Padma Purana : Cerita Dan Nilai-Nilai yang Terkandung

Daftar Isi

Padma Purana

Padma Puràóa

Terdapat dua resensi yang berbeda dari karya yang amat besar ini. Edisi yang dicetak  yang terdiri dari enam buku, yakni Àdi, Bhùmi, Brahmà, Pàtàla, Såûþi dan Uttara Khaóða, adalah resensi yang kemudian. Khaóða yang lebih tua, yang  telah turun kepada kita hanya dalam naskah-naska bahasa Bengali, terdiri dari buku-buku atau Khaóða sebagai berikut. 

Buku I. Såûþikhaóða, yaitu “bagian penciptaan”, dengan pendahuluanyang bersifat umum. Lomaharûaóa mengirimkan putranya, Úùta Ugraúrava, ke hutan Naimiúa untuk mengidungkan kitab-kitab Puràóa itu kepada para åûi yang berkumpul di sana. Atas permintaan dari Úaunaka, dia menceritakan kitab Padma Puràóa, yang digambarkan posisinya di belakang bunga teratai (padma) pada saat itu sang Hyang Brahmà muncul pada penciptaan itu. Kemudian Sang Úùta menghasilkan cerita penciptaan sebagaimana telah dia dengar itu dari putra Sang Brahmà Pulastya. Ceritra-ceritra kosmologis dan kosmogonis juga diuraikan dan dikaitkan secara sama seperti kitab-kitab  Puràóa yang lain. Tetapi dalam buku ini, bukannya Sang Hyang Viûóu yang dianggap sebagai sebab yang pertama, melainkan Brahman yang maha tinggi dalam wujud-Nya sebagai Sang Hyang Brahmà yang personal.

Sekalipun demikian, bahkan buku ini bersifat Viûóuistik, dan di dalamnya diuraikan dengan mitos-mitos dan legenda-legenda  untuk pemujaan kepada Sang Hyang Viûóu. Selanjutnya sesudah cerita tentang penciptaan yang akan datang, juga diuraikan  silsilah atau  asal-usul dari dinasti matahari (Sùryavaýúa) seperti biasanya, yang di  dalamnya ada satu bagian yang menguraikan tentang pitra, yakni  para leluhur ras manusia yang dipuja dengan sarana Úràddha telah terjalinkan sedemikian rupa dan dari dinasti Candra turan ke jaman Úrì Kåûóa. Ceritra tentang konflik-konflik di antara para dewa dan raksasa (setan) yang disusul dengan satu bab yang merupakan bertitik-tolak dari pandangan sejarah agama, dan akan diuraikan suatu penjelasan inti yang sangat singkat:

Pertama-tama para dewa dikalahkan oleh para raksasa (bhùta), akan tetapi Båhaspati, guru para devatà, menyebabkan pada akhirnya para dewa menang dengan cara sebagai berikut: “Dalam penyamarannya Båhaspati sebagai åûi Úukra, guru para asura (raksasa) dia pergi menemui para asura itu, dan dengan caranya yang menarik hati, pembicaraannya memikat mereka, nampaknya sangat soleh dalam pengamalan ajaran Veda. Ia mengatakan kepada mereka bahwa ajaran Veda dan ajaran-ajaran Vaiûóava dan Úaiva penuh dengan kekerasan (himsa), dan mereka diberikan pelajaran oleh para guru mengalami kehidupan berkeluarga (kawin). 

Bagaimana mungkin ada kebaikan di dalam kehidupan yang demikian? Bagaimana Sang Hyang Úiva, devatà dalam bentuknya setengah laki-laki dan setengah perempuan (Ardhanàrì-ìúvaraá), yang dikelilingi  oleh sekelompok para pengiringnya yang berjiwa  jahat dan bahkan yang menggunakan perhiasan tulang-tulang, mengajarkan jalan keselamatan? Kalau jalanan setapak ke sorga dengan cara menebang sebatang pohon untuk membuat tonggak-pancang pengorbanan membunuh binatang korban dan menyebabkan penyembelihan, apakah wujud jalan setapak menuju neraka? Bagaimana mungkin mencapai sorga dengan melakukan hubungan-seksual, atau pensucian diri dengan tanah dan abu? Soma menggoda Tara, istri Båhaspati, Budha, seorang anak lahir dari padanya;  Indra melakukan zinah dengan Ahalyà, istri åûi Gautama. 

