in

Sistem Pawiwahan dalam Agama Hindu

Sistem Pawiwahan dalam Agama Hindu

Perenungan:

Hina kriy¢m niᒲpurusaᒡ niᒱchando roma ᒱ¢rᒱasam,

kᒲayy¢may¢vya pasm¢ri svitrikusthi kul¢ni ca.

Terjemahannya:

Kesepuluh macam itu (perkawinan) ialah, keluarga yang tidak menghiraukan

upacara-upacara suci, keluarga yang tidak mempunyai keturunan laki, keluarga

yang tidak mempelajari Veda, keluarga yang anggota badannya berbulu tebal,

keluarga yang mempunyai penyakit wasir, penyakit jiwa, penyakit mag, penyakit

ayan atau lepra (Manawadharmasastra III. 7).

Memahami Teks:

Sistem perkawinan Hindu adalah tata-cara perkawinan yang dilakukan oleh

seseorang secara benar menurut hukum Hindu. Seseorang hendaknya dapat

melaksanakan upacara perkawinan sesuai dengan tata-cara upacara perkawinan

Hindu, sehingga yang bersangkutan dapat dinyatakan sah sebagai suami

istri. Kitab Suci Hindu yang merupakan kompidium hukum Hindu “Manawa

Dharmasastra” memuat tentang beberapa sistem atau bentuk perkawinan Hindu,

sebagai berikut:

 “Brahma Dai vastat hai varsyah,

prapaja yastatha surah,

gandharwa raksasa caiva,

paisacasca astamo dharmah”

Terjemahannya:

Adapun sistem perkawinan itu ialah Brahma Wiwaha, Daiwa Wiwaha,

Rsi Wiwaha, Prajapati Wiwaha, Asura Wiwaha, Gandharwa Wiwaha, Raksasa

Wiwaha, dan Paisaca Wiwaha (Manawa Dharmasastra.III.21).

Menurut penjelasan Kitab Manawa Dharmasastra tersebut di atas dapat

dinyatakan bahwa sistem atau bentuk perkawinan itu ada 8 jenis, yaitu:

a. Brahma Wiwaha adalah perkawinan yang terjadi karena pemberian anak

wanita kepada seorang pria yang ahli Weda (Brahmana) dan berperilaku

baik dan setelah menghormati yang diundang sendiri oleh wanita. Kitab

Menawadharmasastra menjelaskan:

¢cch¢dya c¢rcayitv¢ ca ᒱruti ᒱila vate svayaᒡ,

¢huya d¢naᒡ kany¢y¢ br¢hmyo dharmah prakirtitah.

Terjemahannya:

Pemberian seorang gadis setelah terlebih dahulu dirias (dengan pakaian yang

mahal) dan setelah menghormati (dengan menghadiahi permata) kepada seorang

yang ahli dalam Veda lagi pula budi bahasanya yang baik, yang diundang (oleh

ayah si wanita) disebut acara brahna Wiwaha (Manawa Dharmasastra III.27).

b. Daiwa Wiwaha adalah perkawinan yang terjadi karena pemberian anak

wanita kepada seorang pendeta yang melaksanakan upacara atau yang telah

berjasa. Kitab Menawadharmasastra menjelaskan:

Yajñe tu vitate samyag ᒮtvije karma kurvate,

alankᒮtya sut¢d¢naᒡ daivaᒡ dharmaᒡ pracakᒲate.

Terjemahannya:

Pemberian seorang anak wanita yang setelah terlebih dahulu dihias dengan

perhiasan-perhiasan kepada seorang Pendeta yang melaksanakan upacara

pada saat upacara itu berlangsung disebut acara Daiwa Wiwaha (Manawa

Dharmasastra III.28).

c. Arsa Wiwaha adalah perkawinan yang dilakukan sesuai dengan peraturan

setelah pihak wanita menerima seekor atau dua pasang lembu dari pihak

calon mempelai laki-laki, Kitab Menawadharmasastra menjelaskan:

Ekaᒡ gomithunᒡm dve v¢ var¢d¢d¢ya dharmataá,

kany¢prad¢naᒡ vidhiva d¢rᒲo dharmaá sa ucyate,

Terjemahannya:

Kalau seorang ayah mengawinkan anak perempuannya sesuai dengan

peraturan setelah menerima seekor sapi atau seekor atau dua pasang lembu

dari pengantin pria untuk memenuhi peraturan dharma, disebut Arsa Wiwaha

(Manawa Dharmasastra III.29).

d. Prajapati Wiwaha adalah perkawinan yang terlaksana karena pemberian

seorang anak kepada seorang peria, setelah berpesan dengan mantra semoga

kamu berdua melaksanakan kewajibanmu bersama dan setelah menunjukan

penghormatan (kepada pengantin pria), Kitab Menawadharmasastra

menjelaskan:

sahobhau caratam dharmam iti vacanubhasya ca,

kanyapradanam abhyarcya prajapatyo vidhih smrtah.

Terjemahannya:

Pemberian seorang anak perempuan (oleh ayah si wanita) setelah berpesan

(kepada mempelai) dengan mantra “semoga kamu berdua melaksanakan

kewajiban-kewajiban bersama-sama” dan setelah menunjukkan penghormatan

(kepada pengantin pria), perkawinan ini dalam kitab Smrti dinamai acara

perkawinan Prajapati (Manawa Dharmasastra III.30).

e. Asura Wiwaha adalah bentuk perkawinan yang terjadi di mana setelah

pengantin pria memberikan emas kawin sesuai kemampuan dan didorong

oleh keinginannya sendiri kepada si wanita dan ayahnya menerima wanita

itu untuk dimiliki, Kitab Menawadharmasastra menjelaskan:

jnatibhyo dravinam dattva kanyayai caiva sakitah,

kanya pradanam svacchandyad asuro dharma ucyate.

