa setiap orang yang lahir ke dunia ini sudah terikat oleh tiga jenis hutang karma yaitu Dewa Rna, Rsi Rna dan Pitra Rna. Dengan menyadari akan kewajiban tersebut, maka merupakan tugas dan kewajiban setiap orang untuk melaksanakan yadnya, karena yadnya memiliki tujuan yang sangat mulia dan luhur antara lain :
a. sebagai tanda terima kasih kepada Tuhan atas kemurahan dan anugerah-Nya terhadap umat manusia.
b. Untuk membebaskan diri dari ikatan karma dan dosa.
c. Memohon kepada Tuhan agar manusia dijauhkan dari marabahaya serta pengaruh-pengaruh jahat yang sering menggangu ketentraman hidupnya.
d. Memohon kepada Tuhan agar diberikan umur panjang, berketuhanan, berkebijaksanaan, berkebahagiaan dan lain-lain yang menjadi dambaan setiap orang secara universal.
Demikianlah tujuan dari pelaksanaan yadnya, yang merupakan kewajiban bagi setiap orang untuk melaksanakannya.

V. Pelaku Yadya
Beryadnya merupakan perbuatan yang sangat mulia. Yadnya dalam hidup berupa tindakan baik dalam bentuk pikiran, perkataan maupun perbuatan dapat dilakukan oleh setiap orang. Namun, dalam kehidupan beragama, yadnya yang sangat menonjol dilakukan adalah yadnya dalam ibadah berupa persembahan dalam bentuk ritual-ritual keagamaan. Hampir semua agama yang ada di dunia ini, melaksanakan ritual atau upacara kurban sesuai dengan keyakinan dan tradisi masing-masing penganutnya. Misalnya, dalam tradisi agama Yahudi ada lima macam upacara korban yang dilakukan yaitu korban bakaran, korban sajian, korban keselamatan, korban penghapusan dosa dan korban penebus kesalahan. Dalam tradisi agama Kristen dikenal juga adanya sakramen yang dilaksanakan sebagai bagian dari ritual keagamaan seperti sakramen ekaristi yang merupakan peringatan pengorbanan Yesus di kayu salib sebagai persembahan korban suci yang erat hubungannya dengan dosa dan kesalahan manusia secara turun temurun. Sedangkan dalam tradisi agama Islam, upacara korban umumnya dilaksanakan pada saat hari raya Idul Adha, yang bertujuan untuk meningkatkan rasa iman dan ketaqwaan kepada Tuhan.
Demikianlah pelaksanaan upacara korban dalam tradisi abrahamic religions (agama-agama Abraham) yang dilaksanakan sebagai bagian dari ibadah dalam masing-masing agama tersebut. Jadi, yadnya dapat dilakukan oleh setiap umat Hindu sebagai wujud dari rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan atas segala yang ada di dunia ini.

Advertisement

VI. Makna Yadnya
Yadnya mempunyai makna yang sangat tinggi dalam kehidupan manusia, karena diyakini dari yadnyalah semua ini ada. Menyadari akan keberadaan semua yang ada di alam semesta ini diciptakan melalui yadnya, maka hal itu akan memberikan renungan yang lebih mendalam agar kita senantiasa dapat hidup harmoni dan senantiasa berbuat sesuai dengan åta yang menyangga keteraturan dalam alam ini. Hal ini terdapat dalam kitab Atharvaveda.XII.1.1 sebagai berikut.
Satyam brhad rtam ugram dìksà tapo brahma
Yajñah prthivim dhàrayanti,
Sà no bhùtasya bhavyasya
Patnyurum lokam prthivìm nah krnotu

Terjemahannya:

Satya (kebenaran), rta (hukum abadi) yang agung dan kokoh, dìksa (penyucian), tapa, doa dan yajña (persembahan/pengorbanan), ini semua menyangga dunia, Semoga Ia, Ratu dari apa yang telah ada dan apa yang akan ada (Tuhan), menjadikan dunia luas bagi kita.

