in ,

Pengertian Padewasan Dan Menentukan Padewasan – Agama Hindu


Pengertian Padewasan

            Hari baik atau hari buruk adalah berkaitan dengan waktu untuk melakukan suatu aktivitas tertentu. Bagi Umat Hindu baik di Bali maupun di luar Bali penentuan waktu untuk melakukan suatu aktivitas tertentu dikenal dengan istilah Padewasan. Berbagai etnis di Indonesia juga mengenal istilah hari baik atau hari buruk. Tetapi tidak sedikit juga tidak percaya. Mereka berasumsi semua hari sama saja. Baik atau buruk tergantung pada manusianya.

Mungkin ada benarnya bahwa semua tergantung manusia (sesuai konsep hukum karma phala). Tetapi pemahaman bahwa semua hari adalah sama, sangat keliru. Bagi yang meyakini tentang baik buruknya hari mungkin apa yang dibahas di sini dapat menjadi penguat keyakinan tersebut, sedangkan bagi yang belum yakin dengan apa yang disampaikan secara logika dapat diterima bahwa memang ada pengaruh hari terhadap kehidupan manusia.

Padewasan berasal dari kata “dewasa”  mendapat awalan pa- dan akhiran – an (pa-dewasa-an). Dewasa artinya  hari pilihan, hari baik. Padewasan berati ilmu tentang hari yang baik. Selanjutnya  Wariga dan dewasa adalah dua istilah yang paling umum diperhatikan oleh umat hindu khususnya di Bali bila ingin mencapai kesempurnaan dan keberhasilan. Ada beberapa pengertian menurut para tokoh maupun naskah lontar tentang wariga maupun dewasa yaitu pertama, Pengertian Wariga menurut  I Ketut Bangbang Gde Rawi yaitu berasal dari kata “wara” dan “ika”. Kata “wara” berarti hari dan “ika” berarti itu (ika = iga). Jadi Wariga adalah suatu ilmu yang menguraikan tentang persoalan hari-hari baik dan hari-hari yang buruk bagi suatu pekerjaan yang akan dimulai yang disebut juga perhitungan hala hayuning dewasa. Kedua, menurut I Ketut Guweng mendefinisikan kata Wariga berasal dari kata “wara” yang berarti Mulia/sempurna, “i” yang berarti menuju/ mengara dan “ga” yang berarti jalan / pergiJadi Wariga adalah Jalan untuk menuju yang sempurna. (perhitungan hari sebagai petunjuk untuk menuju arah yang lebih baik). Kemudian Kata “Dewasa” terdiri dari kata; “de” yang berarti dewa guru, “wa” yang berarti apadang/lapang dan “sa” yang berarti ayu/baik. Ketiga, Dewasa adalah satu pegangan yang berhubungan dengan pemilihan hari yang tepat agar semua jalan atau perbuatan itu lapang jalannya, baik akibatnya dan tiada aral rintangan. Keempat, Dalam lontar yang disebut “Keputusan Sunari” mengatakan bahwa kata wariga berasal dari dua kata, yaitu “wara” yang berarti puncak/istimewa dan “ga” yang berarti terang. Sebagai penjelasan dikemukakan “….iki uttamaning pati lawan urip, manemu marga wakasing apadadang, ike tegesing wariga”. Artinya: Keberadaan sang wiku (pendeta) yang telah mengetahui ajaran wariga Gemet. Wa artinya terang, Ri artinya puncak, Ga artinya wadag. Inilah wadag yang tak nyata, tanpa memiliki kehendak, baik dan buruk, dari sesama manusia ia telah mumpuni dalam analisis, ia telah disucikan, terbebas dari cita-cita. Penjelasan ini jelas bahwa yang dimaksud dengan wariga adalah jalan untuk mendapatkan ke’terang’an dalam usaha untuk mencapai tujuan dengan memperhatikan hidup matinya hari.


            Dalam hasil “Himpunan Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu I-XV” diputuskan tentang jenis-jenis padewasan, sebagai berikut :