Terjemahannya:

Kalau pengantin pria menerima seorang perempuan setelah pria itu memberi

mas kawin sesuai menurut kemampuannya dan di dorong oleh keinginannya

sendiri kepada mempelai wanita dan keluarganya, cara ini dinamakan perkawinan

Asur

a (Manawa Dharmasastra III.31).

f. Gandharwa Wiwaha adalah bentuk perkawinan suka sama suka antara

seorang wanita dengan pria, Kitab Menawadharmasastra menjelaskan:

Icchay¢nyonya saᒡyogaá

kany¢y¢ᒱca varasya ca,

g¢ndharvaá sat u vijñeyo

maithunyaá k¢masambhavaá.

Terjemahannya:

Pertemuan suka sama suka antara seorang perempuan dengan kekasihnya

yang timbul dari nafsunya dan bertujuan melakukan perhubungan kelamin

dinamakan acara perkawinan Gandharwa (Manawa Dharmasastra III.32).

g. Raksasa Wiwaha adalah bentuk perkawinan dengan cara menculik gadis

dengan cara kekerasan, Kitab Menawadharma sastra menjelaskan:

hatv¢ chitv¢ ca bhittv¢ ca kroᒱantiᒡ rudatiᒡ grh¢t,

prasahya kany¢ haranaᒡ r¢kᒱaso vidhi rucyate.

Terjemahannya:

Melarikan seorang gadis dengan paksa dari rumahnya di mana wanita

berteriak-teriak menangis setelah keluarganya terbunuh atau terluka, rumahnya

dirusak, dinamakan perkawinan Raksasa, (Manawa Dharmasastra III.33).

h. Paisaca Wiwaha adalah bentuk perkawinan dengan cara mencuri,

memaksa, dan membuat bingung atau mabuk, Kitab Menawadharmasastra

menjelaskan:

Supt¢ᒡ matt¢ᒡ pramatt¢ᒡ v¢

raho yatropagacchati,

sa p¢piᒲþho viv¢h¢n¢ᒡ

pais¢caᒱc¢ᒲþamo ‘dharmaá.

Terjemahannya:

Kalau seorang laki-laki dengan cara mencuri-curi memperkosa seorang wanita

yang sedang tidur, sedang mabuk atau bingung, cara demikian adalah perkawinan

paisaca yang amat rendah dan penuh dosa (Manawa Dharmasastra III.34).

Dari delapan sistem perkawinan di atas ada dua sistem yang dihindari

dalam membangun kehidupan grhastha. Mengapa patut dihindari tentu karena

berlawanan dengan norma-norma agama, norma-norma hukum. Kedua sistem

perkawinan yang dimaksud antara lain: Raksasa Wiwaha dan Paisaca Wiwaha.

Menurut tradisi adat di Bali, ada empat bentuk atau sistem perkawinan, yaitu:

1. Sistem memadik/meminang, yaitu pihak calon suami serta keluarganya

datang ke rumah calon istrinya untuk meminang calon istrinya.

Biasanya kedua calon mempelai sebelumnya telah saling mengenal

dan ada kesepakatan untuk berumah tangga. Dalam masyarakat Bali,

sIstem ini dipandang sebagai cara yang paling terhormat.

2. Sistem ngererod/ngerangkat, yaitu bentuk perkawinan yang

berlangsung atas dasar cinta sama cinta antara kedua calon mempelai

yang sudah dipandang cukup umur. Jenis perkawinan ini sering disebut

kawin lari.

3. Sistem nyentana/nyeburin, yaitu sistem perkawinan yang

dilaksanakan berdasarkan perubahan status hukum dimana calon

mempelai wanita secara adat berstatus sebagai purusa dan calon

mempelai laki-laki berstatus sebagai pradana. Dalam hubungan ini

laki-laki tinggal di rumah istri

4. Sistem melegandang, yaitu bentuk perkawinan secara paksa yang

tidak didasari atas cinta sama cinta. Jenis perkawinan ini dapat

disamakan dengan Raksasa Wiwaha dan Paisaca Wiwaha dalam

Manawa Dharmasastra.

Dalam perkembangan selanjutnya dikenal adanya sistem perkawinan Makaro

lemah dan sistem campuran. Sistem Makaro lemah adalah upacara perkawinan

yang dilaksanakan pada dua tempat (pihak purusa dan pradana) yang selanjutnya

ke dua mempelai masing-masing diberikan hak pewaris. Sedangkan perkawinan

campuran adalah perkawinan yang dilaksanakan oleh mempelai berdua masingmasing yang berbeda agama, suku adat dan bangsa.

Sesuai dengan ajaran agama Hindu yang bersifat fleksibel dan universal,

sistem yang berkembang di setiap wilayah yang ada di Nusantara ini sepanjang

tidak bertentangan dengan nilai-nilai luhur ajaran agama Hindu dapat

dilaksanakan dan diterapkan.

Selain itu dalam ketentuan Pasal 57 dari Undang-Undang Perkawinan

diatur tentang perkawinan campuran antara mereka yang berbeda kewarganegaraan. Sebagai suatu kenyataan, tidak jarang terjadi perkawinan di antara

mereka yang berbeda agama. Menurut Ordenansi Perkawinan campuran, maka

hukum agama pihak suami yang harus diikuti. Terkait dengan hal ini, agar

perkawinan dapat berlangsung dengan baik dan dipandang sah menurut Agama

Hindu, dilaksanakanlah upacara sudhiwadani. Para rohaniawan yang memimpin

(muput) upacara paWiwahaan tersebut melaksanakan upacara sudhiwadani

kepada si wanita, yang sudah tentu diawali dengan suatu pernyataan bahwa

si wanita sanggup mengikuti agama pihak suami. Setelah itu, barulah upacara

Wiwaha itu dilaksanakan.

Pelaksanaan perkawinan dilarang apabila, kedua calon mempelai belum

dapat memenuhi persyaratan sebuah perkawinan yang diinginkan. Larangan

suatu perkawinan diawali dengan pencegahan. Hal ini bisa terjadi karena

dipandang belum memenuhi syarat-syarat hukum agama maupun hukum

Nasional. Berdasarkan Pasal 1 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 dari UndangUndang Perkawinan, pencegahan dilakukan dengan cara mengajukan ke

Pengadilan Negeri dalam wilayah hukum di mana dilangsungkan perkawinan itu.