Dalam pelaksanaan yadnya dalam bentuk persembahan maupun pengorbanan, sebaiknya harus selalu bertumpu pada koridor Satya, Rta, Dìksa, Tapa dan Doa. Yadnya yang dilaksanakan secara sungguh-sungguh dan tulus akan memuluskan tercapainya tujuan yang diharapkan.
Salah satu makna yang terpenting dalam pelaksanaan yadnya seperti yang tersurat dalam kitab suci Atharvada XII.1.1 yaitu menjadikan dunia ini luas bagi kita sehingga manusia akan berprilaku bijak dan rendah hati dalam hidupnya, yang senantiasa merasa dirinya kecil diantara ciptaan Tuhan. Semakin luas terasa dunia ini maka, akan merasa semakin kecil keberadaan kita. Hal ini akan menimbulkan sikap rendah hati, arif dan bijak dalam mengarungi kehidupan ini.
Sebaliknya, apabila menjadikan dunia ini sempit bagi kita, maka kita akan berpikiran ‘picik’ dan tinggi hati karena menganggap dirinya selalu merasa besar diantara ciptaan Tuhan. Dengan demikian, keangkuhan dan kecongkakan yang akan menonjol dalam dirinya karena selalu menganggap orang lain lebih kecil dan lebih bodoh dari dirinya.
Bertitik tolak dari hal tersebut di atas, maka yadnya sangat bermakna bagi pelaku yadnya maupun orang yang menerima prilaku yadnya yaitu :

1). Pembiasaan berbuat bajik (subhakarma).
Yadnya yang didasari oleh rasa ketulusiklasan dalam setiap pengorbanan yang dilakukan kepada orang lain, akan memotivasi diri untuk selalu berbuat kebajikan demi tujuan yang mulia dan luhur. Tindakan-tindakan yang merupakan bagian dari yadnya, semakin sering dilakukan akan memberikan dorongan sebagai proses pembiasaan kontinyuitas untuk beryadnya. Dalam beryadnya harus senatiasa dikedepankan aspek religius humanis agar bersifat ‘menyentuh’ sebagai action pendidikan dalam praktek yadnya. Realisasi yadnya yang dilakukan, akan semakin menggugah dan membangkitkan rasa kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.

2). Membebaskan diri dari ikatan.
Dalam kitab Sarasamuccaya 4 tersurat bahwa lahir menjadi manusia sangatlah utama karena dapat menolong dirinya dari kesengsaraan dengan jalan berbuat baik. Dengan memiliki keutamaan ini, manusia akan mampu memilah dengan wiwika jnananya (pengetahuan untuk menyaring), apa yang semestinya dilakukan maupun tidak. Dengan menyadari bahwa manusia lahir sebagai akibat dari yadnya, maka dengan melakukan yadnya pula manusia akan mampu membebaskan diri dari segala ikatan, baik ikatan karma, ikatan dosa, maupun ikatan dari tri rna dan sebagainya. Hal ini seperti dinyatakan dalam kitab Bhagawadgita, III. 9 dan III. 13 sebagai berikut.

Yajñàrthàt karmano‘nyatra loko’yam karma-bandhanah,
tad-artham karma kauteya mukta-sangah samàcara.

Terjemahannya:

Kecuali kerja yang dilakukan sebagai dan untuk tujuan pengorbanan, dunia ini terbelenggu oleh kegitan kerja. Oleh karena itu, wahai putra Kunti (Arjuna), lakukanlah kegiatanmu sebagai pengorbanan itu dan jangan terikat dengan hasilnya (terbebas dari segala ikatan).

Yajña- sistasininah santo mucyante sarwa-kilbisaih,
bhuñjate te tv agnam pàpà ye pacanty àtma- kàrànat

Terjemahannya:
Orang-orang baik akan makan sisa persembahan kurban akan terlepas dari segala ikatan dosa, tepai orang-orang jahat yang mempersiapkan makanan hanya bagi dirinya, sesungguhnya mereka makan dosa.

Dari kutipan tersebut di atas, yadnya mempunyai makna yang sangat tinggi dalam rangka membebaskan diri dari segala bentuk ikatan guna tercapainya kelepasan (moksa) yang merupakan tujuan hidup dalam agama Hindu. Dengan menyadari hal tersebut, manusia dalam hidupnya akan berupaya untuk menyucikan dirinya yang bertumpu pada nilai-nilai kemanusiaan guna tercapainya tujuan hidup yang abadi.