Selanjutnya para bhùta (raksasa) memohon padanya untuk menceritakan pada mereka devatà siapa bisa dimohon untuk memberikan perlindungan untuk keselamatan mereka. Båhaspati menganggap jalan tersebut sebagai cara untuk merusak moral para raksasa itu. Viûóu kini datang memberikan pertolongannya, dengan menyebabkan tokoh (tigur) dari seorang birawan Jaina yang telanjang (Digambaran) dan seorang biarawan Buddha (Raktàmbara, “berselimut merah”) untuk muncul, untuk menginisiasi para bhùta itu ke  untuk mengikuti ajaran Jaina dan ajaran Buddhisme, sesudah memberikan ajaran tersebut, mereka memutuskan untuk mengikuti cara hidup mereka yang lama ( seperti para Bràhmaóa),  mereka memberikan kekuasaan kepada dewa Indra.

Salah satu dari bagian yang prinsip dari buku itu terdiri dari gambaran  danau Puûkara (Pokher di Ajmer) yang keramat didedikasikan kepada Brahman, yang direkomendasi dan diagungkan sebagai sebuah temapat Tìrthayàtra. Sejumlah besar mithe dan legenda, banyak yang saling berkaitan yang berbeda-beda diuraikan  dalam dalam berbagai Puràóa, diceritakan pula keutamaan dan pujian pada Puûkara. Lebih dari itu, beraneka upacara ritual dan puasa atau “vrata” yang ditujukan untuk memuja dewi Durgà diuraikan dalam buku ini. Di dalamnya juga diuraikan secara ringkas tentang penciptaan dunia secara berkelanjutan. Buku itu berakhir dengan uraian tentang ceritra Sang Hyang Viûóu sebagai penghancur para bhùta, kelahiran  serta perkawinan Skanda. Pada bagian ini juga terdapat uraian tentang Àdi-Khaóða yang hampir seluruhnya menguraikan Màhàtmya tentang berbagai “Tìrtha” dan hanya pada bagian terakhir (bab 50-60) menguraikan tentang Viûóubhakti, tugas dan kewajiban Catur Varna dan Àúrama.

Buku II, Bhùmikhaóða, yaitu “bagian bumi” mulai dengan legenda-legenda Somasarman, yang  dalam kelahiran yang kemudian menjadi pemuja Prahlàda. Tujuan dari legenda-legenda itu adalah untuk menjelaskan mengapa di satu sisi dia lahir ditengah-tengah para bhùta, dan sekalipun demikian, di sisi lain, mampu begitu besar menjadi seorang penganut (devote) Viûóu. Di samping suatu uraian tentang bumi, buku ini menguraikan banyak legenda yang berkaitan dengan kesucian beberapa “Tìrtha”  atau tempat-tempat suci karena tìrtha-tìrtha itu dianggap bukan hanya tempat-tempat yang sangat suci, tetapi juga orang-orang seperti para guru, ayah, atau sang istri. 

Untuk membuktikan bahwa seorang istri bisa jadi sebuah “tìrtha”, sebagai contoh kisah diceritakan tentang Sukalà (Sukalàcarita), yang suaminya melakukan ziarah dan meninggalkan dia ditinggal dalam kesengsaraan dan penderitaan, sekalipun dewa Kàma dewa cinta dan Indra, raja para devatà mencoba menggoda dia dia tetap setia kepada suaminya. Dan ketika datang kembali dari melaksanakan Tìrthayàtra, ia memperoleh anugrah sorga untuk kebajikan-kebajikan dari istrinya. Juga diuraikan seorang putra dapat menjadi sebuah Tìrtha, yang dilukiskan dengan sebvuah cerita sang Yayàti dan putranya Puru yang sangat terkenal dalam kitab Mahàbhàrata.