Atau Pengadilan Negeri meminta batalnya suatu perkawinan karena dipandang

yang bersangkutan tidak memenuhi syarat hukum yang berlaku. Pencegahan

yang dilakukan lebih banyak bersifat preventif. Pencegahan preventif dapat juga

dilakukan oleh pendeta atau Brahmana dengan menolak untuk mengesahkannya,

karena dipandang tidak memenuhi syarat menurut hukum agama.

Selain pencegahan secara preventif juga bersifat represif, yaitu dengan

memutuskan suatu perkawinan karena perkawinan itu didasarkan atas penipuan

atau kekerasan, misalnya melalui sistem raksasa dan paisaca Wiwaha atau juga

sistem melegandang. Dalam peristiwa ini hakim dapat membatalkan perkawinan

dan mengancam dengan sanksi hukum bagi pelakunya. Perkawinan lain juga

dapat dibatalkan apabila salah satu pihak calon mempelai memiliki penyakit

menular atau impotensi, atau juga yang menderita sakit jiwa.

Dalam kitab Menawa Dharmasastra disebutkan: pencegahan perkawinan

dapat dilakukan apabila yang bersangkutan memiliki hubungan sapinda, artinya

mempunyai hubungan darah yang dekat dari keluarga. Menurut Undang-Undang

No. 1 tahun 1974, suatu perkawinan dapat dibatalkan bila tidak sesuai dengan

ketentuan Pasal 24 dan Pasal 27 yang isinya dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Suatu perkawinan dapat dimintakan pembatalannya apabila

bertentangan dengan hukum agama, misalnya dilaksanakan dengan

sistem raksasa atau Paisaca Wiwaha.

2. Perkawinan dapat dibatalkan bilamana calon mempelai masih

mempunyai ikatan perkawinan dengan seseorang sebelumnya.

3. Perkawinan dapat dibatalkan apabila calon istri atau suami mempunyai

cacat yang disembunyikan, sehingga salah sa tu pihak merasa ditipu,

misalnya memiliki penyakit menular yang berbahaya, tidak sehat

pikiran atau impotensi, mengandung karena akibat berhubungan

dengan laki-laki lain.

4. Perkawinan dibatalkan berdasarkan hubungan sapinda atau masih

memiliki hubungan darah.

5. Perkawinan bisa dibatalkan apabila si istri tidak menganut agama yang

sama dengan suami menurut hukum Hindu.

Larangan perkawinan ini dilakukan bukan berarti melanggar hak azasi

seseorang, melainkan bertujuan untuk menghormati hak azasi masing-masing

individu yang bersangkutan. Dengan demikian ada baiknya kita dapat mengikuti

guna dapat mewujudkan masa grehastha yang harmonis. Berikut ini akan

diuraikan tentang sistem perkawinan menurut Hindu sebagai berikut:

Wiwaha Menurut Suku Bali

Upacara perkawinan merupakan upacara pesaksian, baik kehadapan Ida

Sang Hyang Widhi Wasa maupun kepada masyarakat, bahwa kedua orang

tersebut mengikatkan diri sebagai suami istri, dan segala akibat perbuatannya

menjadi tanggung jawab mereka bersama. Di samping itu, upacara tersebut juga

merupakan pembersihan terhadap sukla (sperma) dan swanita (ovum) serta lahir

batinnya. Hal ini dimaksudkan agar bibit (benih) dari kedua mempelai bebas

dari pengaruh-pengaruh buruk (gangguan bhuta kala), sehingga kalau keduanya

bertemu (terjadi pembuahan) dan terbentuklah sebuah “manik” (embrio) yang

sudah bersih.

Demikian, diharapkan agar roh yang menjiwai manik (janin muda) itu adalah

roh yang suci dan baik dan kemudian dapat melahirkan seorang anak yang suputra

dan berguna di dalam masyarakat. Selain itu dengan adanya upacara perkawinan

ini, berarti kedua mempelai telah memilih agama Hindu serta ajaran-ajarannya

sebagai pegangan hidup di dalam berumah tangga. Disebutkan pula bahwa

hubungan seks di dalam suatu perkawinan yang tidak didahului dengan upacara

pekalan-kalaan dianggap tidak baik dan disebut “kama keparagan” dan anak

yang lahir akibat kama tersebut adalah anak yang tidak menghiraukan nasihat

orang tua atau ajaran-ajaran agama. Sifat dan sikap anak yang demikian sering

disebut dengan istilah “rare dia-diu”.

Sahnya suatu perkawinan menurut adat-istiadat Hindu di Bali dari segi

ritualnya terbagi menjadi beberapa tingkatan, antara lain nista (kecil), madya

(sedang), dan uttama (besar). Walaupun ditingkat-tingkatkan menjadi tiga

tahapan, namun nilai ritual yang dikandung adalah sama. Tata cara upacara

perkawinan yang dimaksud antara lain :

a. Tata Urutan Upacara.

Pelaksanaan ritual upacara perkawinan menurut adat Hindu di Bali sesuai

ajaran agama yang dianutnya oleh masing-masing umat adalah:

1. Penyambutan Kedua Mempelai

Penyambutan kedua mempelai sebelum memasuki pintu halaman

rumah adalah simbol untuk melenyapkan unsur-unsur negatif yang

mungkin dibawa oleh kedua mempelai sepanjang perjalan menuju

rumah pihak purusa, agar tidak mengganggu jalannya upacara.

2. Mabyakala

Upacara ini dimaksudkan untuk membersihkan dan menyucikan

lahir batin dari kedua mempelai terutama sukla dan swanita, yaitu sel

benih pria dan sel benih wanita agar menjadi janin yang suci dan dapat

melahirkan anak yang suputra.

3. Mepejati atau Pesaksian

Mepejati merupakan upacara pesaksian tentang pengesahan

perkawinan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang

Maha Esa, juga kepada masyarakat, bahwa kedua mempelai telah

meningkatkan diri sebagai suami atau istri yang sah dengan membangun

grehastha atau rumah tangga baru.

 b. Sarana/Upakara.