3). Mempertebal rasa persatuan.
Manusia dalam hidupnya selalu akan memerlukan dan tergantung pada orang lain karena manusia adalah homo-socius. Untuk menjaga kelangsungan hidupnya, manusia akan melakukan interaksi dengan orang lain, sehingga mereka akan hidup bermasyarakat yang diatur dengan tata tertib demi kepentingan bersama dalam rangka menjaga rasa persatuan dalam hidupnya. Dalam hidup bermasyarakat ini, karena antara yang satu dengan yang lainya saling memerlukan, sehingga sikap gotong royong dan saling membantu akan selalu ditumbuh-kembangkan. Hal ini akan dapat mempertebal rasa persamaan dan kasih sayang, serta hormat-menghormati antar sesama dalam kehidupannya.
Dengan memperhatikan makna dari pelaksanaan yadnya yang sangat kompleks dan mulia tersebut, maka dengan menyadari hidup sebagai manusia sudah semestinya manusia dalam hidupnya menjadi manusia yang memiliki sifat sebagai penolong, peduli, mandiri dan dermawan. Manusia sudah sepatutnnya untuk saling tolong-menolong dalam hidupnya karena manusia akan memerlukan orang lain dalam sebagian besar aktivitas kehidupannya. Sikap tolong menolong ini merupakan cerminan sikap peduli kita dengan keberadaan orang lain. Dengan membiasakan diri untuk berbuat baik pada setiap orang dan mendermakan sebagian artha yang kita miliki sesuai dengan kama orang yang membutuhkan pertolongan, yang semua itu dilakukan pada jalan dharma, maka tujuan hidup yang sesungguhnya (sesuai dengan ajaran agama) akan dapat terwujud.

VII. Kesimpulan
Yadnya merupakan upacara korban atau pengorbanan yang penuh dengan rasa hormat serta memiliki tujuan yang sangat mulia dan luhur. Yadnya dalam ibadah dapat dilakukan berupa persembahan yang cenderungnya dilaksanakan dengan pelaksanaan ritual keagamaan dan yadnya dalam hidup dilakukan berupa tindakan baik dalam bentuk pikiran, perkataan maupun perbuatan. Pelaksanaan yadnya dilaksanakan oleh setiap orang yang bertujuan untuk menolong (membahagiakan orang), memperbanyak kebajikan dan membebaskan diri dari ikatan. Adapun makna bagi pelaku maupun penerima prilaku yadnya adalah pembiasaan berbuat bajik dalam upaya membangkitkan rasa kepedulian terhadap sesama, mempertebal rasa persamaan guna mempererat persatuan dan mempertebal rasa kasih sayang antar sesama sebagai upaya mengembangkan prinsip-prinsip atau nilai-nilai kemanusiaan. Akhirnya, dengan menyadari keagungan dan kemuliaan tujuan serta makna dalam pelaksanaan yadnya, maka hidup sebagai manusia yang homo-sapien, homo-longuens, dan homo-faber semestinya manusia memiliki sikap penolong, peduli, mandiri dan dermawan, guna tercapainya tujuan hidup yang sesungguhnya.

Suksma
DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Syamsul, 1996, Fenomenologi agama, PT. Garoeda Buana Indah, Pasuruan.
Kadjeng, I Nyoman, 1971, Sàrasamuccaya, Ditjen Bimas Hindu dan Budha, Jakarta.
Maswinara, I Wayan, 1997, Bhagawadgita, Paramita, Surabaya
Pudja, I Gede dan Sudarta Rai, 1997, Manawa Dharmasastra, PHDI Pusat, Jakarta.
Subagiasta, I Ketut, dkk., 1993, Acara Agama Hindu, Ditjen Bimas Hindu dan Budha dan Universitas Terbuka, Jakarta.
Sura, I Gede, dkk., 1994, Agama Hindu Sebuah Pengantar, CV. Kayu Mas Agung, Denpasar.
Vaidya, L.R., 1980, The Standard Sanskrit – English Dictionary, Asian Publication Services, New Delhi India.
Victoria, Neufeldt , 1995, Webster’s New World College Dictionary (Third Edition), Macmillan, USA.

Advertisement

Written by Ningsih

hidup adalah yadnya dan tidak ada yadnya yang sia-sia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Memperkukuh Persatuan dan Kesatuan Bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

Materi Nyaya Darsana