Buku III Svarga Khaóða, yaitu “Bagian yang mengandung uraian mengenai sorga, yang merupakan sthana berbagai devatà, tentang alam Sang Hyang Sùrya, Indra, Agni, Yama dan lain-lain yang dijalin ke dalam sejumlah dongeng dan legenda. Disebutkan seorang raja Bhàrata, yang melukiskan cerita tentang Úakuntalà, yang diceritrakan di sini tidak seperti diuraikan dalam kitab Mahàbhàrata, tetapi sangat dengan drama Kàlidàsa. Sebuah perbandingan drama karya Kàlidàsa dengan versi dari Mahàbhàrata dan dengan Padma Puràóa memperlihatkan bahwa dalam semua kemungkinan Kàlidàsa menggunakan sumber yang disebut terakhir itu sebagai sebuah bahan penulisan. Satu gambaran tentang dunia Apsaras dan tentang legenda-legenda dari Purùrava dan Urvaúì. Banyak juga legenda-legenda lainnya,  yang kita kenal seperti termuat dalam berbagai epik,  yang juga dimunculkan di sini. Selanjutnya ia berisi ajaran-ajaran mengenai tugas-tugas Catur Varna dan Catur Aúrama,  tentang pemujaan kepada Sang Hyang Viûóu dan banyak hal tentang ritual dan ajaran moralitas.

Buku ke IV “Pàtàla Khaóða” yaitu “Bagian mengenai dunia bawah” menggambarkan pertemuan-pertemuan wilayah-wilayah di bawah tanah teristimewa tempat-tempat para nàga atau dewa-dewa ular. Penyebutan Ràvaóa dalam rangkaian kisah keseluruhan dari Úrì Ràma, yang diuraikan di sini sebagian sesuai dengan ceritra Ràmàyaóa dan sebagian lainnya hampuir sama persis seperti dalam karya epik Kàlidàsa yang bernama Raghuvaýúa, yang menurut H. Úarma, kitab Padma Puràóa menjadikan Raghuvaýúa sebagai sumber penulisannya. Di sini kita juga mendapati ceritra tentang Åûya-Úåòga dalam satu versi yang lebih kuno dari pada ceritra di dalam Mahàbhàrata. 

Ceritra Ràma yang sebenarnya di dahului cerita para leluhur Úrì Ràma yang mulai dari Manu, putra dewa matahari dan pertolongan dari bahaya banjir besar. Pembantaian atas Ràvaóa yang sebenarnya seorang Bràhmaóa, telah meletakkan kesalahan atas pembunuhan itu pada Úrì Ràma dengan cara bertobat atas dosa-dosa yang dilakukan dengan mengadakan korban kuda. Berkenaan dengan aturan-aturan yang ditentukan dalam upacara itu, kuda yang dijadikan korban itu dibiarkan bebas berkeliaran ke mana saja selama setahun, yang ditemani oleh satu rombongan pasukan, para prajurit dengan Úatrughna menjadi pucuk pimpinan tertinggi. 

Pengembaraan kuda dan para pengikutnya ke seluruh India, sangat banyak diuraikan dalam bukuini, banyak ceritra tentang tempat-tempat keramat (suci), dan ceritra-ceritra yang terkait dengan tempat-tempat suci itu. Diceritakan selanjutnya kuda yang dipakai upacara korban itu itu sampai ke aúrama Vàlmìki, diuraikan tentang kisah Ràma yang berhubungan dengan dewi Sìta, yang menurut Wilson, bagian ini sejalan dengan ceritra yang terdapat dalam kitab Uttara Ràma Carita. Satu ajaran yang sangat luas yang terkandung dalam 18 kitab Puràóa, yang merupakan bagian akhir dari Pàtàlakhaóða. 

Di sini dikatakan bahwa Maharûi Vyàsa memproklamirkan Padma-Puràóa pertama kali,  dan kemudian 16 orang yang lain, dan akhirnya Bhàgavata-Puràóa, yang diagungkan sebagai buku yang sangat rahasia bagi para pemuja Viûóu yang diyakini paling suci. Buku ini berakhir dengan beberapa bab, yang barangkali ditambahkan pada suatu masa sesudahnya juga  mengenai Úrì Kåûóa, dan kumpulan gembala sapi, dengan menyebutkan Ràdhà, termasuk pula  mengenai tugas-tugas dari para pemuja Viûóu, kesucian batu Úalagràma dan rincian lain dari rahasia memuja Sang Hyang Viûóu. 