Jenis upakara yang dipergunakan pada upacara ini secara sederhana dapat

dirinci, sebagai berikut:

1. Banten Pemagpag, segehan, dan tumpeng dadanan.

2. Banten Pesaksi, prasdaksina, dan ajuman.

3. Banten untuk mempelai terdiri dari: byakala, banten kurenan, dan

pengulap pengambean.

Adapun kelengkapan upakara yang lainnya patut juga dipersiapkan dan

dipersembahkan antara lain, sebagai berikut:

a. Tikeh dadakan:

Tikeh dadakan adalah sebuah tikar kecil yang dibuat dari daun pandan yang

masih hijau. Ini merupakan simbol kesucian si gadis.

b. Papegatan:

Pepegat yaitu berupa dua buah cabang pohon kayu dapdap yang ditancapkan

di tempat upacara, jarak yang satu dengan yang lainnya agak berjauhan dan

keduanya dihubungkan dengan benang putih dalam keadaan terentang.

c. Tetimpug:

Tetimpug yaitu beberapa potongan pohon yang bambu kecil yang masih

muda dan ada ruasnya dengan jumlah sebanyak lima atau tujuh batang.

d. Sok Dagangan:

Sok dagangan yaitu sebuah bakul berisi buah-buahan, rempah-rempah, dan

keladi, yang semuanya ini sebagai simbulis isi dagangan.

e. Kala Sepetan:

Kala sepetan yaitu disimbolkan dengan sebuah bakul berisi serabut kelapa

dibelah tiga yang diikat dengan benang tri datu, diselipi lidi tiga buah, dan

tiga lembar daun dapdap. Kala Sepetan adalah nama salah satu bhuta kala

yang akan menerima pakalan-kalaan.

f. Tegen-tegenan:

Tegen-tegenan yaitu batang tebu atau cabang dapdap yang kedua ujungnya

diisi gantungan bingkisan nasi dan uang.

 c. Jalannya Upacara.

Prosesi pelaksanaan upacara perkawinan menurut adat Hindu di Bali

biasanya dilaksanakan dengan :

1. Upacara Penyambutan Kedua Mempelai

Begitu calon mempelai memasuki pintu halaman pekarangan rumah,

disambut dengan upacara masegehan dan tumpeng dandanan.

Kemudian kedua mempelai dipersilakan duduk di tempat yang telah

disediakan untuk menunggu upacara selanjutnya.

2. Upacara Mebyekala

Sebelumnya acara mabyakala, dilakukan upacara puja astuti oleh

pemimpin upacara. Selanjutnya membakar tetimpug sampai berbunyi

sebagai simbol pemberitahuan kepada bhuta-kala yang akan menerima

pekalaa-kalaan. Kedua mempelai berdiri melangkahi tetimpug

sebanyak tiga kali dan selanjutnya menghadap banten pabyakalaan.

Kedua tangan mempelai dibersihkan dengan segau atau tepung tawar,

kemudian natab pabyakalaan. Selanjutnya masing-masing kedua

ibu jari kaki dari mempelai disentuhkan dengan telur ayam mentah

di depan kakinya sebanyak tiga kali. Selanjutnya kedua mempelai

dilukat dengan upakara pengelukatan. Upacara selanjutnya adalah

berjalan mengelilingi banten pesaksi dan kala sepetan yang disebut

dengan murwa daksina. Saat berjalan, mempelai wanita berada di

depan sambil menggendong sok dagangan (simbol menggendong

anak), diiringi mempelai pria memikul tegen-tegenan (simbol kerja

keras untuk memperoleh nafkah sebagai sumber penghidupan). Setiap

melewati Kala Sepetan, ibu jari kanan kedua mempelai disentuhkan

pada bakul yang melambangkan Kala Sepetan.

Mempelai wanita saat berjalan dicemeti (dipukuli) dengan tiga buah

lidi oleh si pria sebagai simbol telah terjadi kesepakatan untuk sehidupsemati. Yang terakhir kedua mempelai bersama-sama memutuskan

benang pepegatan sebagai tanda mereka berdua telah memasuki hidup

Grehastha.

3. Upacara Mapejati atau Persaksian

Dalam upacara persaksian, kedua mempelai melaksanakan puja

bhakti (sembahyang) sebanyak lima kali kepada Ida Sang Hyang

Widhi. Setelah sembahyang (mebhakti), mempelai berdua diperciki

tirtha pembersihan oleh pemimpin upacara. Kemudian natab banten

widhi widhana dan mejaya-jaya.

Dengan demikian, maka selesailah pelaksanaan samskara Wiwaha.

Setelah prosesi Wiwaha samskara selesai, baru kemudia dilanjutkan

penandatanganan surat akta perkawinan oleh kedua belah pihak

dihadapan saksi dan pejabat yang berwenang sebagai legalitas secara

hukum nasional.

Wiwaha Menurut Suku Jawa

Secara umum pelaksanaan upacara Wiwaha (perkawinan) di daerah Bali

dengan di daerah Jawa dan yang lainnya adalah sama. Namun dari beberapa

tradisi atau kebiasaan yang berkembang di masyarakat setempat sepertinya ada

perbedaan tetapi hanya bersifat sebatas istilah. Tidak ada perbedaan makna

dan tujuan yang ingin dicapai. Berikut ini dapat disajikan beberapa rangkaian

upacara Wiwaha di Jawa.

a. Rangkaian Upacara Perkawinan:

Dalam rangka upacara perkawinan Hindu di Jawa, sebelum upacara inti

dilakukan serangkaian acara sebelumnya wajib dilaksanakan. Adapun rangkaian

acara tersebut adalah:

1. Nontoni, yaitu melihat dari dekat calon istri oleh calon suami dengan

cara berkunjung ke rumah keluarga calon istri.

2. Pinangan, yaitu dalam acara ini bukan orang tua suami yang datang

melamar, melainkan kerabat dan keluarga orang tua calon suami yang

dianggap mampu. Apabila lamaran diterima, diteruskan perundingan

untuk menentukan hari baik perkawinan.