1.      Padewasan yang sifatnya amat segera atau dadakan;
2.      Padewasan serahina (sehari-hari), yaitu padewasan yang perhitungannya berdasarkan wewaran, wukudan tanggal;
3.      Padewasan berjangka (berkala) yaitu padewasan yang perhitungannya berdasarkan wewaran, wuku, tanggal, panglong, sasih, dan dauh. Kemudian disertai dengan sasih yang baik (68:2015)
Berbagai etnis di Indonesia juga mengenal istilah hari baik atau hari buruk. Tetapi tidak sedikit juga tidak percaya. Mereka berasumsi semua hari sama saja. Baik atau buruk tergantung pada manusianya. Mungkin ada benarnya bahwa semua tergantung manusia (sesuai konsep hukum karma phala). Tetapi pemahaman  bahwa semua hari adalah sama, sangat keliru. Bagi yang meyakini tentang baik buruknya hari mungkin apa yang dibahas di sini dapat menjadi penguat keyakinan tersebut, sedangkan bagi yang belum yakin dengan apa yang disampaikan secara logika dapat diterima bahwa memang ada pengaruh hari terhadap kehidupan manusia. Sebelum itu mari mencoba untuk memahami pengertian hari baik dan hari buruk.
Dalam hal ini hari baik atau hari buruk adalah waktu atau hari yang tepat untuk melakukan aktivitas tertentu agar aktivitas kita semaksimal mungkin dapat  berjalan dengan sebaik-baiknya dan mencapai tujuan yang maksimal. Perkembangan padewasan tidak bisa dilepaskan dari sumbernya yakni Veda. Vedadalam pemahamannya, diantaranya :
1. Siksa             mempelajari fonetik Veda
2. Vyakarana :mempelajari gramatikal atau tata bahasa Veda
3. Chand                :mempelajari irama, lagu dan persajakan dalam sloka-sloka veda
4. Nirukta  :merupakan mempelajari tentang asalusul dan arti kata  (etymologi) dalam Veda
5. Jyotisa           : adalah pengetahuan tentang Astronomi dan Astrologi; dan
6. Kalpa            : adalah pengetahuan tentang tata cara melaksanakan upacara.

Bhagawan Atri atau Maharsi Atri adalah salah satu dari tujuh orang Maharsi penerima wahyu Veda(Sapta Rsi) yang secara khusus menerima tentang  Jyotisa (ilmu bintang), yang kemuadian diturunkan pada muridnya yang bernama Bhagawan Garga.  Jyotisa ini selanjutnya menjadi salah satu ilmu bantu untuk memahami ajaran Veda yang suci sesuai keterangan tersebut. Jyotisa sebagai alat bantu Veda disistematiskan dan dijelaskan oleh Maharsi Garga.  Jyotisa diperkirakan disusun kira-kira 1200 tahun SM. Pengetahuan ini sangat berguna dalam penentuan hari  baik dalam melaksanakan upacara-upacara Veda. Lebih jauh pembicaraan seputar Astromoni dan Astrologi dalam khasanah kesusastraan Hindu dijelaskan pula pada kitab  Purana, Dharmasastra dan  Itihasa. Penyebaran agama Hindu dari India ke Indonesia selanjutnya membawa konsep-konseptafsir/perhitungan tahun ke Nusantara. Bukti-bukti dari adanya penyebaran Hindu terutama tarikh Çaka, Jyotisa dan sistem kalendernya dapat dilihat pada pencantuman angka tahun Çaka, istilah-istilah hari dan bulan pada sebagian  besar prasasti-prasasti di Nusantara. Tradisi Astronomi Nusantara telah memiliki interprestasi khusus atas benda- benda angkasa seperti matahari, bulan bintang dan komet. Kemunculan dari benda-benda angkasa ini dipakai oleh masyarakat untuk menentukan berbagai keperluan misalnya menentukan hari baik, masa tanam, arah pelayaran dan lain-lain. Selanjutnya dari pertanda alam tersebut Astronomi berkembang menjadi Astrologi dan dipakai untuk memprediksi musim, cuaca, atau meramal berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia dan alam sekitarnya, sehingga pengaruh benda-benda langit menjadi penting dalam kehidupan masyarakat Hindu. Dalam kehidupan masyarakat Hindu terdapat suatu pandangan kosmis, dimana manusia merasakan dirinya hanya sebagai suatu unsur kecil saja yang ikut terbang oleh proses peredaran alam

