in ,

Pengertian Padewasan (Dewasa) Hari Baik Dalam Agama Hindu

A. Latar Belakang

            Bhagawan Atri atau Maharsi Atri adalah salah satu dari tujuh orang Maharsi penerima wahyu Veda (Sapta Rsi) yang secara khusus menerima tentang Jyotisa (ilmu bintang), yang kemudian diturunkan pada muridnya yang bernama Bhagawan Garga. Jyotisa diperkirakan disusun kita-kira 1200 tahun SM. Pengetahuan ini sangat berguna dalam penentuan hari baik dalam melaksanakan upacara-upacara Veda. Lebih jjauh pembicaraan seputar Astronomi dan Astrologi dalam kasanah kesusastraan Hindi dijelaskan pula pada kitab Purana, Dharmasastra dan Itihasa. Secara tersurat pada teks inilah dapat dilihat dengan jelas pembagian yuga (jaman) menajdi empat yakni satya yuga, traita yuga, dwapara yuga dan kali yuga. Satu yuga umurnya 432.000 tahun; 1000 juga menjadi 1 kalpa.
         
            Sistem tarikh/perhitungan tahun  yang dipakai di India sebelum penyebaran Hindu ke Nusantara adalah Sakavarsa atau Tahun Saka. Penciptaan tahun ini adalah momentum terpenting dari berkuasanya Maharaja kaniska dari dinasti Caka. Permulaan tahun Saka dimulai setelah tahun 78 M, diawali oleh sebuah kejadian Astronomis, pada hari minggu tanggal 21 Maret 79 tilem caitra/kesanga, diumumkanlah oleh raja Kaniskha tarikh baru yang kemudian dinamakan dengan Sakravarsa atau tahun Saka, perhitungan tahunnya dimulai pada jam 00.00, tanggal 22 Maret tahun 79 Masehi (penanggal pisan sasih Waisyaka/Kedasa)

B. Pengertian Padewasan

             Padewasan berasal dari kata “dewasa” mendapat awalan pa- dan akhiran – an (pa-dewasa-an). Dewasa artinya hari pilihan,  hari baik. Padewasan berarti ilmu tentang hari yang baik. Dewasa Ayu artinya hari yang baik untuk melaksanakan sesuatu. Selanjutnya kata “divesa” dalam bahasa sansekerta berasal dari akar kata “div” yang artinya sinar. Dari kata div lalu menjadi divesa yang berarti sorga, langit, hari.

             Kata dewasa sering dikaitkan dengan kawa wariga yang dalam bahasa Bali jika ditinjau dari segi sejarah bahasa, memiliki hubungan genetik dengan bahasa Sansekerta dan Jawa Kuna. Berdasarkan keterangan lontar Wariga Gemet kata waiga berarti wa (terang), ri (puncak) dan ga artinya (wadag). Secara harfiah, kata wariga berarti wadag untuk mencapai puncak yang terang. Jadi dapat dijelaskan wariga dalam pengertian bahasa bali adalah ajaran mengenai sistem kelender/tarikh tradisional Bali, terutama dalam menentukan diwasa/dewasa (baik-buruknya hari) terekait kepentingan masyarakat. Padewasab dapat ditentukan dengan menggunakan wariga.

C. Hakikat Padewasan

              Penggunaan wariga dan dewasa bertujuan untuk melengkapi tata laksana agama. Secara hakiki fungsi dari wariga adalah pelengkap dalam ilmu agama yang ertujuan untuk memberikan ukuran atau pedoman dalam mencapai dewasa. Dewasa sebagai suatu kebutuhan dalam pelaksanaan aktivitas hidup umat Hindu bertujuan memberikan rambu-rambu kemungkinan-kemungkinan pengaruh baik0buruk hari terhadap berbagai usaha manusia. Baik buruk hari mempunyai akibat terhadap nilai hasil dan guan suatu perbuatan, misalnya :

1. Melihat cocok atau tidak cocoknya perjodohan oleh karena pembawaan dari pengaruh kelahiran yang membawa sifat tertentu kepada seseorang.

2. Melihat cocok atau tidaknya mulai membangun, membuat fondasi, mengatapi rumah, pindah rumah dan sebagainya.

3. Melihat baik atau tidaknya untuk melakukan upacara ngaben, atau awiwa-tiwa.

4. Melihat baik atau tidaknya untuk melakukan segala macam upacara kesucian yang ditujukan kepada Dewa-Dewa.

5. Melihat baik tidaknya untuk melakukan kegiatan termasuk bidang pertanian dan lain-lainnya.

               Adanya gambaran tentang baik atau tidak baiknya suatu hari untuk melakukan suatu kegiatan orang diharapkan lebih bersifat hati-hati dan tidak boleh gegabah. Ini diharapkan tidak mempengaruhi keimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa melainkan menjadi dasar pelaksanaan sradha dan bhakti (imam dan taqua), sehingga apa yang diharapkan bisa tercapai dengan baik. Secara hakikat seperti yang dijelaskan pada maksud dan tujuan wariga dan dewasa adalah :

a) Memberi ukuran atau pedoman yang perlu dilakukan oleh orang yang akan melaksanakan suatu pekerjaan berdasarkan ajaran agama Hindu dengan harapan bisa berhasil dengan baik.

b) Untuk memberi penjelasan tentang berbagai kemungkinan akibat yang timbul akibat pemilihan hari yang dipilih sehingga memberikan alternatif lain yang akan dipilih.

c) Sebagai suplemen dalam mempelajari Veda dan agama Hindu sehingga dalam menjalankan ajarannya bisa dilaksanakan secara tepat sesuai pengaruh waktu dan planet-planet yang berpengaruh pada waktu-waktu tertentu.

Manusia, India, Hindu, Potret

Written by Ningsih

hidup adalah yadnya dan tidak ada yadnya yang sia-sia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bentuk-Bentuk Pelaksanaan Yadnya dalam Kehidupan Sehari-hari

Pengertian Dan Pokok-Pokok Isi Purana – Agama Hindu