3. Pinengset, yaitu (asok tukon) utusan keluarga pihak pria berkunjung

ke rumah pihak wanita dengan membawa tanda ikat berupa cincin,

pakaian, kerbau, sapi atau berupa kebutuhan hidup lainnya.

4. Midodareni, yaitu sehari sebelum melaksanakan upacara puncak

perkawinan, pihak keluarga wanita menyiapkan keperluan untuk

melaksanakan perkawinan esok hari. Seperti kembang mayang dan

keperluan lainnya, termasuk mulai merawat calon penganten wanita.

5. Panggih Manten, yaitu upacara puncak dari seluruh upacara

perkawinan.

 b. Sarana-sarana lainnya yang perlu disiapkan sebagai berikut:

1. Tarub, yaitu bangunan darurat saat pelaksanaan upacara perkawinan

dilangsungkan.

2. Janur, yaitu daun kelapa yang muda untuk keperluan tanda masuk

rumah halaman rumah, kembar mayang, dan dekorasi.

3. Kelapa dua buah sebagai lambang benih yang di pasang di kanan kiri

pintu masuk.

4. Pisang raja yang sudah tua, dipotong dengan batangnya dipasang

dikanan kiri pintu masuk sebagai lambang raja atau ratu.

5. Kembang setaman yang dibuat dari janur, bunga pisang yang sedang

mekar, daun beringin, daun andong, daun puring, yang dilengkapi

sesaji berupa pisang, dan nasi golong dengan lauk pauknya beserta

gantalan.

6. Tebu Wulung yang dipajang di pintu kanan masuk, sebagai lambang

benih suami istri yang sudah matang.

 c. Beberapa Sesajen:

1. Sesajen gede yang ditaruh di atas tarub, unsurnya adalah pisang dua

sisir, kelapa yang dikupas, beras lawe, telur, beberapa daun-daunan,

jajan pasar, bunga, gantalan dan uang/sari.

2. Cok Bakal (daksina), unsurnya, empon-empon, teri, kluak, telor, badek,

tuak, gantalan, dan uang/sari. Sesajen ini ditaruh dipojok setiap rumah

dan satu ditanam di halaman rumah.

3. Sesajen yang terdiri dari jajanan pasar, beras kuning, gantalan, yang

ditaruh di dapur, di sumur, dan perempatan jalan terdekat.

4. Dua buah kendil yang diisi beras, telur, dan kelapa gading 2 buah yang

di taruh dekat pelaminan.

5. Kembang mayang sebanyak 4 buah yang digunakan dalam panggih

manten.

6. Bubur merah putih, bunga dalam gelas berisi air dan gantalan atau

kinang serta lampu minyak kelapa dan sambu lawe.

 d. Upacara Panggih Manten:

1. Upacara Pengesahan Penganten

Pendeta atau Pinandita selaku pemimpin upacara memuja di tempat

upacara, kemudian mempelai menghadap Pendeta atau Pinandita untuk

memperoleh penyucian. Kemudian berjalan mengitari sesajen ke

arah kiri sebanyak 3 kali, setelah itu duduk sembahyang muspa dan

dilanjutkan matirtha. Barulah mempelai mendapatkan pembekalan.

2. Upacara Panggih Manten:

Adapun urut-urutannya adalah sebagai berikut:

a. Balanga Gantal, yaitu kedua penganten dipertemukan dengan

berpakaian adat kebesaran. Si pria sebelumnya dituntun ke

rumah pondokan diiringi oleh dua orang jejaka dengan membawa

kembang mayang di sampingnya. Menjelang kepelaminan,

pengiring tidak boleh masuk, kecuali yang membawa kembang

mayang, bersama penganten putri menjemput penganten pria. Pada

saat itu, mempelai membawa gantalan, setelah jarak pertemuan

sekitar 2 meter mereka saling melempar gantalan.

b. Menginjak Telur, yaitu setelah kedua mempelai dipertemukkan

dan saling berjabat tangan, maka diadakan penukaran kembang

mayang kedua mempelai. Selanjutnya mempelai wanita jongkok

untuk membasuh kaki mempelai pria dengan air kembang setaman.

c. Timbangan, yaitu sebuah selendang kedua mempelai dituntun

mengikuti ayah dan ibu mempelai wanita. Kemudian ayah duduk

di pelaminan dan kedua mempelai duduk di pangkuannya sebagai

simbol bibit, bobot, dan bebet. Selanjutnya kedua mempelai duduk

di pelaminan kembali.

d. Dahar Kembul Nasi Kuning, adalah cara makan bersama kedua

mempelai dalam satu piring dengan saling suap menyuap.

e. Sungkem, adalah cara sembah bhakti kedua mempelai kehadapan

orang tua.

Rangkaian upacara paWiwahan suku adat Jawa pada prinsipnya tidak jauh

berbeda dengan tradisi yang berlaku di daerah lainnya, khususnya seperti di Bali.

Makna, hakekat, dan tujuan yang ingin diwujudkan dalam kehidupan berumahtangga oleh suku adat Jawa dibandingkan dengan suku adat yang lainnya yang

menganut agama Hindu sesungguhnya adalah sama, yakni untuk membangun

rumah tangga yang sejahtera dan bahagia. Inilah bentuk keindahan dari umat

beragama Hindu yang berada di Nusantara kita ini.

Wiwaha Menurut Suku Dayak

Perkawinan atau Wiwaha menurut umat Hindu adat Dayak dapat dibagi

menjadi 3 tahapan sebagai berikut:

a. Mamupuh

Bila keluarga pihak laki-laki telah mencapai sepakat tentang seorang

wanita yang akan dilamar, maka keluarga laki-laki mengirim utusan kepada

pihak perempuan untuk menyampaikan lamarannya. Utusan tersebut membawa

persyaratan adat, seperti : Sangku Tambak (mangkok yang berisi beras dan uang

logam yang berguna sebagai Singa Sangku). Persyaratan tersebut merupakan

simbolis bahwa pihak laki-laki melamar seorang wanita. Persyaratan tersebut

diserahkan langsung kepada orang tua atau wali pihak perempuan. Jika, pihak

perempuan menerima lamaran tersebut, mereka harus menyampaikan kepada

utusan laki-laki yang melamar. Setelah mengetahui lamarannya diterima, pihak

laki-laki menyerahkan pakaian Sinde (selembar kain panjang atau kamben)

kepada wanita yang dilamar dan pada saat itu juga pihak laki-laki menetapkan

rencana untuk meminang.

b. Meminang

Peminangan biasanya dilakukan dalam kurun waktu 3 bulan setelah pihak

laki-laki menyerahkan pakaian Sinde Mendeng. Persyaratan meminang yang

dibawa oleh pihak laki-laki, antara lain sebagai berikut: satu buah Gong untuk

Batu Pisek, Pakaian Sinde Mendeng, Seekor ayam, dan Lilis/lamaiang.