semesta yang Maha Besar. Pandangan Kosmos mendasari manusia untuk selalu membangun hubungan yang harmonis antara makrokosmos dengan mikrokosmos guna mewujudkan ketentraman batin dalam kehidupan. Planet-planet di alam ini saling mempengaruhi. Matahari,  bulan, dengan berbagai planet yang mengelilingi bumi berpengaruh terhadap semua makhluk hidup dan benda tak hidup yang ada di bumi. Memang yang paling dominan terasa di bumi adalah pengaruh matahari dan bulan yang secara langsung bisa kita rasakan dengan adanya siang dan malam serta adanya musim-musim tertentu yang berbeda di berbagai belahan bumi. Para astrologi tahu benar tentang pengaruh berbagai planet yang ada di alam terhadap di  bumi. Jika kita pahami bagaimana proses penciptaan bhuwana agung dan hubungannya dengan proses penciptaan  bhuwana alit maka kita tidak dapat menolak betapa kita sebagai manusia sangat dipengaruhi oleh guna (sifat dasar) dari alam. Nama-nama hari disesuaikan dengan pengaruh dominan planet tertentu. Planet-planet tersebut memiliki komposisi guna (sifat dasar) yang berbeda. Secara sederhana, siang hari dominan pengaruh matahari, sifat matahari  panas. Malam hari dominan pengaruh bulan (sifat bulan lembut). Disamping pengaruh kedua planet tersebut yang dapat kita rasakan secara langsung, planet-planet yang lain juga memiliki pengaruh atas kehidupan di bumi ini. segi waktu juga pagi hari berbeda pengaruh planet matahari dengan siang hari atau sore hari. Jadi setiap waktu  berbeda dan hari yang berbeda akan memiliki pengaruh yang berbeda terhadap kehidupan di bumi. Para ahli astrologi, ( yang ilmunya diwarisi dari para Rsi waskita secara turun temurun ribuan tahun) membuat pemetaan  pengaruh planet-planet tersebut, sehingga mengambil kesimpulan bahwa untuk waktu/hari tertentu adalah baik untuk aktivitas tertentu atau sebaliknya buruk untuk aktivitas lainnya.
           
2.2 Menentukan Padewasan
Ada lima pokok yang harus dipahami dalam menentukan padewasan yaituwewaran, wuku, penanggal panglong, sasih dan dauh. Berikut ini akan diuraikan
mengenai penjelasan dari masing-masing pedoman pekok dalam menentukan
padewasan (wariga) sebagai berikut
1. Wewaran
Wewaran adalah bentuk jamak dari kata wara yang berarti hari. Secara arti kata
Wewaran berasal dari bahasa Sansekerta dari akar kata wara (diduplikasikan/dwipura)
dan mendapat akhiran – an (we + wara + an) sehingga menjadi wewaran, yang berarti
istimewa, terpilih, terbaik, tercantik, mashur, utama, hari.
Jadi wewaran adalah hari yang baik atau hari yang utama untuk melakukan suatu hal
atau suatu pekerjaan. Dalam menentukan padewasan, pengetahuan tentang wewaran
menjadi dasar yang sangat penting. Dalam hubungannya dengan baik-buruknya hari
dalam menentukan padewasan, wewaran mempunyai urip, nomor atau bilangan, yang
disesuaikan dengan letak kedudukan arah mata angin, serta dewatanya.

2. Wuku
Wuku dalam penentuan padewasan menduduki peranan yang penting, sebab
wewarannya baik, apabila wukunya tidak baik, dianggap dewasa tersebut kurang
baik. Sistem tahun wuku, menggunakan sistem sendiri, tidak tergantung pada tahun
surya atau tahun candra. Satu tahun wuku panjangnya 420 hari, yang terdiri atas 30
wuku. Setiap wuku (1 wuku) lamanya 7 hari, terhitung dari Redite, Soma, Anggara, Budha, Wraspati, Sukra, dan Saniscara. Sebulan dalam tahun wuku lamanya 35

hari, didapat dari mengalikan 7 hari dengan 5 wuku. Satu peredaran wuku (30 wuku)
lamanya 6 bulan dalam tahun wuku. 1 Tahun wuku terdiri atas 2 kali peredaran wuku, yakni 7 hari x 30 wuku x 2 = 420 hari.


3. Penanggal dan Panglong
Penanggal dan Panglong perhitungannya berdasarkan peredaran bulan satelit dari
bumi. Penanggal (tanggal) disebut pula Suklapaksa yaitu perhitungan hari-harinya
dimulai sesudah bulan mati (tilem) sampai dengan purnama (bulan sempurna). Lama
penanggal 1 sampai dengan 15 lamanya 15 hari. Penanggal ke 14 atau sehari sebelum
purnama disebut Purwani artinya bulan mulai akan sempurna nampak dari bumi.
Sedangkan Penanggal ke 15 disebut purnama artinya bulan sempurna nampak dari
bumi. Pada hari Purnama merupakan hari beryoganya Sang Hyang Candra (Wulan).
            Panglong disebut pula Krsnapaksa yaitu  perhitungan hari dimulai  sesudah purnama yang lamanya juga 15 hari dari panglong 1 sampai dengan pangglong 15. Panglong ke 14 sehari sebelum tilem disebut Purwaning Tilem artinya  bulan mulai tidak akan Nampak dari bumi. Sedangkan pangglong 15 disebut tilem artinya bulan sama sekali tidak Nampak dari bumi. Pada hari tilem beryoganya Sang Hyang Surya.