Buku V Uttara Khaóða, yaitu “bagian akhir” adalah buku yang amat panjang yang menguraikan secara rinci cara memuja Viûóu dan upacara-upacara yang dikaitkan dengan itu dengan cara yang amat mengesankan. Uraian yang sangat luas diabdikan untuk melukiskan keagungan bulan Màgha, teristimewa tentang kesucian yang ditujukan kepada Sang Hyang Viûóu. Ceritra yang dihubungkan dengan bukti tentang keutamaan pahala mandi (suci) pada bulan ini. 

Bagian yang lain menguraikan keutamaan bulan Kàrttikeya, yakni pemberian lampu kepada orang lain sangat berpahala. Dalam kaitannya dengan keunggulan Sang Hyang Viûóu sebagai titik awal, pengarang melukiskan Sang Hyang Úiva dalam percakapannya dengan dewi Pàrvatì menyatakan keagungan Sang Hyang Viûóu dengan uraian yang panjang tentang Avatàra-Avatàra Sang Hyang Viûóu, yang meliputi abuah pengulangan tentang ceritra ringkas Úrì Ràma dan tentang Úrì Kåûóa yang diuraikan lebih mendetail. Dalam jawaban atas pertanyaan dewi Pàrvatì, adalah Úiva sendiri yang menyatakan bahwa para guru Úivaite dan para pengikut sekte Úivaite Pàúupate ada di tengah-tengah para orang-orang saleh. 

Pada bagian yang lain kita temukan uraian tentang  dewi Durga yang membicarakan Ahimsà. Úiva juga menjelaskan tentang Viûóu Bhakti, dan beraneka bentuk dari cara memuja Sang Hyang Viûóu. Buku ini juga berisi satu pujian atas keutamaan Bhagavadgita (Gitàmàhmya, yang menguraikan keagungan Bhàgavatapuràóa. Dalam bagian yang lain terdapat ceritra yang melukiskan kebaikan membaca bagian (canto) secara mandiri (terlepas). Satu bab (canto) berisi penyebutan satu persatu dari ribuan nama dari Sang Hyang Viûóu (Viûóusahasranàma), pada bagian lainnya Ràdhà  diidentifikasikan dengan dewi Lakûmì  yang agung, diuraikan pula hari kelahirannya (Janmûþami) yang nampaknya sektarian, seperti ceritra  berikut ini:

Pada suatu hari timbul pertengkaran di antara Åûi mengenai tiga devatà utama, yakni  Brahmà, Viûóu atau Úiva, yang pantas mendapat pemujaan paling utama. Untuk melenyapkan keragu-raguan mereka. Mereka memohon kepada pertapa besar åûi Bhågu untuk pergi menghadap para devatà dan yang mengakibatkan dirinya sendiri secara pribadi  menjadi yang terbaik. Demikianlah åûi Bhågu pertama-pertama pergi ke pegunungan Kailàsa untuk mengunjungi Sang Hyang Úiva, dan dipermaklumkan oleh penjaga istana Sang Hyang Úiva yang bernama Nandi. Tetapi Sang Hyang Úiva saat itu sedang bercengkrama dengan sakti (istrinya), dan sama sekali tidak mengakui åûi (yang datang) itu. Dihina sedemikian rupa, sang åûi mengucapkan kutukan kepada Sang Hyang Úiva agar sang Hyang Úiva berubah wujud menjadi organ pertumbuhan, yang menunjukkan pemujaan kepada Liòga dan Yoni sebagai simbol Sang Hyang Úiva dan disembah oleh bukan para Bràhmaóa, tetapi hanya oleh para orang kebanyakan. selanjutnya åûi Bhågu pergi ke istana Sang Hyang Brahmà. Sang Hyang Brahmà distanakan di atas singasana teratai yang dikeliling  oleh para devatà. Åûi Bhågu bersujud di depannya dengan diam dan penuh kesujudan, diikuti dengan kebanggaan. 