Dalam peminangan itu kedua belah pihak merundingkan persyaratan

perkawinan yang ditanggung oleh masing-masing pihak, seperti: Pelaku/Mas

kawin, Saput, Pakaian, dan Panginan Jandau. Jika telah tercapai kata sepakat

tentang persyaratan tersebut, barulah pihak laki-laki menyerahkan pinangan

tersebut kepada pihak perempuan. Ayam tersebut dibuatkan sesajen, darahnya

diambil sedikit untuk mencucikan kedua calon mempelai. Lilis/Lamiang dari

pihak laki-laki diikatkan pada pergelangan tangan calon mempelai perempuan.

Begitu juga Lilis dari pihak perempuan diikatkan pada pergelangan tangan calon

mempelai laki-laki. Semua kesepakatan yang dicapai dalam acara peminangan

ini dibuatkan surat yang diketahui oleh Demang Kepala Adat.

c. Tahap Pengukuhan Perkawinan

Sebelum keberangkatan mempelai laki-laki di rumahnya menuju kediaman

mempelai perempuan, terlebih dahulu diadakan upacara pemberangkatan. Setiba

di rumah mempelai perempuan, mempelai laki-laki terlebih dahulu menginjak

telur ayam yang di taruh di atas batu yang disiapkan di depan pintu, setelah itu

mempelai laki-laki Mapas dengan menggunakan daun andong yang dicelupkan

dalam air cucian beras. Maksud memapas ini adalah untuk menyucikan lahir

bathin, untuk mempelai wanita telah diadakan pada malam sebelumnya. Setiba

di rumah diadakan upacara Haluang Hapelek (perkawinan adat).

Pengukuhan perkawinan secara agama Hindu di Dayak berlangsung

keesokan harinya, pada pengukuhan perkawinan, kedua mempelai duduk

bersanding di atas sebuah gong, tangan mereka memegang Pohon Andong,

Rabayang, Rotan, serta menghadap sajen yang ditunjukkan kepada Putir Santang

(manifestasi Ranjung Hattala/Tuhan di bidang perkawinan). Yang melaksanakan

pengukuhan perkawinan adalah tujuh orang rohaniawan Agama Hindu dengan

menggunakan darah binatang kurban, minyak kelapa, dan beras. Setelah itu,

kedua mempelai diberi makan tujuh buah nasi tumpeng yang terlebih dahulu di

gabungkan menjadi satu dan kemudian di bagi berdua. Sebagai penutup kedua

mempelai manuhei sebanyak tujuh kali di depan rumah. Sore harinya dilanjutkan

dengan upacara Mahenjean Penganten yang pada prinsipnya memberikan nasihat

tentang pekawinan terhadap kedua mempelai.

Selama tujuh hari terhitung sejak upacara pengukuhan perkawinan, kedua

mempelai menjalankan beberapa pantangan, antara lain : tidak keluar rumah

dan tidak membunuh atau menyiksa binatang. Pada hari yang ke delapan, kedua

mempelai melakukan kunjungan ke rumah sesepuh keluarga mempelai untuk

memohon doa restu.

Wiwaha Menurut Suku Batak Karo

Proses pelaksanaan Wiwaha atau adat perkawinan Hindu di Batak Karo

dapat dipaparkan sebagai berikut:

a. Tahap Sebelum Upacara Perkawinan

1. Ertutut maksudnya saling memperkenalkan diri dari pihak laki-laki

dari keturunan mana, dan pihak perempuan itu dari keturunan mana.

Hal ini penting untuk mengetahui : bebet, bobot, dan bibit.

2. Naki-naki maksudnya kedua belah pihak (mempelai berdua) saling

berkenalan untuk mengetahui sifat pribadi calon mempelai, masingmasing pihak mempelai menyerahkan suatu benda atau uang yang di

sebut Tagih-tagih.

3. Nungkuni maksudnya jika pihak pria sudah menyetujui calon

wanita maka pihak orang tua laki-laki mengadakan hubungan dengan

keluarga pihak wanita, untuk menyampaikan keinginan anaknya dan

mengusahakan agar perkawinan mereka dapat dilaksanakan.

Demikian tahap awal persiapan tentang rangkaian upacara perkawinan

menurut adat Hindu menurut suku Batak Karo.

 b. Nangkih

Pihak laki-laki (purusa) membawa si wanita ke rumah keluarganya dengan

di antar oleh satu atau dua orang. Biasanya si wanita di bawa oleh laki-laki

ke rumah pihak anak berunya. Secara langsung tujuan acara ini adalah untuk

mengetahui maksud, tujuan pihak bersangkutan dan sekaligus dapat menentukan

serta mengambil langkah seperlunya.

Dalam hubungan ini, Anak Beru bertanggung jawab menghubungi Anak

Beru pihak si wanita dan orang tuanya untuk mengatur acara adat selanjutnya.

Dalam rangka mewujudkan langkah permulaan Nangkih ini, sebelum pihak pihak

laki-laki meninggalkan tempat pemberangkatan, terlebih dahulu dipersiapkan

Penandingen yang biasanya berupa uang atau barang. Dalam Nangkih ini sarana

upacaranya adalah Kampil dan Tabung.

 c. Maba Belo Selambar

Empat atau delapan hari setelah Nangkih diadakan kunjungan yang disebut

Maba Belo Selambar (membawa selembar sirih). Acara kunjungan tersebut cukup

sederhana, pihak keluarga laki-laki yang berkunjung sangat terbatas. Demikian

juga pihak keluarga wanita sebagai tuan rumah hanya memberitahu dua orang

saudara dari Anak Berunya. Upacara yang sederhana ini sejenis dengan upacara

Byakaon di Bali. Pada kesempatan ini pula ikut dibicarakan tentang ketentuan :

waktu, hari dan yang lainnya secara adat yang disebut dengan membawa manuk

(ayam). Alat yang dipakai dalam upacara ini adalah Kampil berisi sirih, belo

sempedi, gambir dua buah, pinang secukupnya, tembakau segulung, Tabung,

Beras, Setumba, Pinggan tempat uang, dan beberapa ekor ayam.

d. Maba Manuk (Membawa Ayam)

Acara ini dilaksanakan sesuai dengan hasil kesepakatan pada acara Maba

Belo Salambar yang lalu. Untuk pihak laki-laki adalah Anak Beru, Kalimbubu

Singalo Ulu Emas, yaitu pihak saudara laki ibu mempelai laki-laki Singalo

Peminin, Singalo Perbibi, dan Serembah Kulau (aron) dapat menghadiri. Dalam

hal ini, untuk lebih jelasnya yang disebut Anak Beru adalah saudara perempuan

pihak laki-laki, Kalimbubu Singalo Ulu Emas adalah saudara laki ibu mempelai

laki (paman si laki). Singalo Peminin adalah saudara laki-laki pihak ibu penganten

perempuan dalam bahasa Karo adalah Turang Impal yang tidak bisa dikawini.

Singalo Perbibi adalah saudara ibu perempuan dari pihak penganten wanita

(bibi). Dalam hal ini, keluarga masing-masing pihak sebagaimana yang telah

diuraikan tadi pada acara Maba Manuk turut ambil bagian dalam musyawarah

besar kecilnya Gantang Tumba (mas kawin) yang harus ditanggung oleh pihak

keluarga mempelai laki-laki.

Anak Beru, Senina masing-masing pihak mengambil tempat di tengah-tengah

pertemuan duduk berhadapan di atas tikar. Mula-mula Anak Beru pihak lakilaki menyuguhkan 5 buah kampil (tempat sirih) kepada pihak mempelai wanita,

satu untuk Singalo Bere-bere, satu untuk Senina Singalo Peminin dan satu untuk

anak Beru. Kampil tersebut diberikan dengan maksud untuk minta ijin apakah

musyawarah sudah dapat dimulai. Setelah kampil tersebut dikembalikan, maka

acara musyawarah dapat dimulai dengan berdialog. Dalam pembicaraan antara

kedua belah pihak, anak Beru bertindak sebagai penyambung pembicaraan.

Hal–hal yang menjadi pembahasan pada acara tersebut, atara lain pengesahan

dari pihak mempelai perempuan mengenai kesenangan hatinya atas perkawinan

yang telah dilaksanakan oleh anaknya. Untuk menentukan jumlah Bere-bere

harus dimusyawarahkan dengan Kalimbubu Singalo Bere-bere, di mana harus

dihubungkan dengan jumlah kado yang akan dibawanya dengan prinsip pihaknya

tidak dirugikan. Semua kelompok keluarga yang telah disebutkan tadi berhak

menerima bagian masing-masing dari Tukur.

Unjukan mempelai perempuan, bagian tersebut diterima sewaktu di

laksanakan pesta perkawinan si mempelai, khusus bagi Kalimbubu pihak

mempelai laki-laki juga mendapat bagian. Bagian tersebut dinamai Ulu Emas,

yaitu sejumlah uang diserahkan pihak laki-laki kepada kalimbubunya sendiri

(pihak saudara laki ibu mempelai laki-laki). Ulu Emas tersebut merupakan

penghormatan kepada kalimbubu seta minta izin bahwa mempelai laki-laki telah

kawin dengan seorang perempuan bukan dari kelompoknya.

Setelah diketahui besar kecilnya Unjukan atau Tukur melalui musyawarah,

ditentukan jumlah bere-bere. Maka dapat pula ditentukan jumlah peminin dan

Perbibi. Di dalam tingkat ini juga di bicarakan mengenai tingkatan pesta (Kerja

Erdemu Bayu) yang akan dilaksanakan. Untuk jaminan sebagai pengikat janji

pelaksanaan pesta pada waktu yang telah di tetapkan, kepada pihak mempelai

wanita diserahkan Pemindih Pudun masing-masing dalam bentuk uang dengan

jumlah ditetapkan bersama.

Sekiranya mempelai wanita ingkar dan mengagalkan perakwinan, uang

tersebut harus dikembalikan dua kali lipat, sebaliknya jika pihak laki-laki tidak

menepati janjinya, maka uang tersebut dianggap hilang.

Setelah hal tersebut selesai dimusyawarahkan dan dilaksanakan, maka

Pendingen yang telah diserahkan kepada pihak mempelai wanita, suatu anaknya

nangkih dulu dikembalikan. Sebagai penutup maka Anak Beru, Senina, masingmasing pihak melakukan Sijalepen artinya saling memperkenalkan diri, yakni

tentang nama dan Marganya.

e. Kerja Edermu Bayu

Untuk acara selanjutnnya adalah Kerja Erdemu Bayu yang biasanya

dilaksanakan di siang hari, ini merupakan inti pesta adat Karo yang beragama

Hindu. Tingkatan pesta adat ini ada yang besar, sedang, dan sederhana. Dalam

pelaksanaan upacara Kerja Erdemu Bayu ini, sarana yang diperlukan dalam

Kampil, Tabling, Beras Piher Setumbu, Uis Nipes untuk mempelai wanita

banyaknya dua lembar yang dipakai sebagai penutup kepala (Tudung) bagi yang

disebut dengan Bulang. Di samping itu, untuk pihak laki diberikan kain Pelihat,

dan barang perhiasan untuk pihak wanita, Pisau Tumbuk Lada untuk pihak lakilaki. Proses pelaksanaannya, setelah rombongan laki-laki tiba di rumah wanita,

disodorkan sirih kepada hadirin, setelah itu penyerahan Kampil dan Tudung

kepada ibu dan ayah si wanita dengan perantara Anak Beru Jabu kedua belah

pihak. Sesudah makan sirih dan merokok maka berbicaralah Anak Beru Jabu

pihak laki-laki (sipempo) kepada Kalimbubu si nenek perempuan pihak orang tua

si wanita dengan perantara Anak Beru Si Nereh, tentang keputusan pembicaraan

waktu Maba Manuk. Setelah selesai semua pembicaraan maka, dilaksanakan

secara berturut-turut oleh Anak Beru Dipempo dengan perantara Anak Beru Si

Nereh (mempelai wanita).

Memberi Unjukan (beli) kepada Si Mupus (yang melahirkan antara ayah

dan ibu) kepada Si Mupus salah seorang dari senina, Bere-bere, Perbibin,

Perninin, Si Rembah Jalai, dan penghulu. Sebaliknya pihak menerima (Si Nereh)

juga memberikan sesuatu kepada kedua mempelai. Menurut adat, penyerahan

dilakukan oleh Senina (orang tua wanita) menyerahkan berupa kain kawin (Uis

Sereh), emas perhiasan, dan menyerahkan modal rumah tangga berupa alat dapur

kepada kedua mempelai.

Setelah selesai upacara penyerahan adat itu, diakhiri dengan upacara

Mejuah-juah (Selamatan), sambil menaburkan beras agar kedua mempelai

selamat dalam menempuh hidup baru. Untuk acara selanjutnnya diteruskan acara

makan bersama, ini dilakukan oleh pihak laki-laki. Pada saat mukul ini diadakan

jamuan makan bersama dalam satu piring berisi makanan, nasi, telor, gulai, dan

ayam yang masih utuh (masak). Acara makan dalam satu piring ini merupakan

suatu sumpah untuk hidup bersama dan saling setia untuk selama-lamanya, ini

melambangkan persatuan dan kesatuan dalam perkawinan. Upacara ini dihadiri

oleh keluarga terdekat dari kedua belah pihak yaitu: Anak Beru, Kalimbubu,

Senina, dan Aron. Setelah berakhirnya upacara ini maka sah lah perkawinan

mereka dan sah pula sebagai suami istri.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa, sah nya suatu perkawinan

menurut Hukum Adat Hindu apabila telah memenuhi tiga syarat yang disebut

Tri Upa Saksi, yaitu saksi kepada keluarga, masyarakat (pemerintah), dan saksi

kepada Dewa/Tuhan. Saksi kepada keluarga akan terlihat pada waktu upacara

Maba Manuk yang hanya dihadiri oleh beberapa keluarga yang terdekat.

Sedangkan saksi kepada masyarakat akan nampak pada acara kerja Erdemu

Bayu yang dihadiri oleh kepala desa, kaum kerabat dan masyarakat lainnya.

Yang terakhir saksi kepada Dewa atau Tuhan akan dijumpai pada waktu upacara

Mukul, di mana kedua belah pihak mempelai makan berdua dalam satu piring

dengan mengucapkan sumpahnya kepada Tuhan di mana akan berjanji dan

bersumpah akan hidup bersama untuk selama-lamanya.

f. Sesudah Perkawinan

Upacara terakhir menurut Adat Karo yang beragama Hindu adalah

Nguluhken Limbas yang sering disebut dengan istilah Ertedeh Atai (kangen). Ini

dilaksanakan di rumah orang tua wanita sarana yang di persiapkan, yaitu ayam

2 ekor, beras secukupnya, kelapa segandeng, sayur-sayuran secukupnya, sirih

seperangkat, dan tabung.

Proses pelaksananya adalah dengan menyodorkan sirih kepada hadirin pihak

Sineren (mempelai wanita). Selanjutnya acara makan bersama karena mereka

telah sah menjadi suami istri yang sebentar lagi membuat rumah tangga yang

baru. Pada umunya laki-laki dan wanita Batak Karo yang sudah kawin, kedua

penganten itu tidak lama hidup atau tinggal bersama orang tua laki-laki. Mereka

akan berdiri sendiri berpisah dari rumah tangga orang tuannya. Tindakan mereka

yang dilakukan dengan memisahkan diri dari orang tua pihak lelaki disebut

dengan istilah ”Penyanyon atau Njoyo“. Dengan demikian dapat disimpulkan

bahwa:

1. Dengan perkawinan yang berlaku di Sumatra khususnya yang beragama

Hindu adalah sistem meminang.

2. Perkawinan yang dianggap ideal dalam masyarakat Batak Karo adalah

perkawinan orang-orang Rimpal, yakni di mana seorang laki-laki

dengan anak perempuan saudara laki-laki ibunya.

3. Dalam menyelesaikan segala kegiatan adat, maka Anak Beru,

Kalimbubu dan Senina ini harus ada (Sangkep Sitelu atau Rakut Sitelu)

dan ketiga ini mempunyai tugas dan fungsi yang berbeda-beda.

4. Dalam pelaksanaan pesta perkawinan, itu disesuaikan dengan keadaan

misalnya, bagi yang mampu dapat melaksanakan upacara perkawinan

dengan besar-besaran atau tingkat utama (Kerja Sinita dalam bahasa

karo).

Biasanya acara seperti ini disertai dengan iringan gendang adat. Bagi umat

yang perekonomiannya sedang maka dapat melangsungkan upacara dengan

tingkat madya atau menengah, sedangkan bagi umat sedharma yang tingkat

perekonomiannya rendah dapat melangsungkan upacara perkawinan dengan

kecil-kecilan yang tidak mengurangi nilai pokok dalam ajaran agama, yaitu

disesuaikkan dengan Desa, Kala, dan Patra. Pelaksanaan acara perkawinan yang

berlangsung secara sederhana ini di Bali disebut dengan istilah Byakaonan.

Written by Ningsih

hidup adalah yadnya dan tidak ada yadnya yang sia-sia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lima Pilar Keluarga Sukhinah

Biaya Pernikahan Orang Bali ! HARGANYA WOW cc: ig