4. Berdasarkan Sasih

Sasih disebut masa artinya bulan. Masa/bulan dapat diartikan waktu sehubungan umurnya tahun. Dalam satu tahun terdiri atas 12 masa atau 12 bulan.  Jenis sasih antara lain :
      Sasih Wuku adalah sasih yang mengikuti jalannya wuku yaitu 2 x 210 hari lamanya 420 hari. tiap bulan umurnya 35 hari.
      Sasih Candra adalah sasih yang mengikuti peredaran bulan mengelilingi  bumi yang lamanya  354/355 hari. Setiap bulan umurnya 29/30 hari tepatnya 29 hari 24 jam 44 menit 9 detik
      Sasih Surya adalah  sasih yang mengikuti peredaran  bumi mengelilingi matahari lamanya 355/366 hari. Tepatnya dalam setahun 365 hari 5 jam 43 menit 46 detik. Tiap bulan umurnya berkisar 30/31 hari dan sasih Kawolu berumur 28/29 hari
      Sasih Pranatamasa adalah  sasih yang mengikuti peredaran bumi mengelilingi matahari lamanya 365/366 hari. Tepatnya 365 hari 5 jam 48 menit 45 detik. Tiap bulan mempunyai umur tersendiri, sedangkan sasih kawolu umurnya 26/27 hari. hitungan baik buruknya bulan bulan tertentu yang berpedoman pada letak matahari, apakah berada di Uttarayana (utara), Wiswayana
      (tengah) atau Daksinayana (selatan)


5. Dauh
Padewasan menurut dauh merupakan ketetapan dalam menentukan waktu
yang baik dalam sehari guna penyelenggaraan suatu upacara-upacara tertentu.
Pentingnya dari dewasa dauh akan sangat diperlukan apabila upacara-upacara yang
akan dilakukan sulit mendapatkan hari baik (dewasa ayu).  Dalam perhitungan dewasa dauh mengandung makna dalam waktu satu hari terdapat dauh (waktu-waktu tertentu) yang cocok untuk melakukan suatu kegiatan. Signifikasi dari dewasa dauh diperlukan apabila upacara

upacara yang dilakukan sulit mendapatkan hari baik (dewasa ayu). Dalam perhitungan dewasa berdasarkan dauh mempunyai beberapa hitungan, yakni berdasarkan Panca dauh dan Asta dauh

    A.    Sistem Panca dauh (Sukaranti) adalah pembagian waktu (hari) dalam sehari
menjadi 10 bagian, dengan hitungan 5 dauh untuk menghitung panjangnya
siang (setelah matahari terbit hingga menjelang terbenam) dan 5 dauh lagi untuk
menghitung panjangnya malam/wengi (dari matahari tenggelam hingga terbit)
    B .     Sistem Asta dauh yang memiliki konsep yang sama dengan Panca dauh,
bedanya hanya pembagian waktunya menjadi 16, dengan perincian 8 dauh untuk
menghitung panjang waktu mulai matahari terbit, hingga menjelang terbenam dan
8 dauh lagi untuk untuk menghitung panjangnya malam hari dari terbenamnya
matahari hingga menjelang terbit.

Kalender Bali atau Kalender Saka disusun berdasarkan revolusi Bumi terhadap
Matahari (Solar/Surya) dan juga revolusi Bulan terhadap Bumi (Lunar/Chandra).
Sistem penanggalan yang digunakan pada kalender Bali yaitu Era Saka yang berawal
pada tahun 78 Masehi dan disebut juga penanggalan Saliwahana. Penyebaran agama
Hindu dari India di Asia Tenggara khususnya di Bali, berdampak sangat besar dalam
penyusunan kalender Saka. Berbagai modifikasi unsur lokal telah dilakukan dalam
penyusunan kalender Saka agar sesuai dengan kultur budaya, adat dan kepercayaan
yang dianut oleh masyarakat lokal di Bali. Unsur-unsur lokal yang disusun pada
kalender Saka menjadi patokan ritual keagamaan, hari baik dalam melakukan
pekerjaan, menanam padi (agraria), membangun rumah (arsitektur), meramal watak
seseorang (psikologi), meramal finansial seseorang, hingga detail-detail segala
kegiatan masyarakat penggunanya. Selanjutnya di Bali, sistem ini dituangkan dalam
lontar-lontar Wariga.


Written by Ningsih

hidup adalah yadnya dan tidak ada yadnya yang sia-sia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mengidentifikasi Nilai-Nilai dan Isi Hikayat – Materi Bahasa Indonesia

Contoh Padewasan Untuk Melakukan Upacara Panca Yadnya