Sang Hyang Brahmà sama sekali tidak bangkit untuk menyampaikan penghormatan atas tamunya itu. Didorong kemarahan åûi Bhågu mengucapkan satu kutukan yang menyatakan bahwa Sang Hyang Brahmà tidak menikmati persembahan sama sekali dari umat manusia. hal ini menunjukkan bahwa di India sangat jarang pemujaan ditujuakan kepada Sang Hyang Úiva. Orang suci itu melanjutkan perjalanan pergi kepegunungan Mandara di Viûóuloka. Di sana dia melihat para devatà yang beristirahat (berbaring) di atas ular-ular naga, sementara itu Lakûmì memeluk kaki Sang Hyang Viûóu. Åûi Bhågu  membangunkan Sang Hyang Viûóu secara kasar dengan menendang dadanya. Sang Hyang Viûóu bangun dengan lembut serta membelai kaki  åûi  Bhågu dan menyatakan bahwa dia merasa bahagia dan dihormati dengan menyentuh kakinya. 

Sang Hyang Viûóu dan saktinya tergesa bangun dan memberikan penghormatan kepada sang åûi dengan kalungan bunga kedevatàan, minyak cendana, dan sebagainya. Kemudian petapa agung itu meledak ke dalam tangis kegembiraan, bersujud di depan bunga rampai kemurahan hati dan memuja Viûóu sebagai devatà tertinggi, selanjutnya mereka berseru: “Dikau sendiri akan dipuja oleh para Bràhmaóa, tidak satupun para devatà lainnya yang patut disembah,  mereka tidak akan disembah oleh para Bràhmaóa. Mereka tidak akan  disembah. Brahmà dan Úiva serta para devatà lainnya, karenanya mereka diliputi dengan nafsu (rajas) dan kegelapan (tamas): dikau sendiri yang diberkati dengan sifat kebaikan (sattva), akan disembah oleh yang lahir pertama (yaitu para Bràhmaóa. Biarkan dia yang menyembah para devatà yang lain, dihitung di antara para orang-orang saleh. Kemudian Rûi Bhågu kembali ke kelompok para åûi itu dan menceritakan kepada mereka hasil dari kunjungannya  kepada para devatà itu.

Semacam tambahan pada Uttarakhaóða dibentuk oleh seorang Kriyàyogasàra, yaitu “intisari ajaran  yoga dengan prakteknya” yang mengajarkan bahwa Viûóu akan disembah bukan dengan jalan meditasi (dhyànayoga), tetapi dengan perbuatan saleh, di atas segalanya dengan melakukan perjalanan ke tempat-tempat suci (Tìrthayàtra) ke sungai Gaògà dan banyak ceritra-ceritra tentang keajaiban merayakan hari-hari raya yang di abdikan kepada Sang Hyang Viûóu. Banyak bukti menunjukkan bahwa terpenuhinya semua keinginan dapat  dicapai dengan menyembah Sang Hyang Viûóu bertempat di tepi sungai Gangà, banyak  ceritra-ceritra yang nampaknya konyol diceritakan, tetapi juga cerita cinta yang indah tentang Màdhava dan Sulocanà.

Sungguh tak mungkin untuk menentukan secara pasti tentang tanggal ditulisnya Padma Puràóa. Adalah merupakan suatu kopilasi yang agak longgar, bagian-bagian dari padanya sepenuhnya termasuk ke periode (jangkawaktu) yang berbeda-beda. Dan barang kali berabad-abad perpisahan. Karakteristik yang umum dari lima atau enam buku adalah hanya watak sektarian mereka yang kaku, karena mereka itu semuanya menekankan cara-cara memuja Sang Hyang Viûóu. Lebih dari pada itu, semua buku-buku ini berisi referensi-referensi tentang aspek-aspek yang lumayan modern dari cara-memuja Viûóu, seperti misalnya pemujaan atas Ràdhà sebagai seorang dewi, kesucian batu Sàlagràma,. tanaman Tulsi (Tulasì) dan sejenisnya. Bagian-bagian yang paling akhir tentu lebih kemudian dari pada Bhàgavata Puràóa, termasuk karya-karya kesusastraan Puràóa. Namun demikian ada peristiwa setidak-tidaknya ada satu inti yang kuno di dalam Såûþi, Bhùmi, Svarga dan Pàtàla Khaóða. Hal ini merupakan bagian dari tugas riset yang akan datang untuk menguraikan inti ajaran yang sangat kuno ini.

Ningsih

hidup adalah yadnya dan tidak ada yadnya yang sia-sia

View all posts by Ningsih →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares